Tampilkan postingan dengan label Sumber : Al-Ikhwan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sumber : Al-Ikhwan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Oktober 2010

Jiwa yang Harus – Lebih Dahulu – Berubah

Imam Syahid Hasan Al-Banna
Penterjemah: Abu Ahmad
Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah –nasib- suatu kaum, sehingga mereka yang mau mengubah jiwa mereka sendiri”. (Ar-Ra’ad:11).
Disaat Allah menurunkan Al-Quran kepada nabi Muhammad saw dan para sahabatnya, lalu Nabi saw membacakannya dihadapan bangsa ara, sehingga membuat jiwa mereka seakan tersihir, sehingga pengaruhnya mampu merasuk ke dalam lubuk hati, meresap ke dalam setiap pensendian, mengalir dalam denyut nadi dan melekat dalam ruh dan jiwa, sehingga Allah SWT berkenan mengubah umat tersebut dengan bentuk yang lain, dan memiliki perbedaan yang sangat besar antara bangsa arab saat jahiliyah dengan bangsa arab setelahnya, setelah mendapatkan hidayah Islam.
Al-Quran telah memberikan pengaruh yang sangat besar dalam jiwa kaum musyrikin dan orang-orang beriman secara bersamaan, walaupun pengaruh yang terdapat dalam jiwa orang-orang musyrik hanyalah temporer dan negative. Ada diantara mereka yang lari darinya, dan ada yang membuat penghalang antara mereka dengannya, sebagian mereka berkata kepada yang lainnya : “Janganlan kalian mendengarkan dengan seksama Al-Quran ini dan buatlah menjadi rancu dan simpang siur sehingga kalian mampu mengalahkan mereka”. (Fushilat:26)
Namun orang-orang yang beriman mereka menyimak setiap ucapan dari kalam Allah dan mengikuti yang baik-baik, mereka adalah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang berakal, pengaruh Al-Quran dalam diri mereka selalu positif, saat pergantian, perubahan dan peralihan dari satu kondisi ke kondisi yang lain, bahkan mampu mendorong mereka pada prilaku yang terbaik dan kerja yang konkret.
اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلْ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ
“Allah telah menurunkan Perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun”. (Az-Zumar:23)
قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَى مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ
“Katakanlah: “Hai kaumku, Bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, Sesungguhnya aku akan bekerja (pula), Maka kelak kamu akan mengetahui”. (Az-Zumaar:39)
Al-Quran yang selalu kita baca dan kita dengar dan menjadi wirid harian kita, apakah memberikan pengaruh pada suatu perubahan dan mencetak akhlak pada yang terbaik, serta mengkondisikan hati-hati kita sebagaimana yang mampu diraih oleh pada salafus shalih sebelum kita?
Namun ironinya tidaklah demikian wahai para ikhwan, kita sering membaca Al-Qur’an dengan bacaan yang indah, kata-kata dan seni suara yang beragam indahnya, kemudian setelah itu tidak ada sedikitpun yang membekas kecauali ini (kepuasan suara yang indah), padahal Al-Quran penuh dengan pelajaran dan nilai mulia, seperti arus yang mengalir deras. Namun antara kita dengannya ada hijab, karena itu kita tidak mendapatkan gambaran dari naskah pertama yang dapat memberikan pengaruh dan merubah jiwa kita menjadi yang terbaik, kita saat ini menginginkan tauladan dari para salaf, menginginkan kebangkitan baru dalam jiwa setiap muslim dan umat Islam sehingga menjadi umat Al-Qur’an dan negera –bensendikan- Al-Qur’an.
Apakah kita menjalin komunikasi dengan Al-Qur’an secara intens sehingga mampu membersihkan ruh kita dan merubah jiwa kita menjadi yang terbaik?
Kita saat ini sedang terpengaruh dengan dunia dan terlalu cinta dengannya hingga keseluruh hati dan jiwa kita. Apakah kita pernah mendengar firman Allah SWT yang Maha Tinggi dan Agung :
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنْ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
“Katakanlah: “Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA”. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”. (At-taubah:24).
Dan firman Allah :
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا. وَالآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى
“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal”. (Al-A’la:16-17).
Dan juga firman Allah:
مَا عِنْدَكُمْ يَنفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ
“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal”. (An-Nahl:96).
Padahal seharusnya kita lebih sering terpengaruh dengan apa yang ada disisi Allah daripada apa yang ada dalam jiwa-jiwa kita, dan berambisi untuk mencapai ridha Allah, mengharap ganjaran-Nya yang berlimpah, dan tidak mengeluh terhadap apa yang menimpa kita dalam mengarungi jalan kebenaran yang telah diamanahkan oleh Allah, terutama berbagai siksaan yang menimpa jiwa dan harta kita, dan tidak akan menimpa kita suatu musibah kecuali telah ditulis dan ditentukan oleh Allah kepada kita, dan tidak akan menimpa kita suatu musibah kecuali ada dibaliknya kebaikan:
فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنْ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ. إِنَّمَا ذَلِكُمْ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِي إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. dan Allah mempunyai karunia yang besar. Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (Ali Imran:174-175)
Kita memandang suatu sebab pandangan sebagai sesuatu yang penting, namun mengacuhkan akan hisab kita terhadap kehendak yang Maha Tinggi dan Maha Besar, menolong para pemimpinnya dari arah yang tidak mereka duga dan sangka, mendukung mereka terhadap apa yang disadari oleh manusia atau tidak disadari, karena Allah SWT berfirman :
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. (At-thalaq:2-3).
Dan firman Allah:
وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمْ الْوَارِثِينَ . وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِي الأَرْضِ
“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi). Dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi” (Al-Qashash:5-6)
Dan lain sebagainya dari ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan tentang penyerahan segala perkara kepada Allah baik sebelum kejadian ataupun sesudahnya.
Apakah berubah jiwa kita melalui wahyu rabbani ini yang kit abaca dan kita simak, janji-janji qur’ani, kitab yang diturunkan dari langit, sehingga kita menjadi lebih percaya dan imani terhadap apa yang ada ditangan Allah daripada apa yang ada digenggaman kita?!.
Kadang kita murka dan marah terhadap suatu sebab, bahkan melakukan pemutusan dan makar dengan ada sebab atau tanpa sebab, kita terpecah belah oleh karena perbedaan pendapat, keinginan, syahwat, perseteruan dan dunia, padahal hiasan dunia pasti akan hilang, sedangkan wahm dan angan-angan kebanyakannya adalah bathil, dan tujuan yang gagal pasti akan sirna, sementara itu Allah berfirman :
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara”. (Ali Imran:103)
Dan firman Allah :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya, hanyalah orang-orang yang beriman yang bersaudara”. (Al-hujurat:10)
Dan firman Allah :
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ
“Dan orang-orang beriman laki-laki dan perempuan, satu sama lainnya saling membantu dan menolong”. (At-taubah:71)
Maka apakah kita mendapatkan pengaruh dengan khitab Al-Qur’an yang mulia sehingga melupakan kedengkian dan kebencian, dan membersihkan jiwa-jiwa dan dada-dada kita, bersatu dalam satu kalimat Allah dan menjadi saudara karena Dzat-Nya, saling mencintai dengan ruh-Nya, dan saling tolong menolong berharap ridha-Nya, karena sesungguhnya Allah SWT berfirman :
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ. الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ. إِلاَّ عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ.فَمَنْ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمْ الْعَادُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ لأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ. أُوْلَئِكَ هُمْ الْوَارِثُونَ. الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu. Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka Itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. mereka kekal di dalamnya”. (Al-Mu’minun:1-11)
Maka dimanakah posisi kita dari sifat-sifat yang mulia dan karakter yang indah seperti yang telah digambarkan oleh Allah terhadap hamba-hamba-Nya yang beriman.
Tunduk dan khusyu’ dalam shalat dan menjaga atasnya, menjauhkan perkataan yang melalaikan, beraktivitas untuk menghindar dari apa yang tidak bermanfaat dan berfaedah; baik yang kecil ataupun yang besar, menunaikan zakat; zakat fitrah, zakat maal untuk memberikan jaminan bagi kelompok yang harus dilindungi, membersihkan harta, mencegah fitnah dan berbuat baik kepada para fuqoro dan miskin.
Menjaga kemaluan dan memeliharanya dari perbuatan yang tidak halal, dan menjaga semua anggota tubuh dari hal-hal yang berhubungan dengannya; mata, telinga, mulut, hidung, tandan dan kaki. Menjaga kemaluan untuk kesucian perasaan, ketinggian ruh, kebersihan jiwa dan menjaga kehormatan, menghadang syaitan, mendapatkan ridha dari yang Maha Kasih, menunaikan amanah, memenuhi janji dan melaksanakan untuk kebenaran, mempersiapkan jiwa, memperbanyak ketsiqohan, menegakkan untuk keseimbangan saling mengenal dan saling tolong sesama manusia.
Dimana posisi kita saat ini dari sifat dan karakter yang disebutkan Al-Quran, yang telah mencetak generasi yang beriman dan jujur, dan yang telah menelurkan para ulama salaf, sehingga mereka menjadi sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia?!
Demikianlah contoh dari ajaran-ajaran yang mampu mencetak jiwa ulama salaf, sehingga selayaknya mereka dijadikan sebagai cermin dan cahaya yang bersinar terang benderang untuk umat manusia seluruhnya, dan sebagai petunjuk menuju jalan yang lurus.
Apakah jiwa-jiwa kita mampu berubah sehingga dapat merubah kondisi, keadaan dan lingkungan serta masyarakat kita?
Ya Allah kabulkan permohonan kami dan terimalah serta jawablah seruan kami… amin

Mujahadatunnafs (Mengendalikan Diri)

Di dalam kehidupan ini setiap insan bertarung dengan dirinya sendiri. Adakalanya ia menang dan adakalahnya ia kalah atau ia tetap dalam pertarungan yang
tiada henti. Memang pertarungan ini tidak akan berhenti sehingga ajal
menjemputnya. Allah Berfirman:
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا. َفَأْلهَمَهَا ُفجُورَهَا وَتَقْوَاهَا. قدْ َأفَْلحَ مَنْ زَكَّاهَا وََقدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Demi diri manusia dan Yang menyempurnakan kejadiannya (dengan kelengkapan yang sesuai dengan keadaannya); Serta mengilhamkannya (untuk mengenal) jalan yang membawanya kepada kejahatan, dan yang membawanya kepada takwa; Sesungguhnya bahagialah orang yang menjadikan dirinya bersih dan bertambah bersih (dengan iman dan amal kebajikan), Dan sesungguhnya hampalah orang yang menjadikan dirinya kotor dan terbenam dalam kekotoran maksiat. (Asy-Syams:7-10)
Inilah yang terkandung dalam sabda yang diisyaratkan oleh beliau saw:
تعرض الفتن على القلوب كالحصير عودا عودا فأيما قلب أشرﺑﻬا نكت فيها نكتة السوداء وأيما قلب أنكرها نكت فيها نكتة بيضاء حتى تصير على أحد قلبين :على أبيض مثل الصفاة فلا تضره فتنة والآخر أسود مربادا لا يعرف معروفا ولا ينكر منكرا
Fitnah akan melekat di hati manusia bagaikan tikar yang dianyam secara tegak-menegak antara satu sama lain. Hati yang dihinggapi oleh fitnah, niscaya akan terlekat padanya bintik-bintik hitam. Begitu juga jika hati yang tidak dihinggapinya, akan terlekat padanya bintik-bintik putih sehingga hati tersebut terbahagi dua: Sebagiannya menjadi putih bagaikan batu licin yang tidak lagi terkena bahaya fitnah, selama langit dan bumi masih ada. Adapun sebagian yang lain menjadi hitam keabu-abuan seperti bekas tembaga berkarat, tidak menyuruh pada kebaikan dan tidak pula melarang kemungkaran. (Muslim dari Huzaifah bin Yaman)
Dalam pertarungan menghadapi nafsu manusia terbagi pada 3 golongan:
1. Golongan yang tunduk mengikut hawa nafsu mereka.
Mereka hidup dengan kemaksiatan di atas muka bumi ini dan ingin hidup kekal di dunia. Mereka adalah orang-orang kafir dan orang yang mengikuti jejak langkah mereka. Golongan ini lupa dan lalai (kebesaran dan nikmat) Allah, lalu Allah juga membiarkan mereka. Di dalam Al-Quran Allah menyifatkan mereka sebagai orang yang mempertuhankan hawa nafsu, Allah berfirman:
َأَفرََأيْتَ مَنِ اتَّخَذ إَِلهَهُ هَوَاهُ وََأضَلَّهُ اللَّهُ عََلى عِلْمٍ وَخَتَمَ عََلى سَمْعِهِ وََقلْبِهِ وَجَعَ َ ل عََلى بَصَرِهِ غِشَاوًَة َفمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ َأَفَلا تَذَكَّرُون
“Dengan yang demikian, bagaimana fikiranmu (wahai Muhammad) terhadap orang yang menjadikan hawa nafsunya: Tuhan yang dipatuhinya dan dia pula disesatkan oleh Allah karena diketahui-Nya (Bahwa dia tetap kufur ingkar) dan ditulikan pula atas pendengarannya dan hatinya serta ada lapisan penutup atas penglihatannya? Maka siapakah lagi yang dapat memberi hidayat petunjuk kepadanya sesudah Allah (menjadikan dia demikian)? Oleh karena  itu, mengapa kamu (wahai orang-orang yang ingkar) tidak ingat dan insaf?. (Al-Jathiyah:23)
2. Golongan yang bermujahadah dan bertarung menentang hawa nafsunya.
Dalam menentang hawa nafsunya ada kalanya golongan ini mencapai kemenangan dan ada kalanya mereka kalah. Namun apabila terlibat dalam kesalahan mereka segera bertaubat. Begitu juga bila mereka melakukan maksiat mereka segera sadar dan menyesal serta memohon ampun kepada Allah. Allah berfirman:
وَالَّذِينَ إِ َ ذا َفعَلُوا فَاحِشًَة َأوْ َ ظَلمُوا َأنْفُسَهُمْ َ ذ َ كرُوا اللَّهَ فَاسْتَغَْفرُوا لِ ُ ذنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وََلمْ يُصِرُّوا عََلى مَا َفعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُو ن
“Dan juga orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka segera ingat kepada Allah lalu memohon ampun akan dosa mereka dan sememangnya tidak ada yang mengampunkan dosa-dosa melainkan Allah dan mereka juga tidak meneruskan perbuatan keji yang mereka telah lakukan itu, sedangkan mereka mengetahui (akan salahnya dan akibatnya). (Ali Imran :135)
3. Golongan yang berada dalam genggaman syetan dan hawa nafsu sebagaimana bola berada di tangan anak kecil. Mereka menyerah diri mereka bulat-bulat kepada syetan dan hawa nafsu.
Inilah golongan yang dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya:
كل بني آدم خطاء وخيرا الخطاءين التوابون
“Setiap anak Adam (manusia) itu melakukan kesalahan, sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan (dosa) ialah mereka yang bertaubat. (Ahmad dan Tirmizi)
Sehubungan dengan pengertian inilah diriwayatkan satu kisah oleh Wahab Bin Munabbih yang mengatakan: “Sesungguhnya Iblis pernah bertemu dengan Nabi Allah Yahya bin Zakaria a.s, lalu Nabi Zakaria a.s berkata kepada Iblis: “Ceritakan kepadaku tabiat perangai manusia menurut pandangan kamu”. Lalu Iblis menjawab:
1. Golongan pertama dari manusia ialah seperti kamu ini. Mereka ini terpelihara (dari kejahatan dan dosa).
2. Golongan yang kedua adalah mereka yang berada dalam genggaman kami sebagaimana bola berada di tangan anak-anak kamu. Mereka menyerah diri mereka bulat-bulat kepada kami.
3. Golongan yang ketiga ialah golongan yang sangat sukar untuk kami kuasai mereka. Kami menemui salah seorang dari mereka dan kami berhasil memperdayakannya dan mencapai hajat kami tetapi ia segera memohon ampun (bila ia sadar) dan dengan istighfar itu rusaklah apa yang kami dapati darinya. Maka kami tetap tidak berputus asa untuk menggodanya dan kami tidak akan mendapati hajat kami tercapai.
Sendi-sendi Kekuatan Dalam Memerangi Nafsu.
1. Hati:
Hati akan menjadi benteng yang kuat dalam memerangi nafsu ketika hati itu hidup, lembut, bersih. Sayidina Ali dalam pesannya mengatakan:
“Sesungguhnya Allah SWT mempunyai bejana di atas buminya yaitu hati-hati … maka hati yang paling disukai oleh Allah SWT ialah hati yang lembut, bersih dan teguh. Kemudian Sayidina Ali mentafsirkan (kalimat tersebut dengan) katanya: terguh dalam berpegang pada agama Allah, bersih di dalam keyakinan dan lembut terhadap saudara-saudara mukmin.
Sayidina Ali juga berkata: “Hati seorang mukmin itu bersih, terdapat padanya pelita yang bercahaya. Hati seorang kafir itu hitam serta berpenyakit”.
Al-Quran Al-Karim memberi gambaran tentang hati orang-orang mukmin seperti Allah Berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُو َ ن الَّذِينَ إِ َ ذا ذُكِرَ اللَّهُ وَجَِلتْ قُلُوبُهُمْ وَإِ َ ذا تُلِيَتْ عََليْهِمْ ءَايَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا
“Orang-orang yang beriman itu (yang sempurna imannya) ialah mereka yang apabila disebut nama Allah (dan sifat-sifatNya) gemetarlah hati mereka; dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, menjadikan mereka bertambah iman mereka. (Surah Al-Anfal 8: Ayat 2)
Dalam menggambarkan sifat-sifat hati orang kafir pula Allah menjelaskan:
َفإِنَّهَا َلا تَعْمَى اْلَأبْصَارُ وََلكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
“Karena keadaan yang sebenarnya bukanlah mata kepala yang buta, tetapi yang buta itu ialah mata hati yang ada di dalam dada. (Al-Hajj: 46)
Allah juga berfirman:
َأَفَلا يَتَدَبَّرُو َ ن الُْقرْءَا َ ن َأمْ عََلى ُقُلوبٍ َأقَْفاُلهَا
“(Setelah diterangkan yang demikian) maka adakah mereka sengaja tidak berusaha memahami serta memikirkan isi Al-Quran? Atau telah ada di atas hati mereka kunci penutup (yang menghalangnya daripada menerima ajaran Al-Quran)?. (Muhammad :24)
2. Akal:
Akal adalah (ciptaan Allah) yang dapat melihat, mempunyai daya memahami sesuatu, mampu membedakan dan dapat menyimpan sesuatu pemahaman dari ilmu-ilmunya di mana dengan ilmu itu kelak ia dapat mendekatkan diri dengan Allah, mengetahui keagungan Allah serta kekuatan-Nya. Akal seperti inilah yang dimaksudkan oleh Allah Berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
“Sebenarnya yang menaruh bimbang dan takut (melanggar perintah) Allah dari kalangan hamba-hambaNya hanyalah orang-orang yang berilmu. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, lagi Maha Pengampun. (Fatir:28).
Rasulullah saw menyebut betapa tingginya nilai akal ini dalam sabdanya:
ما خلق الله خلقا أكرم عليه من العقل
“Allah tidaklah mencipta suatu kejadian yang lebih mulia dari akal”. (At-Tirmizi al-hakim dalam “An-Nawadir” dengan sanad dha’if.)
Rasulullah saw berpesan kepada Sayidina Ali Karramallahu wajhah:
إذ تقرب الناس إلى الله تعالى بأنواع البر فتقرب أنت بعقلك
“Apabila manusia mendampingi Allah dengan melakukan berbagai amalan kebajikan maka engkau dampingilah Allah dengan akal fikiran engkau”. (An-Nu’aim dalam “Hilyah” dengan sanad dha’if.)
Beliau juga bersabda:
ما اكتسب رجل مثل فضل عقل يهدي صاحبه إلى هدى ويرده عن ردي
“Tidaklah beruntung seorang lelaki (dengan satu pemberian) dibandingkan dengan kelebihan karunia akal yang dapat membimbing pemiliknya kepada petunjuk dan menahannya dari perkara yang buruk”. (Al-Mujbir)
Oleh karena betapa tingginya nilai akal, maka Islam menganjurkan agar akal diisi dengan ilmu dan ma’rifah serta mendalami segala urusan agama agar dengan ilmu-ilmu itu akal menjadikannya sebagai sebab akibat yang memandu segala tindakan, membedakan di antara yang buruk dengan yang baik, di antara yang hak dengan yang batil sebagaimana Rasulullah saw bersabda:
من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين
“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan pada dirinya diberikan kefahaman yang mendalam dalam agama”. (Bukhari dan Muslim)
Sabda beliau lagi:
فضل العالم على العابد كفضلي على أدنى رجل من أصحابي
“Kelebihan (keutamaan) seorang ‘alim atas seorang ‘abid (ahli ibadah) adalah seperti kelebihanku atas orang yang paling rendah dari sahabat-sahabatku”.
Semua ini membuktikan betapa tingginya nilai dan kedudukan  akal dalam proses membina kekuatan insan di dalam diri manusia. Dengannya manusia dapat mengenali serta dapat menyelami hakikat alam semesta dan rahasianya.
Oleh yang demikian akal seorang mukmin itu adalah akal fikiran yang waras, dapat membedakan buruk dan baik, halal dan haram, kebaikan dan kemungkaran karena ia melihat segala perkara dengan cahaya Allah yang dapat menembus dibalik tutupan yang halus. Allah Berfirman:
وَمَنْ َلمْ يَجْعَلِ اللَّهُ َلهُ نُورًا َفمَا َلهُ مِنْ نُورٍ
“Dan (ingatlah) Barangsiapa yang tidak dijadikan Allah menurut undang-undang peraturanNya mendapat cahaya (hidayat petunjuk) maka dia tidak akan beroleh sebarang cahaya (yang akan memandunya ke jalan yang benar). (An-Nur :40).
Cahaya akal seseorang mukmin itu senantiasa bersinar, tidak dapat dipadamkan kecuali oleh kerja-kerja maksiat yang terus menerus, dilakukan pula secara terang-terangan dan tidak pula diikuti dengan taubat. Rasulullah saw menjelaskan:
لولا أن الشياطين يهمون على قلوب بني آدم لنظروا إلى ملكوت السموات والأرض
“Kalaulah tidak karena syaitan-syaitan itu mengelilingi hati anak-anak Adam niscaya mereka dapat melihat (merenung) kerajaan Allah di langit dan di bumi”. (Imam Ahmad daripada Abu Hurairah)
Anas bin Malik r.a menceritakan:
لما دخلت على عثمان رضى الله عنه وكنت قد لقيت إمرأة في طريقي فنظرت إليها شزرا وتأملت محاسنها فقال عثمان لما دخلت: يدخل أحدكم وآثر الزنا على عينيه أما علمت أن زنا العينين النظر؟ لتتوبن أو لأعزرنك؟ فقلت أوحى بعد النبي؟ فقال: لا ولكن بصيرة وبرهان وفراسة صادقة
“Semasa aku masuk menemui Usman bin Affan r.a aku bertemu seorang wanita dalam perjalanan, lalu aku sempat mengerling memandangnya dan tertarik kepada kecantikannya. Lalu semasa aku menemuinya Othman berkata kepadaku: “Seorang dari kamu menemuiku sedangkan kesan zina kelihatan pada kedua matanya”. Adakah engkau mengetahui Bahwa zina mata itu ialah memandang? Hendaklah kamu bertaubat atau aku akan mengenakan hukuman takzir. Lalu akupun bertanya? Adakah lagi wahyu (kepadamu) selepas Nabi? Maka Othman menjawab: “Tidak, tetapi (dengan pandangan) basirah hati burhan dan firasat yang benar”.
Tanda-tanda matinya Jiwa
Apabila hati manusia telah mati atau menjadi keras, apabila hati manusia telah menjadi padam dan tidak bersinar lagi atau apabila ia telah tumpas dalam pertarungannya menghadapi syaitan maka terbukalah pintu-pintu masuk segala kejahatan terutama ke dalam dirinya, karena syaitan itu meresap ke dalam diri anak Adam sebagaimana pengaliran di dalam tubuhnya.
Sebenarnya apabila benteng pertahanan dan kekuatan manusia telah runtuh maka syaitan akan kembali menjadi teman karibnya sebagaimana Allah Berfirman:
اسْتَحْوَ َ ذ عََليْهِمُ الشَّيْطَا ُ ن َفَأنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ
“Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa kepada Allah”. (Al-Mujadalah:19)
Inilah kandungan maksud yang dibayangkan oleh Al-Quran Al-Karim yang menyatakan: Kisah ini di sebut oleh at-Tajas-Subki dalam “At-Tabaqat”. Lihat Tafsir Ibn. Kathir; surah al-Hijr: 75.
قَا َ ل َفبِمَا أغوَيْتَنِي َلَأقْعُدَنَّ َلهُمْ صِرَا َ طكَ اْلمُسْتَقِيمَ ُثمَّ َلآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ َأيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ َأيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وََلا تَجِدُ َأكَْثرَهُمْ شَاكِرِينَ
“Iblis berkata: Oleh karena Engkau (wahai Tuhan) menyebabkan daku tersesat (maka) demi sesungguhnya aku akan mengambil tempat menghalangi mereka (dari menjalani) jalanMu yang lurus; Kemudian aku datangi mereka, dari hadapan mereka serta dari belakang mereka, dan dari kanan mereka serta dari kiri mereka dan Engkau tidak akan dapati kebanyakan mereka bersyukur. (Al-A’raf:16-17)
Sebenarnya selain dari penyakit di atas terdapat satu penyakit lain yang paling berbahaya iaitu penyakit was-was, syaitan menyebabkan mereka merasa was-was dalam setiap urusan hidup mereka dengan tujuan memnyimpangkan mereka dari jalan Allah. Dalam hal ini Rasulullah bersabda:
إن الشيطان قعد لإبن آدم بطريق فقعد له بطريق الإسلام فقال: أتسلم وتركت دينك ودين آبائك؟ فعصاه وأسلم ثم قعد له بطريق الهجرة فقال: أﺗﻬاجر؟ أتدع أرضك وسماءك؟ فعصاه وهاجر ثم قعد له بطريق الجهاد فقال: أتجاهد وهو تلف النفس والمال فتقاتل فتقتل فتنكح نساؤك
“Sesungguhnya syaitan itu menghasut anak Adam dengan berbagai cara. Lalu (pertamanya) ia menghasut melalui jalan agama Islam itu sendiri dengan berkata: Apakah kamu menganut Islam dan meninggalkan agamamu dan agama nenek moyangmu? Anak Adam enggan mengikutinya dan tetap berpegang dengan Islam. Kemudian dia menghasut pula di jalan hijrah, lalau dia berkata: Adakah anda ingin berhijrah meninggalkan tanah air dan kampung halaman? Lalu anak Adam mengingkarinya dan tetap berhijrah. Kemudian syaitan menghasut pula di jalan jihad dengan berkata: “Adakah engkau ingin sedangkan jihad itu membinasakan jiwa dan harta benda engkau, kemudian engkau berperang lalu engkau dibunuh, kemudian isteri engkau dikahwini orang dan harta kekayaan engkau dibahagi-bahagikan. Lalu anak Adam tetap mengingkari syaitan dan terus berjihad. Kemudian Rasulullah saw bersabda: Maka Barangsiapa yang bersikapdemikian kemudian ia mati maka adalah hak Allah SWT memasukkannya ke dalam syurga”. (An-Nasa’i)
Alangkah baiknya jikalau anda dapat menatap kisah antara syaitan dan seorang Rahib Bani Israil dalam tafsir ayat Surah Al-Hasyr 59: Ayat 16.
َ كمََثلِ الشَّيْطَانِ إِ ْ ذ قَا َ ل لِْلإِنْسَانِ ا ْ كُفرْ َفَلمَّا َ كَفرَ قَا َ ل إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكَ إِنِّي َأخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَاَلمِينَ
“Bujukan orang-orang munafik itu) samalah dengan (pujukan) syaitan ketika dia berkata kepada manusia: Kufurlah kamu. Maka tatkala manusia itu telah kafir dia berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam”.
Cara-cara Menghalang Godaan Syaitan.
Bagi setiap manusia yang ingin menghadapi hasutan syaitan dan serangan-serangan Iblis, Islam telah menunjukkan kepada manusia berbagai perkara yang dapat membantunya bertahan menghadapi pertarungan dengan syaitan sehingga berhasil menewaskan musuh ketatnya itu. Cara tersebut telah dirumuskan oleh seorang dari para salihin dengan katanya:
“Saya telah merenung dan memikirkan cara-cara dari pintu manakah syaitan masuk ke dalam diri manusia, ternyata ia masuk ke dalam diri melalui sepuluh pintu:
1. Tamak dan buruk sangka, maka aku menghadapinya dengan sifat menaruh kepercayaan dan berpangku dengan apa yang ada.
2. Cinta kehidupan dunia dan panjang angan-angan, lalu aku menghadapinya dengan perasaan takut terhadap kedatangan maut yang bisa terjadi kapan saja waktunya.
3. Cinta kemewahan dan foya-foya, lalu aku menghadapinya dengan keyakinan bahwa kenikmatan itu akan hilang dan balasan buruk pasti menanti.
4. Kagum terhadap diri sendiri (‘Ujub), lantas aku menghadapinya dengan rasa berhutang budi kepada Allah dan kepada akibat yang buruk.
5. Memandang rendah terhadap orang lain dan tidak menghormati mereka, lalu aku menghadinya dengan mengenali hak-hak mereka serta menghormati mereka secara wajar.
6. Hasad (dengki), lalu aku menghadapinya dengan sifat qana’ah dan ridha terhadap karunia Allah kepada makhluknya.
7. Riya’ dan suka pujian orang. Lalu aku menghadapinya dengan ikhlas.
8. Bakhil (kikir), lalu aku menghadapinya dengan menyadari bahwa apa yang ada pada makhluk akan binasa dan yang kekal itu berada di sisi Allah.
9. Takabbur (membesarkan diri), lalu aku menghadapinya dengan rasa tawadhu’.
10. Tamak, lalu aku menghadapinya dengan mempercayai ganjaran yang disediakan di sisi Allah dan tidak tamak terhadap apa yang ada di sisi manusia.
Di antara arahan-arahan yang di anjurkan oleh Islam sebagai jalan untuk mengelak serangan dan tipu daya syaitan ialah agar senantiasa seseorang itu mengingat Allah pada setiap memulai pekerjaan.
Satu riwayat dari Abu Hurairah menyebutkan:
“Syaitan bagi orang-orang mukmin telah bertemu syaitan bagi orang-orang kafir, lalu di dapati syaitan bagi orang-orang kafir dalam keadaan gemuk montel sedangkan syaitan bagi orang-orang mukmin dalam keadaan kurus kering bertelanjang dan kusut masai. Lalu syaitan bagi orang-orang kafir itu bertanya kepada syaitan bagi orang-orang mukmin: Kenapa kamu kurus kering?. Lalu ia menjawab: “Aku bersama seorang lelaki yang apabila ia makan ia menyebut nama Allah, lalu aku terus kelaparan, apabila ia minum ia menyebut nama Allah, lalu aku terus dalam keadaan dahaga, apabila ia memakai pakaian ia menyebut nama Allah menyebabkan aku terus bertelanjang. Apabila ia memakai minyak rambut juga ia menyebut nama Allah menyebabkan aku terus kusut masai”.
Kemudian syaitan bagi orang-orang kafir itu berkata: “Tetapi aku bersama lelaki yang tidak berbuat demikian sedikitpun, maka aku bisa mendapat makan, minum dan pakai dengannya”.
Di antara cara-cara untuk dijadikan kubu pertahanan menghadapi tipu daya dan godaan syaitan ialah dengan cara:
1. Janganlah terlalu kenyang apabila makan meskipun menghadapi makanan yang baik dan halal karena Allah berfirman:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وََلا تُسْرِفُوا
“Makanlah dan minumlah, tetapi jangan kamu berlebihan”. (Al-A’raf : 31)
Rasulullah saw juga bersabda mengingatkan, maksudnya:
“Sesungguhnya syaitan itu berjalan dalam tubuh anak Adam mengikut perjalanan darah. Oleh itu sempitkanlah pintu masuknya dengan kelaparan”. (Ahmad)
2. Membaca Al-Quran, berzikir mengingati Allah dan memohon ampunan sebagaimana yang diperintah oleh Rasulullah saw:
“Sesungguhnya syaitan itu meletakkan belalainya ke atas hati anak Adam, maka jika ia mengingati Allah ia pun lari daripadanya, jika sekiranya ia lupakan Allah syaitan akan mengunyah hatinya”. (Ibnu Abi Dunya)
3. Tidak tergopoh gopoh dalam sembarang pekerjaan karena mengingati pesanan Rasulullah saw:
“Bergopoh-gopoh (terburu-buru) itu adalah dari syaitan dan berhati-hati itu dari Allah”. (ibn Abi Shaibah, Abu Ya’la dan al-Baihaqi. At-Tirmizi meriwayatkan Hadits sepertinya dan Al-Albani mengetakan :Snadnya Hasan.)
Sebenarnya ruang ini adalah terbatas untuk menyebutkan semua sebab, amalan dan pesan-pesan yang dianjurkan oleh Islam untuk menjaga diri dari serangan dan godaan syaitan. Marilah kita melihat Allah Berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ اتََّقوْا إِ َ ذا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَ َ ذكَّرُوا َفإِ َ ذا هُمْ مُبْصِرُو َ ن
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, apabila mereka disentuh oleh sesuatu imbasan hasutan dari Syaitan, mereka ingat (kepada ajaran Allah) maka dengan itu mereka nampak (jalan yang benar). (Al-A’raf :201)

Minggu, 05 September 2010

Etika Timbal-balik Antara Pemimpin & Bawahan Menurut Al-Qur’an & As-Sunnah yang Shahih

Assalamu ‘alaykum,
Segala puji adalah hanya layak bagi ALLAH, kami memuji-NYA, meminta pertolongan kepada-NYA & meminta ampunan, dan kami berlindung dari keburukan hawa nafsu kami dan dari kejelekan amal-amal kami, barangsiapa diberi hidayah oleh ALLAH maka tiada yang dapat menyesatkannya & barangsiapa yang disesatkan ALLAH maka tiada yang dapat memberinya hidayah…
Dan kami bersaksi bahwa tiada Ilah kecuali ALLAH, Yang Maha Esa & tiada sekutu bagi-NYA, dan kami bersaksi bahwa Muhammad adalah Nabi & rasul-NYA. Kamipun bersaksi sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabuLLAAH & sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi SAW, dan seburuk-buruk urusan adalah yang dibuat-buat, dan semua yang dibuat-buat itu adalah bid’ah & semua bid’ah adalah sesat & semua kesesatan adalah di neraka…
Ikhwah wa akhwat fiLLAAH a’anakumuLLAAHa jami’an,
Menyambut mulai masuknya sebagian du’at ke marhalah daulah & makin banyaknya ikhwah wa akhwat yang menduduki posisi-posisi penting dalam pemerintahan (baik eksekutif maupun legislatif), dan semakin hari semakin banyak amanah kekuasaan yang diujikan oleh ALLAH SWT untuk dipegang oleh para du’at dari harakah ini, maka ada beberapa dhawabith kepemimpinan Islam yang merupakan ashalah da’wah kita, yang hendaknya selalu dijaga & diperhatikan..
Agar dijadikan sebagai Ma’alim Fi Thariq (Rambu-rambu dalam Perjalanan), demikian kata Sayyid Quthb -ja’alahuLLAAHu syahidan- atau sebagai Nurun ‘ala Darb (Cahaya dalam Perjalanan), demikian kata Syaikh Ibni Baaz -rahimahuLLAAH-; sehingga kita tidak menjadi ghurur (lupa diri), ataupun terjadi tamyi’ (pengenceran) terhadap nilai-nilai dakwah ini saat mengemban amanah memimpin ummat ini insya ALLAH, aamiin ya RABB…
Oleh sebab itu ana berusaha membuat tulisan ini untuk mencoba menjelaskan secara singkat Etika Kepemimpinan dalam Islam, serta Etika yang Saling Timbal-Balik, apa yang harus dilakukan & dipenuhi oleh seorang qiyadah (baik qiyadah dakwah maupun qiyadatul ummah), dan apa saja yang wajib dipenuhi oleh seorang jundiyyah (baik junudu dakwah maupun junudu daulah), sehingga mudah-mudahan kita selalu berada di dalam jalur yang benar & berhak mengharapkan ridha ALLAH & Jannah kelak, sebagai pemimpin ummat yang adil yang paling pertama akan diberi naungan oleh ALLAH SWT di yaumil Mahsyar kelak, aamiin ya RABB…
Wa ufawwidhu amrii ilALLAAH innaLLAAHa bashiirun bil ‘Ibaad,
Abi AbduLLAAH
—
AL-ADAAB AL-MUTABAADILAH BAYNA AL-QIYAADAH WAL JUNDIYYAH FII DHAU’IL KITAABI WAS SUNNAH
(Etika Timbal-balik Antara Pemimpin & Bawahan Menurut Al-Qur’an & As-Sunnah yang Shahih)

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban atas orang-orang yang dipimpinnya di Hari Kiamat kelak.[1]”
1. KEPEMIMPINAN DALAM LUGHAH:
a. Imam: Asal katanya ‘Amama’ karena ia: Berada di depan (amam), mengasuh (ummah), menyempurnakan (atammah), menenangkan (yanamma). Berkata Imam Al-Jauhary : Imam adalah orang yang memberi petunjuk (yuqtada)[2].
b. Amir: Yang memberi perintah (seperti dalam ayat : Amarna mutrafiha), juga sesuatu yang mengagumkan (seperti dalam ayat : laqad ji’ta syai’an imra)[3].
c. Waliyy: Dekat, akrab (Jalasa mimma yali=duduk dengan orang didekatnya); tempat memberikan loyalitas (ALLAHumma man waliya min amri ummati)[4].
d. Qadah/qiyadah: Penggiring ternak, orang yang memberi petunjuk, pemandu atau penunjuk jalan[5].
e. Khalifah: Para fuqaha’ mendefinisikannya sbg suatu kepemimpinan umum yg mencakup urusan keduniaan & keagamaan, sbgm yg dilakukan oleh Nabi SAW yg wajib dipatuhi oleh seluruh ummat Islam. Menurut Imam Al-Mawardi sama dengan al-Imamah, karena inilah asal dari kepemimpinan di masa Nabi SAW, yaitu untuk memimpin agama & keduniaan[6]. Menurut Ibnu Khaldun yaitu penanggungjawab umum dimana seluruh urusan kemaslahatan syari’at baik ukhrawiyyah maupun dunyawiyyah kembali kepadanya[7].
2. KEPEMIMPINAN DALAM AL-QUR’AN:
a. Memiliki Loyalitas yang Mutlak: “Sesungguhnya pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi Pemimpinnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.[8]”
b. Kuat & Amanah: “Berkata salah seorang diantara anaknya (Syu’aib) : Wahai ayahanda, jadikanlah ia sebagai pegawai, karena sebaik-baik pegawai adalah yang kuat lagi bisa dipercaya.[9]”
c. Sehat & Berilmu: “…Sesungguhnya ALLAH SWT telah memilihnya (Thalut) sebagai rajamu, karena ia memiliki kekuatan fisik dan berilmu. Sesungguhnya ALLAH memberikan kekuasaan-NYA kepada siapa yang dikehendaki-NYA, sesungguhnya IA Maha Luas (ilmu-NYA) lagi Maha Mengetahui.[10]”
d. Merupakan Ujian ALLAH SWT: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: Sesungguhnya AKU akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia. Ibrahim berkata: (Dan saya mohon juga) dari keturunanku. Allah berfirman: Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zhalim.[11]“
e. Merupakan Tanda Ketaqwaan: “Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.[12]”
3. KEPEMIMPINAN DALAM AS-SUNNAH:
a. Jujur dan Tidak Menipu: Nabi SAW melaknat pemimpin yang dipercaya untuk mengurus urusan ummat lalu ia malah menipu atau menyengsarakan mereka, sebagaimana dalam sabdanya SAW : “Ya ALLAH, siapa saja yang diberikan kekuasaan untuk mengurusi ummatku lalu ia menyengsarakan mereka, maka persulitlah ia. Dan siapa saja yang diberi kekuasaan lalu ia mempermudah mereka, maka mudahkanlah ia.[13]” Dan Islam menyatakan bahwa pemimpin yang tidak memperhatikan kebutuhan, kedukaan dan kemiskinan ummat maka ALLAH SWT tidak akan memperhatikan kebutuhan, kedukaan dan kemiskinannya pada Hari Kiamat kelak[14].
b. Adil & Amanah: Islam menempatkan pemimpin yang adil dan amanah dalam derajat manusia yang tertinggi, yang memperoleh berbagai penghargaan dan kehormatan. Diantaranya ia termasuk kelompok pertama yang dinaungi oleh ALLAH SWT diantara 7 kelompok utama yang dinaungi-NYA pada Hari Kiamat kelak[15]; Iapun akan berada di atas mimbar dari cahaya nanti di Hari Kiamat[16]; Dan pemimpin yang demikianlah yang akan senantiasa dicintai dan didoakan oleh rakyatnya karena kebijaksanaannya memimpin rakyatnya[17]; Sehingga dalam salah satu haditsnya, nabi SAW sampai menyatakan bahwa pemimpin yang demikian termasuk 3- golongan manusia yang paling utama dan paling berhak masuk Jannah, disamping orang yang lembut dan penyayang pada keluarganya dan orang miskin yang menjaga dirinya dari meminta-minta[18].
c. Tidak Wajib Taat pada Pemimpin yang Memerintahkan Maksiat: Oleh karena itu di dalam Islam pemimpin yang memiliki sifat-sifat sebagaimana disebutkan diataslah yang berhak dan wajib untuk ditaati (Tafsir QS An-Nisaa’, 4:59), syarat taat pada pemimpin dalam ayat tersebut adalah mu’allaq/tergantung pada apakah ia taat pada ALLAH SWT dan Rasul SAW atau tidak, dimana cirinya adalah ia senantiasa kembali kepada ALLAH SWT dan rasul-NYA SAW jika terjadi perbedaan pendapat ataupun perselisihan) dan bukan pemimpin yang memiliki sifat sebaliknya, jika ia memiliki sifat sebaliknya maka tidak wajib sama sekali untuk didengar dan ditaati[19].
d. Tidak ada Batasan Ras/Kebangsaan: Tentang siapa pemimpin itu Islam tidak membatasi ia dari ras dan kelompok apapun, asal mengikuti dan menegakkan syariat maka wajib ditaati, sekalipun ia adalah seorang yang berkulit sangat hitam yang kepalanya bagaikan kismis (saking hitamnya)[20]. Kendatipun demikian, afdhal memilih pemimpin disesuaikan dengan suku/kebangsaan rakyat yg dipimpinnya[21].
e. Pemimpin Wajib Memilih Bawahan yang Jujur: Seorang pemimpin yang adil tentunya akan memilih pembantu-pembantu, wakil-wakil dan menteri-menteri yang adil pula. Tidak mungkin seorang yang baik (tanpa keterpaksaan) akan mengangkat atau memilih wakil dan menteri yang merupakan para musuh ALLAH SWT, seperti para koruptor, kaum oportunis apalagi para kolaborator asing[22]. Benarlah pernyataan pemimpin abadi kita nabi Muhammad SAW : “Jika ALLAH SWT menghendaki kebaikan kepada seorang penguasa, maka IA akan memberikan untuknya menteri-menteri yang jujur, (yaitu) yang jika ia khilaf maka selalu mengingatkan dan jika ia ingat maka selalu dibantu/didorong. Dan jika ALLAH SWT menghendaki keburukan kepada seorang penguasa, maka IA akan memberikan untuknya para menteri yang jahat. Jika penguasa itu lupa, maka tidak diingatkan dan jika ia ingat maka tidak didorong/dibantu.[23]”
4. KEWAJIBAN TAAT PADA PEMIMPIN YANG ISLAMI:
a. Wajib Taat pada Pemimpin yang Islami: Bersabda Nabi SAW : “Barangsiapa yg taat kepadaku maka ia telah taat kepada ALLAH, dan barangsiapa yg tidak taat kepadaku maka berarti tidak taat kepada ALLAH. Barangsiapa yg taat kepada Pimpinan (yg nyunnah) maka berarti ia telah taat kepadaku, dan barangsiapa yg tidak taat kepada pimpinan (yg nyunnah) maka berarti ia telah tidak taat kepadaku.[24]”
b. Ketaatan tersebut tetap Berlaku Walaupun Di Satu Sisi Seolah Mengorbankan Kepentingan sebagian Rakyatnya: Dari Abu Hunaidah, Wa’il bin Hajar ra berkata : Bertanya Salmah bin Yazid al-Ju’fiy pd Rasulullah SAW : Wahai Nabi Allah … bgm pendptmu jk ada seorg pemimpin yg selalu meminta ketaatan dari kami tapi tidak memberikan hak kami, apa yg anda perintahkan pd kami ? Maka Rasulullah SAW memalingkan wajahnya, mk Salmah bertanya lagi yg kedua kali, maka jawab Rasulullah SAW : Dengarlah oleh kalian semua dan taatilah ia, karena bagi kalian pahala ketaatan kalian dan baginya dosa ketidakadilannya.[25]”
c. Dosanya Memisahkan Diri dari Ketaatan pada Pimpinan yang Islami: Bersabda Nabi SAW : “Barangsiapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan, maka ia kelak akan bertemu dengan ALLAH SWT tanpa dapat mengemukakan argumentasi apapun.[26]” Dalam hadits lainnya: “Barangsiapa meninggalkan ketaatan lalu memisahkan dirinya dari Jama’ah lalu ia meninggal maka ia mati Jahiliyyah.[27]” Perhatikan baik-baik dalam hadits tersebut disebutkan Al-Jama’ah, yg maksudnya Jama’ah Islam, bukan sembarang pemerintahan, (lihat pula judul bab pada takhrij hadits tersebut di dalam Shahih Muslim).
5. BENTUK-BENTUK KETAATAN:
a. Mendengarkan dan memahami perintah dengan sebaik-baiknya, memohon penjelasan sampai jelas kemudian melaksanakannya dengan tidak menunda-nunda dan dengan sebaik-sebaiknya. Lihat kisah Ali bin Abi Thalib ra dalam perang Khaibar dalam Shahih Bukhari[28].
b. Melipatgandakan kesabaran saat melaksanakan perintah tersebut, ikhlas dan tidak menguranginya atau menambahinya sedikitpun. Lihat kisah Jundub bin Makits al-Juhni saat dalam Sariyah[29].
c. Melaksanakan dengan segera perintah tersebut, walaupun tidak sesuai dengan pendapatnya atau berbeda dengan keinginannya, lihat kisah Hudzaifah bin Yaman saat perang Ahzab[30].
d. Saling memberi dan menerima nasihat. Lihat kisah Umar bin Khattab ra saat perjanjian Hudhaibiyyah dengan Nabi SAW & Abubakar ra[31].
e. Meminta izin dalam setiap urusan pentingnya atau sebelum mengambil keputusannya[32].
WaLLAAHu a’lamu bish Shawaab…

Daurah An Naqib fi Mihwar Mu’assasy (Peran Naqib Dalam Kancah Politik

Seperti yang kita pahami bahwa perubahan menuju perbaikan diri dan masyarakat melalui lembaga-lembaga strategis menjadi bagian dari kerja dakwah pada mihwar mu’assasi ini. Melalui pemberdayaan lembaga tersebut berikut instrumentnya dapat mengokohkan dakwah dan perluasannya.
Imam Hasan Al Banna dalam Muktamar Keenam menjelaskan tentang berbagai media dan sarana untuk menjadi wasilah bagi tegaknya dakwah: “Bahwa sarana dan cara yang kita pakai secara umum adalah memberikan kemantapan dan menyebarkan dakwah dengan berbagai sarana. Sehingga bisa mudah dipahami oleh masyarakat umum lalu menjadi opini publik. Kemudian menyeleksi pribadi-pribadi yang baik untuk menjadi pendukung dakwah yang kokoh. Juga perjuangan secara konstitusional agar dakwah ini memiliki suara di lembaga pemerintahan dan didukung oleh kekuatan eksekutif. Dengan dasar ini calon-calon ikhwah akan menjadi khatibul jamahiri dan apabila datang waktu yang tepat akan tampil mewakili umat di Parlemen. Percayalah akan pertolongan Allah SWT. selama tujuan kita adalah meraih keridhaan-Nya”.
Ini akan sangat membutuhkan peran dan potensi dari seluruh kader yang dapat digunakan sebagai mediator untuk mewujudkan amaliyah tersebut. Sehingga seluruh potensinya tidak ada yang nganggur. Bahkan bila demikian, tidak boleh ada kader yang tidak menjadi bagian dari kerja besar ini. Kader yang beragam perannya harus menjadi batu bata dari tugas ini. Salah satu peran yang sangat signifikan dalam mengusung tugas perubahan ini adalah peran naqib. Posisi dan perannya teramat penting. Karena naqib merupakan tulang punggung yang amat strategis dalam perjalanan tarbiyah ini. Ia menjadi simpul perubahan yang asasi. Minimal dalam komunitas terkecil di masyarakat ini melalui tarbiyah atau pembinaan kader.
Posisi dan peran inilah yang digerakkan generasi terdahulu untuk memperluas manuver dakwah demi perubahan masyarakat. Mereka menjadi titik tolaknya. Sebab pribadinya merupakan parameter perubahan. Komunitas suatu masyarakat akan mudah diarahkan bila parameternya jelas dan benar. Dapat menjadi cerminan dalam merealisasikan perubahan diri untuk selanjutnya menjadi perubah masyarakat. Karena itu Allah SWT. telah mengingatkan akan peran ini. Sebagaimana umat terdahulu yang menjadikan naqib sebagai munthalaqnya.
“Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus”. ( Al-Maidah: 12)
Demikian pula saat perjalanan dakwah Rasulullah SAW. di masa-masa pertumbuhan. Beliau mengangkat sahabat yang memiliki kapasitas untuk mengemban amanah dakwah ini menjadi naqib. Dari para naqib yang ditunjuk, umat dapat belajar dan berkoordinasi merefleksikan amal Islam sehari-hari. Mereka menjadi ukuran sejauh mana tingkat dan kualitas suatu masyarakat yang akan diajak kepada perubahan. Begitu pula saat orang-orang Madinah menjumpai Rasulullah SAW. kemudian beliau mengelompokannya lalu menetapkan pemimpinnya sebagai naqib yang menjadi pengarah bagi kabilahnya.
Ternyata peran naqib yang dijalankan oleh para sahabat Anshor itu dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Itu dapat terlihat pada antusiasme masyarakat Madinah yang menyambut seruan Islam dan mereka menjadi pengikut setia Nabi Sang Junjungan. Perkembangan ajaran Islam dan entitas muslim sangat pesat di sana. Sehingga mereka siap untuk menerima kedatangan Rasulullah SAW. sebagai pemimpin mereka di dunia dan di akhirat. Kemudian beliau membinanya hingga terjadilah perubahan budaya dan perabadan umat manusia di antara kegelapan perilaku insaniyah waktu itu.
Menjalankan peran naqib seperti kaum muslimin di masa lalu memang tidaklah semudah membicarakannya. Karena banyak unsur yang terkait. Namun kita tidak dibenarkan bersikap pesimis lantaran tidak mudahnya merealisasikan peran tersebut. Akan tetapi upaya untuk bisa mencontoh sedikit demi sedikit hingga akhirnya sempurna harus tetap terkobar. Dalam kaedah ushul fiqhpun disebutkan bahwa
Maala yudraku kulluhu la yutroku kulluhu
“bila tidak dapat menjangkau seluruhnya maka janganlah meninggalkan keseluruhannya”.
Oleh karena itu para naqib kiranya dapat memahami peran yang mampu dilaksanakan agar cita-cita yang didambakan dapat terwujud. Seperti kondisi yang pernah dibangun generasi masa lalu.
Adapun peran yang perlu dijalankan oleh para naqib untuk mencapai perubahan diri dan masyarakat pada mihwar mu’assasi ini diantaranya sebagai berikut:
A. Raf’u Mustawal Afrad (Meningkatkan level personal)
Sesungguhnya Allah SWT. telah menyerahkan urusan umat ini kepada naqib. Kemashlahatan mereka di hari ini dan masa mendatang merupakan amanah Allah yang harus ditunaikan. Naqib bertanggung jawab di hadapan Allah SWT. pada akhirat kelak.
Jika generasi hari ini adalah kekuatan bagi naqib maka generasi esok merupakan tanaman. Alangkah mulianya seseorang jika bersikap amanah, bertanggung jawab dan mau memikirkan binaannya. Sebagaimana yang diingatkan Rasulullah SAW.
“Bahwa setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya”. (Bukhari dan Muslim).
Karena naqib sebagai murabbi dalam lingkaran pembinaannya maka meningkatkan level personal dalam pembinaannya ini menjadi peran yang mesti dijalankan dengan baik.
Pertama, Tahqiq Ma’any Tawazun yakni untuk merealisasikan aspek-aspek tawazun dalam diri kader yang dibinanya. Baik secara Ma’nawi, Nafsi dan Amaly. Sehingga kader yang dibinanya dapat mempresentasikan ajaran Islam yang syamil secara ruhani, pemikiran, jiwa dan amal dalam kesehariannya.
Kedua, Izharul Azmi, yaitu memunculkan azam yang kuat dan tawakkal pada Allah SWT. membuat mereka selalu memiliki tekad yang tak pernah kendur dalam memperjuangkan Islam.
Ketiga, Tarqiyatu as Syaja’ah wal Buthulah, adalah meningkatkan sifat syaja’ah dan kepahlawanan dalam diri mereka. Berani untuk menyatakan kebenaran dan patriotis dalam membelanya.
Keempat, Mas’uliyatud Da’wah yaitu memunculkan rasa mas’uliyyah (tanggungjawab) pada binaanya terhadap kerja da’wah agar medreka dapat menjadi pelopor dakwah sehingga dakwah berkesinambungan dan melahirkan generasinya yang lebih baik.
Sasaran utama untuk meningkatkan personal yang dibina oleh para naqib adalah untuk mempuyai sikap puas dan tenang pada manhaj dakwah dan structural. Sasaran inilah yang perlu diperhatikan oleh para naqib dalam menjalankan tugas mulianya ini. Dalam diri naqib hanya rasa cinta pada kader yang dibinanya agar selalu bisa lebih baik sehingga selalu gembira dan senang dalam menjalani tugasnya.
Imam Muhammad ibnu Ahmad yang dikenal dengan julukan Ibnu Razquwaih menyatakan pada murid-muridnya yang ia cintai. Karena ia ingin murid-murid lebih baik kualitas dan kepribadiannya dari yang kemarin. ‘Demi Allah, aku menyukai kehidupan di dunia bukan karena usaha dan bukan pula karena perniagaan, akan tetapi karena dzikir pada Allah bersama kalian dan membacakan hadits kepada kalian sehingga kalian lebih baik’.
Kiranya para naqib perlu merenungi ungkapan Sang Syeikh ini agar amanah ini dapat tertunaikan di pundak kita sehingga ia menjadi amal perberat timbangan kebaikan kita di akhirat nanti. Sekaligus mampu mengimplementasikan firman Allah SWT. bahwa pemimpin dan pengarah yang baik laksana pohon yang mengakar dan berdiri tegak memberikan buah yang tak pernah henti.
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku` dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”. (Al Fath: 29)
B. Tathwir Qudrah Al Ahliyyah (Pengembangan kemampuan keahlian atau ekspert)
Begitu beratnya tugas naqib maka ia perlu meningkatkan kemampuan dirinya. Sehingga tugas-tugas tersebut dapat diselesaikan secara bertanggung jawab. Kemampuan itu adalah:
Pertama, Wudhuhut-tashawwur,
yakni memperoleh kejelasan wawasan dan pandangan tentang dakwah dan arah gerak dakwah pada mihwar mu’assasy ini sehingga naqib tidak bingung atau ragu dalam menjalankan tugas dakwahnya. Kejelasan wawasan juga dapat mengusir keragu-raguan sikap baik dirinya maupun orang lain.
Jiwa yang yakin akan dapat mempengaruhi orang lain pada fikrahnya terutama kader yang ia bina sehingga mereka berada dalam barisan dakwah di belakang naqibnya. Agar tidak ada lagi tasykik (keraguan) tentang langkah dakwah dan program yang sedang dicanangkan lalu dapat ikut terlibat di dalamnya.
Kedua, Tarqiyyatudz Dzaka’,
yaitu meningkatkan kecerdasan yang paripurna agar naqib dapat menjadi referensi dan rujukan masalah sekaligus mampu memberikan solusinya. Kecerdasan naqib selayaknya selalu meningkat dari hari perhari karena naqib sebagai orang yang akan mengarahkan binaannya. Naqib yang cerdas dapat memberikan nilai lebih pada binaannya sehingga muncul kepuasan tarbawi yang mereka ikuti.
Ketiga, Al Qudrah ‘alal Ibda’ wal ibtikar,
Yakni kemampuan kreasi dan inovasi. Dalam mengelola tarbiyah untuk ikut terlibat dalam kerja dakwah di mihwar mu’assasi ini naqib tidak boleh kehabisan kreasi apalgi mati kreasinya. Karena musuh-musuh dakwah pun penuh kreasinya. Untuk menandingi mereka tentu bukan dengan kemampuan material yang kita punya. Melainkan dengan mengembang kemampuan kreatifitas yang kita miliki. Kreatifitas yang hidup membuat peluang-peluang besar bagi dakwah dan pelakunya. Seorang punjangga memaparkan
“siapapun tidak akan mampu mematikan lawannya selama kreatifitas mereka tetap hidup”.
Keempat, Quwwatul Mubadarah Cepat tanggap terhadap sesuatu.
Naqib yang cepat tanggap mengindikasikan kepeduliannya amat besar. Baik tanggap terhadap siatuasi, para binaannya mapun tugas yang diamanahkan kepadanya.
Upaya ini untuk menjaga asset dakwah yang amat mahal. Ia menginginkan kebaikan dan keselamatan bagi kadernya.. kekuatan rasanya begitu besar sehingga ia ingin dapat memberikan hal lebih pada binaannya. Sebagaimana firman Allah SWT.:
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min”. (At Taubah: 125)
Bila demikian -naqib meningkatkan kemampuan dan keahliannya- maka keahlian dan kafa’ahnya semakin kuat dan berarti. Hal ini akan sangat berguna untuk kelanggengan dakwah dan kekokohannya. Keahlian yang seperti itu amat diperlukan untuk menjadi pintu-pintu masuknya dakwah di seluruh elemen masyarakat saat ini. Sehingga instrument dalam masyarakat dapat menerima dan berhimpun didalamnya.
Keahlian apapun dalam ajaran Islam amat dihargai. Ia tidak boleh diabaikan atau melupakan kemampuan yang dimiliki seorang muslim. Apalagi hingga mencampakkan begitu saja keahliannya. Sang Nabi Junjungan telah mengingatkatkan,
“Barang siapa yang telah memiliki keahlian melempar kemudian melupakannya maka ia bukanlah golonganku”. (Muslim)
Naqib untuk merealisasikan perannya mesti menjaga cita-citanya agar selalu hidup. Sekalipun cita-cita itu belum terwujud pada saat menjalankannya. Sebab cita-cita tersebut kadang lebih cepat atau lambat. Seperti guratan seorang pujangga,
‘Peliharalah cita-citamu, karena sesungguhnya cita-citamu mendahului segala sesuatu. Barang siapa yang baik cita-citanya dan dia jujur padanya niscaya pekerjaan yang dilakukannya akan melahirkan hasil yang baik pula’.
Iqbalpun dalam untaian bait syairnya memaparkan,
‘Cita-cita orang yang merdeka dapat menghidupkan yang telah hancur, dan tiupan orang-orang yang bertaqwa dapat menghidupkan umat. Dan semua penyakit itu bersumber dari pudarnya cita-cita’.
Untaian syair tersebut mengumpamakan bahwa naqib sebagai nadinya kader dakwah ini. Oleh karena itu seyogyanya para naqib tetap menjaga kesehatan nadinya agar tidak pernah berhenti dan diam.
C. Tathwirul Qudrah At-Tanzhimiyyah (Pengembangan kemampuan struktural)
Naqib adalah amanah struktural karenanya ia menjadi orang yang terdepan dalam pengembangan struktural. Agar tidak mengalami ashirul marhalah dalam perjalanan dakwah ini maka naqib mesti memahami prasyarat untuk dapat menjalakan peran tersebut. Yaitu:
Pertama, Isti’abuts-Tsawabit wal mutaghayyirat.
Menguasai hal-hal yang permanent dan berubah-ubah pada jalan dakwah ini. Dari situ ia tahu mana-mana yang memang sudah baku dalam dakwah ini dan mana-mana yang berubah-ubah sesuai dengan situasi dan kondisinya sehingga dapat menggunakan kebijakan yang tepat untuk kepentingan dakwah.
Kedua, Al Qudrah ‘alat-takhthith at Tanzhimy, menguasai perencanaan struktural.
Perencanaan yang dipahami oleh naqib dapat mempermudah merealisasikannya serta mempercepat ke arah yang digariskannya. Karena naqib dapat melibatkan langsung kader-kadernya sebagai ujung tombak dakwah ini.
Ketiga, Al Qudrah ‘alat-ta’biah, kemampuan mengkoordinasikan elemen dakwah.
Keempat, Muhafazhah matanah at tanzhim, Membangun soliditas struktural.
Karena naqib, peran dan kedudukannya amat strategis dalam struktur dakwah ini diharapkan merekalah garda terdepan dalam menjaga soliditas struktural. Ia dapat mengarahkan kadernya akan kekeliruannya. Ia pun dapat meluruskan gossip internal yang berkembang. Ia pun dapat memberikan jawaban atas tuduhan dan fitnah yang dilontarkan pada struktur dari siapapun. Sehingga naqib amat berwenang untuk membina soliditas struktural terutama pada kader yang dikelolanya. Bahkan para naqib menjadi kekuatan komitmen pada dakwah ini.
Abul ‘Ala Al Maududi mengingatkan bahwa naqib merupakan amanah struktural yang harus mampu menjadi penggerak dakwah ini kepada seluruh lapisan masyarakatnya dengan mengerahkan seluruh potensinya. ‘Sangat ironis sekali bila orang-orang yang dianugerahi intelgensia yang unggul dari kalangan individu umat kita ini, tergila-gila meraih kedudukan duniawi dengan mencurahkan segenap kemampuannya tanpa kenal lelah sepanjang siang dan malam. Di bursa kerja mereka tidak mau menerima kecuali pihak yang mau menawar mereka dengan bayaran yang tinggi. Sedangkan keterlibatan mereka dengan dakwah ini tidak sampai pada tingkat mengorbankan kepentingan mereka untuk kepentingan dakwah, bahkan tidak pula sekedar mengorbankan jasa yang mereka miliki. Jika kalian berharap dengan mengandalkan pengorbanan yang mandul ini untuk dapat meraih kemenangan melawan orang-orang yang menimbulkan kerusakan di muka bumi ini yang rela mengorbankan jutaan uangnya setiap hari demi mencapai tujuan mereka yang batil maka harapan ini tiada lain hanyalah suatu tindakan yang bodoh’.
D. Tathwirul Qudrah Asy-Sya’biyah (Pengembangan kemampuan bermasyarakat)
Naqib juga bagian dari masyarakat. Karenanya ia harus dapat melakukan pengembangan kemampuan bermasyrakat. Karena masyarakat akan menjadi bagian dari kerja dan obyek dakwah pada mihwar ini. Masyarakat yang mendukung dakwah akan sangat mengokohkan eksistensi dakwah dan akhirnya dapat berdiri tegak. Maka naqib perlu menyadari akan perannya di tengah-tengah masyarakatnya. Yakni:
pertama, Bina al Ittishal as Sya’by, yaitu membangun hubungan dengan masyarakat.
Kedua, Mir’atul Ishlah lil mujtama’, yakni mampu tampil dan menjadi representasi dari masyarakat.
Ketiga, Tashawwurul ‘Am, Membangun public opinion.
Keempat, As Syakhshiyah Barizah, Mampu tampil sebagai pemimpin public.
Pada akhirnya naqib dapat membangun perubahan yang mendasar pada masyarakat. Dan dialah yang memulainya sehingga masyarakat dapat mencontohkan langsung.
Imam Hasan Al Banna mengingatkan seluruh kadernya untuk menjadi penggerak perubahan dan menjadi kekuatan yang hidup mengusung perbaikan dan kemashlahatan. Katanya, ‘Kita adalah ruh baru yang mengalir ke seluruh jasad umat umat ini’.
Wallahu ‘alam bishshawwab.

Tafsir Al-Baqarah ayat 183 : Aspek-Aspek Ruhaniyyah dari Puasa

Oleh : Abu AbduLLAH
“Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah, 2:183)

“Wahai orang-orang yang beriman…” : Kata ini bermakna takhshish (pengkhususan) dari Sang Maha Pencipta langit dan bumi kepada sedikit di antara makhluk-NYA yang dicintai-NYA. Maka panggilan itupun begitu lembut dan penuh kasih, dengan menyebutkan aspek kedekatan dan keakraban-NYA dengan kelompok tersebut. “Wahai orang-orang yang telah beriman…” Pantaslah bahwa diriwayatkan jika para sahabat RA ketika mereka sedang berbicara atau melakukan suatu kegiatan jika mereka mendengar kata “wahai orang-orang yang telah beriman…” maka mereka seketika terdiam dengan khusyu’ mendengarkan apa kelanjutan firman-NYA, jika mereka telah melaksanakan perintah tersebut maka mereka bersyukur dan jika belum maka mereka berusaha untuk segera melaksanakannya.
“telah diwajibkan atasmu berpuasa” : Kata “kutiba” bermakna “furidha ‘alaykum” (telah diwajibkan atas kalian semua yang telah beriman) untuk berpuasa. Kewajiban tersebut dijelaskan oleh ayat ini dan juga oleh beberapa hadits shahih, di antaranya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar ra : “Islam itu dibangun atas 5 hal, bersaksi bahwa tiada Ilah kecuali ALLAH, menegakkan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan berhaji ke BaituLLAH jika memiliki kemampuan.” Demikian pula bahwa para ulama salaf (terdahulu) dan khalaf (kontemporer) yang shalih telah ijma’ (bersepakat) tentang wajibnya puasa Ramadhan, sehingga jika ada yang menyatakan bahwa puasa Ramadhan tidak wajib maka perkatannya itu tertolak.
“sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian” : Puasa adalah juga merupakan syariat para nabi-nabi sebelum Muhammad SAW dan iapun juga merupakan syariat orang-orang shalih dimasa terdahulu. Puasa mereka semua adalah jauh lebih berat dari puasa kita (ummat Muhammad SAW). Lihatlah bagaimana puasa nabi yang shalih Zakariyya AS yang selain tidak makan dan minum juga TIDAK BOLEH BERBICARA (QS. Maryam, 19:10) kecuali hanya boleh memberikan isyarat saja (QS Ali Imran, 3:41), demikian pula Maryam AS yang sezaman dengannya (QS Maryam, 19:26). ALLAH SWT pun menjelaskan kepada kita tentang puasanya Thaluth AS yang hanya dibolehkan berbuka hanya dengan seteguk air saja dan tidak boleh lebih (QS al-Baqarah, 2:249). Atau juga puasa nabi Daud AS yang disebut sebagai sebaik-baik puasa oleh nabi Muhammad SAW, yaitu sehari puasa dan sehari berbuka seumur hidupnya.
“mudah-mudahan kalian menjadi orang yang bertaqwa” : Puasa yang ikhlas dan benar akan mengantarkan pelakunya kepada sifat taqwa. Tidaklah setiap amal dalam Islam kecuali memiliki faidah kepada yang melakukannya, tentang shalat ALLAH SWT menyebutkan bahwa ia dapat mencegah pelakunya dari perbuatan yang keji dan munkar (QS al-Ankabut, 29:45), tentang zakat ALLAH SWT menyebutkannya sebagai untuk membersihkan (harta) dan mensucikan (hati) mereka (QS at-Taubah, 9:103), dst. Taqwa bukanlah sebuah perhentian tapi ia adalah sebuah proses yang tidak akan pernah berhenti sampai kita menghadap ALLAH SWT, hal ini digambarkan dalam hiwar (diskusi) antara 2 orang sahabat mulia yaitu Umar bin Khattab ra dan Ubay bin Ka’ab ra, kata Umar ra : “Wahai Ubay apakah taqwa itu menurutmu?” Jawab Ubay ra : “Wahai Amirul Mu’minin pernahkah anda melalui suatu jalan yang penuh dengan duri?” Maka jawab Umar ra : “Pernah.” Kata Ubay ra : “Lalu apa yang anda lakukan ketika itu?” Jawab Umar ra : “Aku bersungguh-sungguh dan berhati-hati (IJTAHADTU WA SYAMMARTU).” Maka kata Ubay ra : “Itulah yang disebut taqwa.”
Puasa sempurna adalah puasa orang-orang yang shalih, yaitu dengan melakukan :
1. Menahan pandangan dan menjaganya dari sembarangan memandang hal yang dilarang, dan dari segala sesuatu yang melalaikan hati dari dzikrullah. Hadits:
“Sekali memandang itu adalah satu anak panah dari anak-anak panah Iblis, maka barangsiapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah akan memberinya manisnya keimanan yang dapat ia rasakan dalam hatinya.” (HR al-Hakim dan shahih isnad-nya).
2. Menjaga lidah dari berkata kotor, berdusta, menggunjing, mengadu domba, berkata keji, menyindir, marah, bergurau yang mengandung dosa dan memperbanyak diam serta menyibukkannya dengan dzikrullah dan membaca al-Qur’an. Hadits :
“Puasa itu benteng, maka jika salah seorang diantaramu berpuasa janganlah ia berkata kotor atau menipu dan jika ada yang mengajaknya berkelahi atau mencacinya, maka katakanlah : Saya sedang berpuasa! Saya sedang berpuasa!” (HR Bukhari dan Muslim).
3. Menjaga pendengaran dari segala sesuatu yang dilarang, karena segala sesuatu yang dilarang mengucapkannya maka dilarang pula mendengarkan-nya. Karena itulah Allah SWT menyamakan antara mendengarkan berita bohong (pekerjaan telinga) dengan memakan harta yang haram (pekerjaan mulut) dalam firman-Nya :
“Mereka itu suka mendengarkan berita bohong dan memakan harta yang haram…” (QS 5/42).
4. Menahan semua anggota badan dari dosa, baik tangan, kaki, perut, dari segala yang syubhat apalagi yang haram. Karena tiada artinya berpuasa dari makanan yang halal kemudian berbuka dengan yang syubhat apalagi yang haram. Makanan yang haram itu merusak agama seseorang, sementara makanan yang halal memberikan manfaat tetapi juga ada bahayanya, maka diperintahkan untuk berpuasa. Hadits nabi SAW :
“Berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tiada mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali sekadar lapar dan haus.” (HR an-Nasa’I dan Ibnu Majah).
5. Agar tidak makan berlebihan pada saat berbuka, karena ruh dari puasa serta rahasianya adalah melemahkan kekuatan syetan yang mengarahkannya kepada keburukan. Dan tidak akan tercapai hal tersebut kecuali dengan menyedikitkan memakan makanan yang biasa dimakannya saat tidak berpuasa. Termasuk juga menyedikitkan tidur siang supaya fisik benar-benar merasakan dampak puasa tersebut (lapar, haus, lemah) sehingga akan melembutkan juga hati kita.
6. Agar hati kita pada saat berbuka berada dalam kondisi antara harap dan takut, demikian pula pada saat selesai melakukan ibadah di bulan ini. Hadits nabi SAW :
“Jika seorang mu’min mengetahui hukuman yang disediakan Allah SWT, maka mereka takkan sempat mengharapkan jannah. Dan seandainya seorang kafir mengetahui ampunan yang disediakan Allah SWT, maka mereka takkan putus asa atas rahmat dan ampunan Allah SWT.” (HR Muslim).

Bahagia Dapat Menggapai Derajat Taqwa Pasca Bulan Ramadhan

Menggapai derajat taqwa adalah cita-cita tertinggi bagi setiap muslim saat usai menunaikan ibadah; derajat paling mulia disisi Allah. Allah menjadikan seluruh perintah dan kewajiban bermuara pada derajat yang mulia ini; baik ibadah secara umum yang diperintahkan oleh Allah kepada umat manusia secara keseluruhan, seperti yang termaktub dalam perintah Allah pada surat Al-Baqarah ayat 21:
يا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa”
atau ibadah-ibadah khusus yang diperintahkan kepada golongan khusus yaitu orang-orang beriman, termasuk ibadah puasa yang ada pada bulan Ramadhan. Sebagaimana firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. (Al-Baqarah:183)
dan lain sebagainya dari ibadah yang diperintahkan oleh Allah  yang bertujuan untuk menggapai derajat taqwa.

Makna taqwa.
Dalam al-Quran disebutkan kurang lebih 251 kali kata “taqwa”, dimana taqwa sangat mempunyai makna agung dan mendalam, terutama dalam memahami peraturan dan perintah Allah serta larangan-larangan-Nya, sehingga dapat mempengaruhi jalan kehidupan manusia sehari-hari.
Para ulama banyak memberikan makna yang berbeda akan makna taqwa, walaupun perbedaan tersebut hanyalah sebatas kata, karena ujungnya tetap sama yaitu bermuara pada ketaatan kepada Allah.
1. Taqwa adalah mentaati segala perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-larangan-Nya.
2. Taqwa adalah mentaati perintah Allah dengan berharap pahala dan surga-Nya dan menjauhi larangan Allah dengan berharap terhindar dari azab dan api neraka-Nya.
3. Taqwa adalah hendaknya Allah tidak pernah absen menemukanmu dalam beribadah kepada-Nya, dan tidak pernah menemukan dirimu berada dalam kemaksiatan.
4. Taqwa adalah mengamalkan kitab yang diturunkan (Al-Qur’an), takut kepada Al-Jalil (Allah SWT), Ridha pada rezki walau sedikit, dan bersiap diri menuju hari akhir (kematian).
Dan banyak lagi makna taqwa yang disebutkan oleh para ulama, yang intinya adalah wujud ketaatan hamba kepada Allah yang diaplikasikan dalam menunaikan segala perintah Allah, dan menjauhkan diri dari segala larangan dan perbuatan yang dimurkai Allah.
Ciri-ciri orang yang bertaqwa
Ketahuilah bahwa hanya Allah mengetahui sosok manusia yang bertaqwa dari setiap muslim, karena Dialah Zat yang mengetahui isi hati manusia, dan taqwa merupakan ibadah qalbu dan letaknyapun di dasar hati yang paling dalam, seperti yang disampaikan oleh Rasulullah saw;
التقوى هاهنا .. التقوى هاهنا .. التقوى هاهنا كررها ثلاثاً وهو يشير إلى صدره فداه أبي وأمي وفيه إشاره على أن منبع التقوى من القلب
Taqwa itu disini.. taqwa itu disini… taqwa itu disini... beliau mengulanginya tiga kali sambil menunjuk ke dadanya dan menginsyaratkan bahwa sumber taqwa adalah di dalam hati
Namun demikian, untuk mengetahui orang yang telah mendapat derajat mulia (taqwa) dalam kehidupannya terutama pasca Ramadhan adalah dengan memperhatikan beberapa ciri sebagai berikut :
1. Tingkat keimanannya meningkat dibanding hari-hari sebelumnya, baik secara batin yaitu iman kepada Allah, hal gaib, Al Quran dan hari akhir, dan juga secara lahir yaitu mendirikan Shalat lebih rajin, menunaikan zakat/infak/sedekah lebih ikhlas dan lebih sering, membaca Al-Quran lebih rajin dan lain-lainnya, seperti terdapat dalam surat (Al Baqarah:2-4, Al-Anfal : 2-4)
2. Tawadhu’ (rendah hati)
Tawadhu’ atau rendah hati merupakan kesempurnaan ketaqwaan seseorang, ia tidak sombong ataupun angkuh atas apa yang diberikan Allah kepada nya, dia penyayang, pemaaf dan tidak membalas perbuatan buruk orang dengan keburukan namun dengan kebaikan. Allah berfirman:
وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata keselamatan” (Al-Furqan : 63).
3. Qana’ah
Qanaah yaitu sikap Menerima atau mencukupkan apa adanya nikmat yang diberikan Allah kepadanya, dia tidak mengumpat apalagi mencela rezki yang diperolehnya, tidak merasa kurang dan tidak takut akan kekurangan rezki, namun hanya selalu mensyukuri segala nikmat Allah yang ada. Dia yakin bahwa Allah akan selalu mencukupi kebutuhan semua hamba-Nya. Allah SWT berfirman:
و ما من دابة في الأرض إلا على الله رزقها
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya” (Huud :6).
4. Wara’
Wara’ adalah sikap selalu menjaga dan menghindarkan diri dari perbuatan dosa. Dengan sikap ini seorang yang bertaqwa akan takut untuk melakukan dosa karena ia selalu merasa di pantau dan diawasi oleh Allah. Karena Allah itu sangat dekat dan memantau segala perbuatan hambanya. Orang seperti ini telah memiliki sifat Ihsan. Allah SWT berfirman:
ألم يعلم بأن الله برى
“Tidaklah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? (Al-‘Alaq : 14).
5. Yakin
Yaitu keyakinan yang bersumber dari keimanannya bahwa Allah SWT akan memberikan balasan dan kenikmatan di dunia, tidak gentar dengan berbagai halangan yang menghadang, dan juga yakin akan adanya ganjaran pada hari akhirat berupa surga dan segala kenikmatannya.
Keuntungan orang yang mendapat gelaran taqwa
Adapun orang yang mendapat gelaran taqwa maka Allah pasti akan memberikan berbagai kenikmatan dan balasan yang menjadi bagian terbesar dalam kehidupan manusia baik di dunia dan di akhirat kelak. Adapun keuntungan yang di dapat bagi orang bertaqwa adalah sebagai berikut
1. Mendapat peningkatan derajat. (Al-Anfal:4).
2. Mendapat ampunan dosa dan kesalahannya.
3. Mendapatkan furqan, ia dapat membedakan antara yang hak dan bathil dan diberi kekuatan untuk menegakkannya. (Al-Anfal : 29).
4. Mendapat kasih sayang Allah di dunia dan di Akhirat
5. Mendapat cahaya dari Allah dalam kehidupan. (Al-Hadiid : 28).
6. Diberi jalan keluar bagi urusannya.
7. Mendapat rezki dari sumber yang tidak disangka-sangka. (At-Talak : 2-3).



Penutup
Sungguh sulit digambarkan akan kebahagiaan seseorang yang diberikan kesempatan untuk mengikuti ibadah dan amaliyah pada bulan Ramadhan; hal tersebut merupakan anugerah terbesar yang dilimpahkan Allah kepada orang yang dikehendaki-Nya.
Bahagia bukan berarti dengan meluapkannya pada perbuatan yang sia-sia, namun bahagia di sini adalah dengan selalu menyadari bahwa hal tersebut merupakan kesempatan emas yang tidak boleh terbuang dan hilang tanpa ada manfaat. Karena Nabi saw bersabda:
من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه
“Di antara kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna”.
Dan Ramadhan adalah kesempatan emas dan berharga untuk meraih dan menggapai banyak hal; rahmat, ampunan, pembebasan dari api neraka, pahala yang berlipat ganda, surga yang khusus, dan lain sebagainya, bahkan niscaya menggapai derajat paling mulia di sisi Allah yaitu Taqwa.
Karena itu, berbahagialah orang yang mendapat kesempatan untuk meraihnya, berbahagialah orang yang mendapatkan kesempatan untuk menggapainya, dan marilah untuk melengkapi kebahagiaan diisi dengan menunaikan ibadah dan menjalankan aktivitas dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Allah berfirman:
لئن شكرتم لأزيدنكم ولئن كفرتم إن عذابي لشديد
“Jika kalian bersyukur terhadap nikmat-nikmat-Ku maka Aku tambah (nikmat tersebut) untuk kalian, namun jika kalian ingkar, maka ketahuilah azab-Ku sangatlah pedih”.
Dan kita hanya berharap dan memohon kepada Allah, semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan kesempatan mengarungi hidup pada bulan Ramadhan i masa yang akan datang, dan kita berharap pula dianugerahkan oleh kesehatan sehingga dapat menunaikan berbagai ibadah dan amaliyah secara maksimal dan optimal, sebagaimana pula kita berharap Allah berkenan melimpahkan kepada kita rahmat dan hidayah-Nya sehingga kita dalam menunaikan ibadah dan amaliyah dengan penuh keimanan dan keikhlasan, jauh dari melakukan perbuatan dosa dan maksiat sehingga dapat mengurangi nilai dan pahala puasa, dan harapan terakhir bagi kita semua adalah semoga Allah melalui ibadah Ramadhan yang kita laksanakan dan tunaikan dengan sungguh-sungguh, berlandaskan iman dan keikhlasan kita dapat menggapai derajat yang paling disisi-Nya yaitu taqwa.
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنْ الْمُسْلِمِينَ
“Ya Allah, anugerahkanlah kekuatan kepada kami untuk mampu mensyukuri seluruh nikmat yang telah limpahkan kepada kami, dan kepada kedua orang tua kami, dan berikanlah kemampuan kepada kami untuk beramal shalih seperti yang Engkau ridhai, dan berikanlah kebaikan kepada keluarga kami, sesungguhnya kami kembali (bertobat) kepada Engkau, dan sesungguhnya kami termasuk orang yang berserah diri”. (Al-Ahqaf:15)
رَبَّنَا أَوْزِعْنَا أَنْ نَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيْنَا وَعَلَى وَالِدَيْنَا وَأَنْ نَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنَا بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ
“Ya Allah, anugerahkanlah kekuatan kepada kami untuk mampu mensyukuri seluruh nikmat yang telah limpahkan kepada kami, dan kepada kedua orang tua kami, dan berikanlah kemampuan kepada kami untuk beramal shalih seperti yang Engkau ridhai, dan masukkanlah kami dengan rahmat-Mu, termasuk golongan orang-orang yang shalih”. (An-Naml:19)
أللهم أعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك
“Ya Allah, tolonglah kami untuk dapat berdzikir dan bersyukur dan beribadah yang sebaik-baiknya”. (Abu Daud, Ahmad dan Nasai)
“Ya Allah, terimalah segala permohonan kami, ampunilah dosa-dosa kami, dan maafkanlah segala kekurangan kami, dan hanya kepada Engkaulah, kami memohon, berserah diri dan kembali”.
Amin ya mujibassailin.

Bahagia Saat Menunaikan Puasa 6 Hari di Bulan Syawal

Dari Abu Ayyub al-Anshari ra, Nabi saw bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْر
“Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun.” (Muslim).
Dalam hadits lain juga disebutkan dari imam Ahmad dan an-Nasa’I berkata: Nabi saw bersabda:
“Puasa Ramadhan ganjarannya sebanding dengan (puasa) sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan (puasa) dua bulan, maka bagaikan berpuasa selama setahun penuh.” (Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam “Shahih” mereka)
Alangkah senang dan bahaginya kita, setelah mampu menunaikan ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan dan diberikan kesempatan untuk menunaikan puasa 6 hari pada bulan Syawal, sehingga Allah menghitungnya seakan puasa dalam satu tahun penuh.
Kenapa demikian:
1. Puasa syawal akan menggenapkan ganjaran berpuasa setahun penuh.
Nabi saw bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.”
Para ulama mengatakan bahwa berpuasa seperti setahun penuh asalnya karena setiap kebaikan semisal dengan sepuluh kebaikan yang semisal. Bulan Ramadhan (puasa sebulan penuh, -pen) sama dengan (berpuasa) selama sepuluh bulan (30 x 10 = 300 hari = 10 bulan) dan puasa enam hari di bulan Syawal sama dengan (berpuasa) selama dua bulan (6 x 10 = 60 hari = 2 bulan).[2] Jadi seolah-olah jika seseorang melaksanakan puasa Syawal dan sebelumnya berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan, maka dia seperti melaksanakan puasa setahun penuh. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah saw:
مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ (مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا
“Barangsiapa berpuasa enam hari setelah Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. [Barangsiapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal]
Satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan semisal dan inilah balasan kebaikan yang paling minimal.[5] Inilah nikmat yang luar biasa yang Allah berikan pada umat Islam.
2. Puasa syawal seperti halnya shalat sunnah rawatib yang dapat menutup kekurangan dan menyempurnakan ibadah wajib.
Yang dimaksudkan di sini bahwa puasa syawal akan menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada pada puasa wajib di bulan Ramadhan sebagaimana shalat sunnah rawatib yang menyempurnakan ibadah wajib. Amalan sunnah seperti puasa Syawal nantinya akan menyempurnakan puasa Ramadhan yang seringkali ada kekurangan di sana-sini. Inilah yang dialami setiap orang dalam puasa Ramadhan, pasti ada kekurangan yang mesti disempurnakan dengan amalan sunnah.
3. Melakukan puasa syawal merupakan tanda diterimanya amalan puasa Ramadhan.
Jika Allah SWT menerima amalan seorang hamba, maka Dia akan menunjuki pada amalan sholih selanjutnya. Jika Allah menerima amalan puasa Ramadhan, maka Dia akan tunjuki untuk melakukan amalan sholih lainnya, di antaranya puasa enam hari di bulan Syawal.
Hal ini diambil dari perkataan sebagian salaf:
مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا
“Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.”
Ibnu Rajab menjelaskan hal di atas dengan perkataan salaf lainnya, “Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu dia melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula barangsiapa yang melaksanakan kebaikan lalu malah dilanjutkan dengan amalan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan.”
4. Melaksanakan puasa syawal adalah sebagai bentuk syukur pada Allah.
Yaitu nikmat ampunan dosa yang begitu banyak di bulan Ramadhan. Bukankah kita telah ketahui bahwa melalui amalan puasa dan shalat malam selama sebulan penuh adalah sebab datangnya ampunan Allah, begitu pula dengan amalan menghidupkan malam lailatul qadr di akhir-akhir bulan Ramadhan?!
Ibnu Rajab mengatakan, “Tidak ada nikmat yang lebih besar dari pengampunan dosa yang Allah anugerahkan.”
Sampai-sampai Nabi saw pun yang telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan akan datang banyak melakukan shalat malam. Ini semua beliau lakukan dalam rangka bersyukur atas nikmat pengampunan dosa yang Allah berikan. Ketika Nabi saw ditanya oleh istri tercinta beliau yaitu ‘Aisyah ra mengenai shalat malam yang banyak beliau lakukan, beliau pun mengatakan,
أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا
“Tidakkah aku senang menjadi hamba yang bersyukur?”
Begitu pula di antara bentuk syukur karena banyaknya ampunan di bulan Ramadhan, di penghujung Ramadhan (di hari Idul fitri), kita dianjurkan untuk banyak berdzikir dengan mengangungkan Allah melalu bacaan takbir “Allahu Akbar”. Ini juga di antara bentuk syukur sebagaimana Allah SWT:
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu bertakwa pada Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (Al Baqarah: 185)
Begitu pula para salaf seringkali melakukan puasa di siang hari setelah di waktu malam mereka diberi taufik oleh Allah untuk melaksanakan shalat tahajud.
Ingatlah bahwa rasa syukur haruslah diwujudkan setiap saat dan bukan hanya sekali saja ketika mendapatkan nikmat. Namun setelah mendapatkan satu nikmat, kita butuh pada bentuk syukur yang selanjutnya. Ada ba’it sya’ir yang cukup bagus: “Jika syukurku pada nikmat Allah adalah suatu nikmat, maka untuk nikmat tersebut diharuskan untuk bersyukur dengan nikmat yang semisalnya”.
Ibnu Rajab Al Hambali menjelaskan, “Setiap nikmat Allah berupa nikmat agama maupun nikmat dunia pada seorang hamba, semua itu patutlah disyukuri. Kemudian taufik untuk bersyukur tersebut juga adalah suatu nikmat yang juga patut disyukuri dengan bentuk syukur yang kedua. Kemudian taufik dari bentuk syukur yang kedua adalah suatu nikmat yang juga patut disyukuri dengan syukur lainnya. Jadi, rasa syukur akan ada terus sehingga seorang hamba merasa tidak mampu untuk mensyukuri setiap nikmat. Ingatlah, syukur yang sebenarnya adalah apabila seseorang mengetahui bahwa dirinya tidak mampu untuk bersyukur (secara sempurna).”
5. Melaksanakan puasa syawal menandakan bahwa ibadahnya kontinu dan bukan musiman saja.
Amalan yang seseorang lakukan di bulan Ramadhan tidaklah berhenti setelah Ramadhan itu berakhir. Amalan tersebut seharusnya berlangsung terus selama seorang hamba masih menarik nafas kehidupan.
Sebagian manusia begitu bergembira dengan berakhirnya bulan Ramadhan karena mereka merasa berat ketika berpuasa dan merasa bosan ketika menjalaninya. Siapa yang memiliki perasaan semacam ini, maka dia terlihat tidak akan bersegera melaksanakan puasa lagi setelah Ramadhan karena kepenatan yang ia alami. Jadi, apabila seseorang segera melaksanakan puasa setelah hari ‘ied, maka itu merupakan tanda bahwa ia begitu semangat untuk melaksanakan puasa, tidak merasa berat dan tidak ada rasa benci.
Ada sebagian orang yang hanya rajin ibadah dan shalat malam di bulan Ramadhan saja, lantas dikatakan kepada mereka,
بئس القوم لا يعرفون لله حقا إلا في شهر رمضان إن الصالح الذي يتعبد و يجتهد السنة كلها
“Sejelek-jelek orang adalah yang hanya rajin ibadah di bulan Ramadhan saja. Sesungguhnya orang yang sholih adalah orang yang rajin ibadah dan rajin shalat malam sepanjang tahun.”
Ibadah bukan hanya di bulan Ramadhan, Rajab atau Sya’ban saja.
Asy Syibliy pernah ditanya, “Bulan manakah yang lebih utama, Rajab ataukah Sya’ban?” Beliau pun menjawab, “Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Sya’baniyyin.” Maksudnya adalah jadilah hamba Rabbaniy yang rajin ibadah di setiap bulan sepanjang tahun dan bukan hanya di bulan Sya’ban saja. Kami kami juga dapat mengatakan, “Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Romadhoniyyin.” Maksudnya, beribadahlah secara kontinu (ajeg) sepanjang tahun dan jangan hanya di bulan Ramadhan saja. Semoga Allah memberi taufik.
‘Alqomah pernah bertanya pada Ummul Mukminin ‘Aisyah mengenai amalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal?” ‘Aisyah menjawab,
لاَ. كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً
“Beliau tidak mengkhususkan waktu tertentu untuk beramal. Amalan beliau adalah amalan yang kontinyu (ajeg).”
Amalan seorang mukmin barulah berakhir ketika ajal menjemput. Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Sesungguhnya Allah SWT tidaklah menjadikan ajal (waktu akhir) untuk amalan seorang mukmin selain kematian.” Lalu Al Hasan membaca firman Allah,
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin (yakni ajal).” (Al Hijr: 99).
Ibnu ‘Abbas, Mujahid dan mayoritas ulama mengatakan bahwa “al yaqin” adalah kematian. Dinamakan demikian karena kematian itu sesuatu yang diyakini pasti terjadi. Az Zujaaj mengatakan bahwa makna ayat ini adalah sembahlah Allah selamanya. Ahli tafsir lainnya mengatakan, makna ayat tersebut adalah perintah untuk beribadah kepada Allah selamanya, sepanjang hidup.
Perhatikanlah perkataan Ibnu Rajab berikut, “Barangsiapa melakukan dan menyelesaikan suatu ketaaatan, maka di antara tanda diterimanya amalan tersebut adalah dimudahkan untuk melakukan amalan ketaatan lainnya. Dan di antara tanda tertolaknya suatu amalan adalah melakukan kemaksiatan setelah melakukan amalan ketaatan. Jika seseorang melakukan ketaatan setelah sebelumnya melakukan kejelekan, maka kebaikan ini akan menghapuskan kejelekan tersebut. Yang sangat bagus adalah mengikutkan ketaatan setelah melakukan ketaatan sebelumnya. Sedangkan yang paling jelek adalah melakukan kejelekan setelah sebelumnya melakukan amalan ketaatan. Ingatlah bahwa satu dosa yang dilakukan setelah bertaubat lebih jelek dari 70 dosa yang dilakukan sebelum bertaubat. … Mintalah pada Allah agar diteguhkan dalam ketaatan hingga kematian menjemput. Dan mintalah perlindungan pada Allah dari hati yang terombang-ambing.”
Cara melaksanakan puasa Syawal adalah:
1. Puasanya dilakukan selama enam hari.
2. Boleh dilaksanakan sehari setelah Idul Fithri, namun tidak mengapa jika diakhirkan asalkan masih di bulan Syawal.
3. Boleh dilakukan secara berurutan namun tidak mengapa jika dilakukan tidak berurutan.
4. Usahakan untuk menunaikan qodho’ puasa terlebih dahulu agar mendapatkan ganjaran puasa setahun penuh. Dan ingatlah puasa Syawal adalah puasa sunnah sedangkan qodho’ Ramadhan adalah wajib. Sudah semestinya ibadah wajib lebih didahulukan daripada yang sunnah.
Semoga Allah senantiasa memberi taufik kepada kita untuk istiqomah dalam ketaatan hingga maut menjemput. Hanya Allah yang memberi taufik. Semoga Allah menerima amalan kita semua di bulan Ramadhan dan memudahkan kita untuk menyempurnakannya dengan melakukan puasa Syawal.