Sejak maraknya situs jejaring sosial seperti Facebook, Cinta Lama Bersemi Kembali (CLBK) nampaknya ikut menjadi tren. Kalau yang melakoni CLBK sama-sama masih lajang sih tidak ada masalah, tapi yang menjadi masalah yang melakoni adalah mereka yang sudah menikah! Facebook menggoyahkan dan mengahancurkan pernikahan sungguh bukan rumor, tapi nyata, nyata, dan nyata.
Ada seorang istri yang meninggalkan suaminya, kemudian menikah lagi dengan teman SD yang ditemuinya kembali lewat Facebook. Ada seorang suami yang kerap kali mengirim pesan dan rayuan mesra kepada wanita lain yang masih dicintainya, lagi-lagi lewat Facebook. Ada wanita, sudah menikah, rajin sekali menulis di Wall Facebook seorang lelaki yang bukan suaminya untuk memberikan sejuta perhatiannya. Nauzubillahi minzaliik…
Diawali dengan perjumpaan kembali di Facebook, meninggalkan pesan di inbox, chatting, reuni, terus berlanjut dan berlanjut. Di mata si laki-laki si dia terlihat semakin cantik, menarik, semakin memesona. Di mata si perempuan si dia terlihat sukses dalam karir, mapan, dan semakin dewasa. Cinta lamapun bersemi kembali.
Saling menyapa mesra, memberikan perhatian istimewa, berbagi cerita, curhat, bernostalgia. Apalagi jika perpisahan yang dulu terjadi bukan karena hal yang sangat prinsip, misalnya hanya karena pisah atau pindah sekolah. Ditambah lagi mereka menemukan banyak kekurangan pada pasangan sekarang (baca: suami/istri). CLBK menjadi kian tak terelakkan. Hanya si dia yang kini bertahta di pikiran kita.
Ketika cinta lama bersemi kembali maka semua terasa indah, hidup menjadi lebih bergariah, ada sensasi yang luar biasa. Benar sekali, karena setan menjadikan segalanya terasa indah buat mereka, ada khannas yang bersembunyi dan membisikkan ke dada mereka, dan khannas yang terus melancarkan tipu dayanya! Sehingga diterjangnya norma sosial, diterjangnya norma agama, semata-mata demi hawa nafsu.
Tak ada rasa takut lagi kepada Allah yang Maha Mengawasi setiap perbuatan kita. Tak dipikirkannya lagi perasaan sang suami atau istri yang bila tahu perbuatan mereka,akan terkoyak dan terluka hatinya. Padahal saat asyik bersama si dia, mungkin sang suami sedang bekerja keras, bekerjauntuk mewujudkan harapan dan impian istri tercintanya. Atau istrinya sedang kelelahan mengurus anak-anaknya di rumah, menyuapi, memandikan, menggendong anak-anak…
Sungguh, Allah membenci orang yang berbuat khianat. Allah Swt berfirman, ”Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang berkhianat.” (Q.S Al-Anfal [8]: 58)
Rasulullah Saw bersabda, “Orang yang paling di antara kalian adalah orang yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik perlakuannya terhadap keluargaku. Tiada yang memuliakan seorang istri, kecuali orang yang mulia. Dan, tiada seorang yang menghinakan seorang istri, kecuali orang yang hina.”
STOP, Berhenti, Jangan teruskan CLBK! Sebelum semua terlambat. Pikirkan lagi dengan hati yang jernih. Cinta seperti itu tidak akan berakhir bahagia, sebaliknya akan berakhir penyesalan dan duka.
Buang jauh-jauh cinta lama kita. Jangan biarkan cinta lama bersemayam di hati, jangan biarkan cinta itu bertunas, lalu tumbuh merekah!
Lihat di samping kita… Pasangan yang bertahun-tahun setia di samping kita, tak pernah sedetikpun meninggalkan kita walau bagaimanapun sulitnya hari-hari kita, dia yang berjuang bersama kita, dia yang telah menerima segala kekurangan kita, diaibu dari anak-anak kita.
Tatap anak-anak kita…amanah Allah kepada kita. Hati mereka harus dijaga dengan sekuat tenaga, jangan sampai terkoyak maupun terluka. Tegakah kita meruntuhkan kebahagiaan mereka demi nafsu kita? Kebahagiaan yang didapat bila ayah bunda lengkap ada bersama mereka. Sungguh, tak akan ada yang melebihi kasih sayang ayah dan ibu kandung mereka , orang tua terbaik untuk mereka. Ayah Bunda… Kebahagiaan anak-anak ada di tangan kita.
Wallohu ‘alam bishshowaab. Bangkok, 25 Maret 2011.
Blog ini dipersembahkan bagi setiap insan yang ingin berbagi pengetahuan tentang agama Islam, Jika ada banyak kekurangan dalam blog pengelola sangat berterima kasih jika diberi saran atau kritik agar lebih baik. Man Jadda wa Jadda " Barang siapa bersungguh-sungguh pasti akan dapat"
Kamis, 31 Maret 2011
Pangkal
Seekor tupai tampak berlari kencang. Ia juga melompat dari satu ranting ke ranting dengan begitu lincahnya. Ia terus berlari dan melompat, hingga akhirnya berhenti di pucuk sebuah pohon. Di situlah akhirnya tupai bernafas lega, “Ah, akhirnya aku bisa selama dari kejaran petani itu!” ucapnya sambil menoleh-noleh ke arah bawah pohon. Tak jauh dari situ, seorang petani tampak berlari sambil mendongak ke atas. Ia seperti mencari-cari sesuatu. “Aku harus bisa menangkap tupai itu,” ucapnya sambil menahan nafas yang mulai tersengal-sengal. Hingga akhirnya, ia berhasil menemukan jejak tupai yang bertengger di puncak sebuah pohon.
“Hei, tupai. Mau lari kemana lagi, kau? Aku akan terus memburumu. Gara-gara ulahmu, ladang coklatku tak bisa dipanen!” teriak sang petani sambil menunjuk-nunjuk ke arah tupai yang tetap bergeming di atas pohon.
“Hei petani, silakan saja kau berteriak-teriak. Kau tidak akan pernah mampu menangkapku, karena aku terlalu tinggi untukmu!” balas teriak tupai kepada petani.
Apa yang dikatakan tupai mungkin ada benarnya. Puncak pohon itu begitu tinggi dengan dahan dan ranting yang begitu jarang. Bisa dipastikan, sang petani tidak akan mampu meraih tubuh sang tupai yang berada di jauh ketinggian.
“Tidak! Aku akan cari cara untuk menangkapmu!” teriak sang petani sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam keranjang jinjingnya.
Sang petani mengeluarkan sebilah kampak. Beberapa saat kemudian, ia pun mulai mengarahkan kampak tajamnya itu ke pangkal pohon. Walau tinggi, pohon itu tergolong kurus dan begitu mudah untuk dirobohkan.
Benar saja, hanya dalam waktu yang tidak terlalu lama, sang petani berhasil membuat pohon seperti berada di ujung tanduk. Pangkalnya nyaris putus. Ia hanya perlu sedikit mendorong batang pohon itu untuk kemudian menumbangkannya. (muhammadnuh@eramuslim.com)
“Hei, tupai. Mau lari kemana lagi, kau? Aku akan terus memburumu. Gara-gara ulahmu, ladang coklatku tak bisa dipanen!” teriak sang petani sambil menunjuk-nunjuk ke arah tupai yang tetap bergeming di atas pohon.
“Hei petani, silakan saja kau berteriak-teriak. Kau tidak akan pernah mampu menangkapku, karena aku terlalu tinggi untukmu!” balas teriak tupai kepada petani.
Apa yang dikatakan tupai mungkin ada benarnya. Puncak pohon itu begitu tinggi dengan dahan dan ranting yang begitu jarang. Bisa dipastikan, sang petani tidak akan mampu meraih tubuh sang tupai yang berada di jauh ketinggian.
“Tidak! Aku akan cari cara untuk menangkapmu!” teriak sang petani sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam keranjang jinjingnya.
Sang petani mengeluarkan sebilah kampak. Beberapa saat kemudian, ia pun mulai mengarahkan kampak tajamnya itu ke pangkal pohon. Walau tinggi, pohon itu tergolong kurus dan begitu mudah untuk dirobohkan.
Benar saja, hanya dalam waktu yang tidak terlalu lama, sang petani berhasil membuat pohon seperti berada di ujung tanduk. Pangkalnya nyaris putus. Ia hanya perlu sedikit mendorong batang pohon itu untuk kemudian menumbangkannya. (muhammadnuh@eramuslim.com)
Ketika Keikhlasan Itu Hadir
Dakwatuna.com – Tangisku pecah, memasuki kamar kosku. Seperti berada dalam pelukan ibuku. Kamar tempatku menumpahkan segala rasa. Kamar tempatku merancang mimpi dan merajut asa. Disini aku bisa menangis sepuasnya. Aku bisa melakukan apa pun yang aku mau, termasuk menangis dengan tangisan paling menyayat seumur hidupku, begitulah aku mengistilahkannya. Kumatikan ponsel dan semua akses komunikasi. Aku tidak ingin bicara dengan siapapun, karena tak akan ada yang mengerti perasaanku saat itu.
Aku menangis, menjerit, memecah kesunyian, dan menumpahkan semua beban yang membuncah di dadaku. Tak satu pun orang di rumah kos ini. Hanya aku dan Tuhanku. Tuhanku? Kenapa aku bisa melupakannya…Tuhan tempatku bergantung. Tuhan tempatku bermohon, Allah tempatku berbagi.
Setelah hampir satu jam menangis, aku mulai merasa lelah. Seiring suara azan Isya dari masjid sebelah, aku mencoba bangkit. Berwudhu, membasuh wajahku, menyeka sisa air mata yang menempel di pipiku.
Rabb, nikmat Engkau yang mana lagi yang akan hamba dustakan?
Kenapa aku harus menyayat sedemikian menyayat padahal aku masih bisa merasakan dinginnya air wudhu membasahi permukaan kulitku. Setelah itu kuhadapkan diri pada Rabb-ku. Sholat Isya. Allahu Akbar…Maha Besar Allah yang telah menciptakan ujian dan cobaan dalam hidup. Mungkin inilah shalat terbaik dalam hidupku. Sholat dalam keadaan ingatanku akan kematian teramat kuat. Inikah shalat terakhirku?
Kenapa harus aku? Cukup kuatkah aku menjalaninya? Mampukah aku hidup tanpa mimpi dan asa?
Ingatanku kembali pada kejadian siang tadi saat berjalan sendiri melewati lorong-lorong sepi di salah satu rumah sakit. ini hari ke-6 aku menjalani rangkaian pemeriksaan tubuhku di rumah sakit. Keluhan anemia, mual muntah, hipertensi, dan asam urat tinggi kembali terngiang di kepalaku. Hari ini adalah penentuan, sakit apa aku sebenarnya.
Dengan tegap kulangkahkan kakiku menuju ruang periksa dokter spesialis ginjal dan hipertensi. Dengan tenang aku duduk di depan dokter sambil menyerahkan hasil-hasil lab yang jumlahnya sudah tak terhitung lagi.
saat selesai membaca hasil labku yang terbaru, tiba-tiba dokter itu menatapku dalam. Aku hanya tersenyum. Dia menatapku semakin dalam. Tak lama kemudian, meluncurlah kelimat panjang yang seolah menjadi pengantar bayanganku tentang sesuatu : …..KEMATIAN!!!
“Kamu punya Askes? Kerja dimana? Ada jaminan kesehatan nggak? Dengarkan baik-baik, kamu harus menjalani cuci darah dua kali seminggu. Satu kali cuci darah 600.000 rupiah. Artinya, kamu harus sedia uang minimal 4.800.000 rupiah setiap bulan. Kalau tidak, kamu akan mengalami komplikasi penyakit sampai koma dan bisa berakibat pada kematian, gimana?”
Aku perempuan berusia muda, yang datang sendiri ke rumah sakit dengan keyakinan bahwa penyakitku masih bisa di obati dengan minum obat secara rutin, tiba-tiba mendengar istilah baru bernama cuci darah.
Ya Tuhan, apa lagi ini? Jenis pengobatan macam apa ini? Mengapa begitu mahal? Apakah tidak ada alternatif lain? Sudah sedemikian parahkah penyakitku ini?
Segala hal tentang kematian tiba-tiba menggantung di pelupuk mataku. Kucoba menahan bulir bening itu turun dengan mengangkat wajah sambil menatap gambar-gambar yang menempel di dinding. Tidak mungkin aku menjalani cuci darah yang sedemikian mahal. Membayangkannya pun bahkan aku tak sanggup. Yang terngiang di telingaku hanyalah ungkapan sang dokter : Cuci Darah atau Mati!
Dan sampai kini ingin sekali kukatakan “Dokter, tidak bisakah Anda memberi sedikit harapan kepada seseorang yang harus menghadapi kematian ketika teman-temannya sedang merajut mimpi tentang masa depan?”.
Tiba-tiba ada suara keras yang memekakkan telingaku, “IKHLAS!!” Ya, hanya itu. Entah dari mana. Apakah itu suara nuraniku atau jawaban dari pertanyaanku? Aku tak pernah tahu. Yang jelas satu hal yang aku rasakan saat itu, ada kekuatan yang mendorongku untuk berkata, “Rabb, apapun yang akan terjadi, apapun yang harus hamba jalani, hamba ikhlas.”
Ada kekuatan besar yang mampu mendorongku untuk berhenti menangis, berhenti bertanya. Aku mencoba sendiri, lebih banyak mengingat Allah, mencoba memaknai sabar dan ikhlas yang tak terbatas.
Selembar kertas yang bertebaran di meja segera ku raih, jemari lentikku kembali menggerakkan pena..
Hari ini ku ingin sampaikan padamu tentang ikhlas…
Hari ini ku ingin sampaikan padamu tentang ikhlas…
Sungguh, Kesabaran itu tak pernah berbatas..
Yakinkan dirimu bahwa tak akan ada kata “Kesabaranku sudah habis” keluar dari mulutmu
Karena ikhlas itu tak pernah boleh berakhir…
Yakinkan dirimu bahwa tak pernah ada kata “Aku sudah tak sanggup lagi” mengalir dalam bibirmu
Karena tugasmu sebagai Abdi Rabbmu..tak akan pernah selesai
Yakinkan dirimu bahwa tak akan ada kata “Kesabaranku sudah habis” keluar dari mulutmu
Karena ikhlas itu tak pernah boleh berakhir…
Yakinkan dirimu bahwa tak pernah ada kata “Aku sudah tak sanggup lagi” mengalir dalam bibirmu
Karena tugasmu sebagai Abdi Rabbmu..tak akan pernah selesai
Yakinkan dirimu bahwa Rabb-Mu Maha Adil
Yakinkan dirimu bahwa engkau mencintai-Nya..
Yakinkan dirimu bahwa engkau mati hanya untuk-Nya..
Yakinkan dirimu bahwa tak pernah ada sesuatu dan seseorang dalam hatimu kecuali DIA.
Dan akhirnya…keikhlasan itu pun hadir….
Yakinkan dirimu bahwa engkau mencintai-Nya..
Yakinkan dirimu bahwa engkau mati hanya untuk-Nya..
Yakinkan dirimu bahwa tak pernah ada sesuatu dan seseorang dalam hatimu kecuali DIA.
Dan akhirnya…keikhlasan itu pun hadir….
Ketika kehendakmu tak sejalan dengan kehendak-Nya…
Biarkan kehendak-Nya yang berjalan atas hidupmu
Karena kehendak-Nya adalah kebaikan untukmu
Biarkan kehendak-Nya yang berjalan atas hidupmu
Karena kehendak-Nya adalah kebaikan untukmu
Ketika inginmu tak sesuai dengan ingin-Nya
Biarkan ingin-Nya menjadi skenario terbaik bagi hidupmu
Karena Dia Mahatahu segala hal tentang dirimu..
Biarkan ingin-Nya menjadi skenario terbaik bagi hidupmu
Karena Dia Mahatahu segala hal tentang dirimu..
Biarkan tangisan mengobati kekecewaanmu
Bukan kecewa pada Robb-Mu..
Tapi kekecewaan pada dirimu sendiri
Karena tak mampu berdiri diatas ingin-Nya..
Bukan kecewa pada Robb-Mu..
Tapi kekecewaan pada dirimu sendiri
Karena tak mampu berdiri diatas ingin-Nya..
Hidup harus terus dijalani, Sholehah terkasih…
Semenyakitkan apapun
Siap ataupun tidak
Karena Rabb-Mu tidak pernah butuh persetujuanmu atas setiap kehendak-Nya..
Semenyakitkan apapun
Siap ataupun tidak
Karena Rabb-Mu tidak pernah butuh persetujuanmu atas setiap kehendak-Nya..
(Didedikasikan untuk saudari saya semoga Allah mengangkat penyakitmu secepatnya, dengan kesembuhan yang tiada sakit setelahnya…)
Markaz Pribadi
Jatipadang, April 2010 ( Oleh: Shita Ismaida )
Jatipadang, April 2010 ( Oleh: Shita Ismaida )
Pemerah Susu Berhati Seputih Susu
“Tetapi Ibu, bukankah kita telah mengangkatnya sebagai amirul-mukminin, pemimpin orang-orang beriman? Berarti semua perintah-perintahnya yang sejalan dengan perintah agama harus kita patuhi, baik ia tahu ataupun tidak tahu. Tanggung jawab kita bukan kepada Khalifah, melainkan kepada Allah.”
Masih terngiang di telinga Umar bin Khatab jawaban lembut tapi tajam dari seorang gadis kepada ibunya yang menyuruh agar ia mencampurkan air ke dalam susu yang akan dijualnya. Umar terpesona dengan keluhuran akhlak gadis, anak penjual susu yang dicuri dengarnya semalam.
Saat itu malam gelap gulita. Madinah telah tertidur lelap. Para penduduknya telah dibuai mimpi, kecuali seorang yang masih terjaga. Karena, gelisah diusik rasa tanggung jawab maha dahsyat yang menggantung di lehernya. Dia selalu gelisah seperti itu, sehingga tidak pernah sekejab pun dapat berdiam diri. Ditelusurinya jalan-jalan dan lorong sempit kota Madinah yang sepi itu. Bertemankan kegelapan malam yang hitam pekat bagai tirai dan angin dingin menyusup tulang.
Orang itu keluar dan berjalan mengendap-endap. Setiap rumah diamatinya dari dekat. Dipasangnya telinga dan matanya baik-baik, kalau-kalau ada penghuninya yang masih terjaga karena lapar, atau yang tak dapat memicingkan matanya karena sakit, atau barangkali ada seseorang kelana yang terlantar.
Ia selalu mengamati kalau-kalau ada kepentingan umatnya yang luput dari perhatiannya karena ia yakin betul bahwa semuanya itu nanti akan dimintakan pertanggungjawabannya. Diperhitungkan senti demi senti, butir demi butir, dan tak mungkin ada yang terlewat dari penglihatan Allah swt.
Orang itu adalah Umar bin Khaththab ra.; amirul mu’minin.
Sudah panjang jalan dan lorong dilaluinya malam itu hingga tubuhnya letih. Keringat mengalir di sekujur badan meski udara dingin membalut. Oleh karena itu, disandarkannya tubuh besarnya pada dinding gubuk rombeng. Saking lelahnya, ia duduk di tanah mencoba istirahat sejenak. Jika letih kakinya agak berkurang, ia bermaksud melanjutkan perjalanan ke masjid. Tidak lama lagi fajar menampakkan diri, azan Subuh segera berkumandang.
Saat bersamaan seorang gadis remaja berpakaian compang camping baru saja memerah susu kambingnya untuk dijual besok pagi. Di luar rumahnya yang rombeng, hampir roboh serta dikelilingi belukar meranggas. Penghuninya cuma dua orang, ibu tua dan anak gadisnya yang meningkat remaja. Tidak ada orang lelaki di rumah mereka, sebab ayah si gadis sudah meninggal dunia.
Tiba-tiba Khalifah yang sedari tadi bersandar, mendengar ada suara lirih dari dalam gubuk itu. Suara itu seperti percakapan dua orang wanita. Yang satu ibu bagi yang lain, agaknya mereka membicarakan susu yang baru saja diperah dari kambing untuk dijual ke pasar pagi hari nanti.
Si ibu meminta anak gadisnya mencampur susu itu dengan air. Dengan begitu, akan jadi lebih banyak dan tentunya uang yang diperoleh nantinya akan bertambah, setidaknya cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka hari itu.
“Tidakkah kaucampur susu daganganmu dengan air? Subuh telah datang!” kata sang ibu. Anak gadisnya menjawab, “Bagaimana mungkin aku mencampurnya, sedangkan Amirul Mukminin telah melarang mencampur susu dengan air?” Sang ibu menimpali, ”Orang-orang telah mencampurnya. Kau campur saja. Toh, Amirul Mukminin tidak akan tahu.” Sang gadis menjawab,” Jika Umar tidak tahu, Tuhan Umar pasti tahu. Aku tidak akan mencampurnya karena Dia telah melarangnya.”
Dialog ibu dan anak ini sungguh sangat menyentuh Umar. Khalifah yang terkenal keras itu pun luluh dan terharu hatinya. Beliau sangat kagum dengan ketakwaan gadis miskin anak penjual susu itu. Ucapan terakhir gadis itulah yang membuat airmata Umar berderai. Ia tak kuasa menahan haru yang memenuhi dadanya. Airmata itu bukan airmata kesedihan. Tapi, airmata bangga dan penuh kegembiraan. Kebanggaan akan perilaku kesalehan gadis pemerah susu yang luar biasa.
Di usianya yang masih remaja, gadis itu tumbuh dalam sosok kesahajaan. Ditempa dalam suasana kerja keras, membanting tulang siang malam menyiapkan perahan susu jualannya. Tak ada keluh kesah, semuanya dilakoni dengan penuh bakti kepada ibu tercinta. Hal yang menarik lagi adalah kematangan jiwanya melebihi batas usia remajanya.
Kesahajaannya tampak dalam penampilan, tutur kata dan cita-cita. Dalam dirinya hanya ada satu keinginan yang kuat yaitu agar Allah meridhai semua yang dilakukannya. Ajakan sang ibu ditepisnya mentah-mentah karena dinilai bertentangan dengan hukum.
Namun begitu hal tersebut tidak lantas membuat hati si ibu tersinggung. Bahkan dia merasa tercerahkan dengan kesalehan putri semata wayangnya ini.
Namun begitu hal tersebut tidak lantas membuat hati si ibu tersinggung. Bahkan dia merasa tercerahkan dengan kesalehan putri semata wayangnya ini.
Tentu ceritanya jadi berbeda kalau kita tarik dengan fenomena ‘mama mia’ sekarang ini. Sekelompok ibu-ibu yang terobsesi dengan anak-anak mereka agar bisa tampil sebagai bintang film, bintang sinetron, bintang iklan dan sebagainya. Tidak peduli kalaupun harus mengumbar aurat, berlenggak lenggok ditonton banyak orang yang penting mendatangkan kocek yang tebal. Walaupun mereka harus merengek-rengek, membujuk, merayu dengan berbagai cara dengan satu keinginan ‘bisa jadi selebritis’. Astaghfirullah.
Sementara si pemerah susu ini, hanya berkutat di rumah, melayani ibu dan dagangannya. Tak ada baju mewah, tak ada perhiasan, tak ada parfum yang menjadi kelaziman di usianya. Barangkali kalau sekarang dia tak kenal bioskop, tak kenal diskotik, mall apalagi hotel. Walaupun kini menjadi lumrah bagi remaja yang memiliki orang tua dengan kelas ekonomi yang cukup berada, terutama di kota-kota besar, mall sudah menjadi rumah kedua. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka juga dapat mengikuti mode yang sedang beredar. Padahal mode itu sendiri selalu berubah sehingga para remaja tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Alhasil, muncullah perilaku yang konsumtif.
Perilaku konsumtif pada remaja sebenarnya dapat dimengerti bila melihat usia remaja sebagai usia peralihan dalam mencari identitas diri. Remaja ingin diakui eksistensinya oleh lingkungan dengan berusaha menjadi bagian dari lingkungan itu. Kebutuhan untuk diterima dan menjadi sama dengan orang lain yang sebaya itu menyebabkan remaja berusaha untuk mengikuti berbagai atribut yang sedang in. Remaja dalam perkembangan kognitif dan emosinya masih memandang bahwa atribut yang superfisial itu sama penting (bahkan lebih penting) dengan substansi. Apa yang dikenakan oleh seorang artis yang menjadi idola para remaja menjadi lebih penting (untuk ditiru) dibandingkan dengan kerja keras dan usaha yang dilakukan artis idolanya itu untuk sampai pada kepopulerannya.
Menjadi masalah ketika kecenderungan yang sebenarnya wajar pada remaja ini dilakukan secara berlebihan. Pepatah “lebih besar pasak daripada tiang” berlaku di sini. Terkadang apa yang dituntut oleh remaja di luar kemampuan orang tuanya sebagai sumber dana. Hal ini menyebabkan banyak orang tua yang mengeluh saat anaknya mulai memasuki dunia remaja. Dalam hal ini, perilaku tadi telah menimbulkan masalah ekonomi pada keluarganya.
Perilaku konsumtif ini dapat terus mengakar di dalam gaya hidup sekelompok remaja. Berabenya life style ini terbawa sampai dewasa. Sementara gaya hidup konsumtif ini perlu dukungan modal dan kekuatan finansial yang tidak sedikit. Maka masalah lebih besar akan terjadi bila pencapaian tingkat finansial itu dilakukan dengan segala macam cara yang tidak sehat. Mulai dari pola bekerja yang berlebihan sampai menggunakan cara instan seperti korupsi dan penipuan. Pada akhirnya perilaku konsumtif bukan saja memiliki dampak ekonomi, tapi juga dampak psikologis, sosial bahkan akhlaq.
Sebaliknya, gadis tokoh kita ini hidup di sebuah desa sebagai pemerah susu. Dengan rumah dari pelepah kurma, berlantai tanah. Makan dari hasil jualan susunya tiap hari. Pakaian compang camping dan bayangkan tiap hari bertemankan kambing-kambing yang harus diperahnya. Namun hidupnya tenang, tidak ada iri dan panas hati melihat rezeki orang lain. Keluarga ini rajin beribadah. Dan, dunia seolah sudah berhenti berputar karena dari hari ke hari hidup dengan keadaan yang terus begitu. Keluarga miskin ini pun hidup tenteram di tanah padang pasir yang tandus. Tapi, itulah anugerah Tuhan dan mereka mensyukurinya. Apa tidak hebat mereka.
Sebaliknya, gadis tokoh kita ini hidup di sebuah desa sebagai pemerah susu. Dengan rumah dari pelepah kurma, berlantai tanah. Makan dari hasil jualan susunya tiap hari. Pakaian compang camping dan bayangkan tiap hari bertemankan kambing-kambing yang harus diperahnya. Namun hidupnya tenang, tidak ada iri dan panas hati melihat rezeki orang lain. Keluarga ini rajin beribadah. Dan, dunia seolah sudah berhenti berputar karena dari hari ke hari hidup dengan keadaan yang terus begitu. Keluarga miskin ini pun hidup tenteram di tanah padang pasir yang tandus. Tapi, itulah anugerah Tuhan dan mereka mensyukurinya. Apa tidak hebat mereka.
Apa jadinya dengan seorang ibu rumah tangga yang suaminya cukup terpandang dan berpenghasilan baik. Ia dapat makan lebih dari cukup. Rumahnya cukup besar. Dapat menyekolahkan anak-anak dan memberi mereka uang saku yang cukup. Namun, ia merasa dirinya masih sial dan miskin. Sepanjang hari ia irihati kepada mereka yang sederajat dengan suaminya, tetapi memiliki mobil lebih bagus, perabot rumah lebih ngejreng dan simpanan di bank ratusan juta rupiah. Ibu ini menderita batin, karena merasa dirinya tidak beruntung, merasa dirinya masih miskin.
Dalam kehidupan kita, tak sedikit orang yang dendam dengan kemiskinan. Kemiskinan dilihat sebagai monster mengerikan yang harus dibunuh. Bahkan dengan cara apapun. Pertarungan dengan monster kemiskinan ini, melibatkan banyak taktik dan tipu muslihat. Bagi yang rapuh menghadapi serangan monster ini, Iblis amat kuat sebagai pendukung dan pembisik.
Tak heran jika, orang kemudian korupsi. Pejabat main sikat. Pemimpin pun, lupa pada amanahnya sebagai pemimpin rakyat. Seorang pemimpin bisa berbalik, menjadi pemimpin untuk kelanggengan dinasti kekayaan dan keluarganya, agar kemiskinan tak terwarisi turun temurun.
Tak heran jika, orang kemudian korupsi. Pejabat main sikat. Pemimpin pun, lupa pada amanahnya sebagai pemimpin rakyat. Seorang pemimpin bisa berbalik, menjadi pemimpin untuk kelanggengan dinasti kekayaan dan keluarganya, agar kemiskinan tak terwarisi turun temurun.
Hidup miskin telah dianggap sebagai aib, bukan dilihat sebagai guru kehidupan. Karena aib, tatkala seorang miskin merangkak kaya, ia malu ‘kecepretan’ orang miskin lain. Standar hidupnya naik, gaya hari-harinya berubah. Tiap aktivitasnya, dipenuhi polah tingkah yang neko-neko.
Di masyarakat, hal demikian selalu hadir dalam rutinitas hidup di desa dan perkotaan. Berjuta keluarga miskin rela tak makan, tapi ia terpuaskan menonton sinetron melalui televisi layar datar di rumahnya yang reot. Meski hasil kreditan. Musik dangdut dengan sound system menggelegar, bersaing antar satu kontrakan dengan kontrakan lain. Hiburan diri yang sesaat diperjuangkan, sementara nasib pedidikan anak-anaknya dilupakan.
Di masyarakat, hal demikian selalu hadir dalam rutinitas hidup di desa dan perkotaan. Berjuta keluarga miskin rela tak makan, tapi ia terpuaskan menonton sinetron melalui televisi layar datar di rumahnya yang reot. Meski hasil kreditan. Musik dangdut dengan sound system menggelegar, bersaing antar satu kontrakan dengan kontrakan lain. Hiburan diri yang sesaat diperjuangkan, sementara nasib pedidikan anak-anaknya dilupakan.
Mentalitas demikian, tak hanya melekat dalam diri masyarakat kecil. Ia juga telah membudaya dalam kehidupan sebagian besar elit di negeri ini. Dendam kemiskinan, memaksa mereka menumpuk-numpuk kekayaan. Aji mumpung tak terbendung. Pun, hingga liang lahat kekayaan itu harus tercitrakan dalam bentuk kuburan berdinding batu pualam. Jika perlu dilapisi emas. Tak peduli, apakah kepergiannya ke alam baka, meninggalkan sanak keluarga dan tetangga yang kelaparan.
Lebih dari itu, sebenarnya apa yang harus dicari dalam hidup ini. Kaya raya tetapi tidak pernah tenang hatinya, selalu panas, iri dan merasa masih belum kaya. Atau sebaliknya, menyadari kekurangan lalu menerima kekurangan itu apa adanya dan menjalankan hidup ini sebaik mungkin, yakni tidak menyakiti orang lain dan takwa kepada Nya. Sebab sesungguhnya, kemiskinan bukan suatu penderitaan. Semua tergantung pada sikap kita. Harta milik adalah rezeki, keberuntungan juga akibat usaha kita. Manusia boleh berusaha tetapi rezeki tetap bukan kita yang menentukan. Tuhan tetap memberikan rezeki, baik kepada orang jahat maupun saleh.
Nyatanya kita berusaha hidup baik dan keras berikhtiar, tetapi rezeki yang kita dapat pas-pasan. Sebaliknya, ada orang yang suka manipulasi, pemalas, mau enaknya sendiri saja, namun rezekinya terus mengalir. Sikap kita menghadapi rezeki dan kekayaan. Sikap kita dalam menghadapi ketidakberuntungan dan kemiskinan, akan menentukan apakah kita akan menderita atau tidak.
Penderitaan itu bukan hanya berasal dari persoalan harta milik. Penderitaan bukan hanya berasal dari kemiskinan. Penderitaan berasal dari sikap hidup kita sendiri. Sikap untuk menerima kenyataan sebagai kenyataan yang harus diterima. Pada waktu kita beruntung, kita harus terima dengan rasa syukur. Pada waktu kita tidak beruntung, kita terima sebagai kenyataan yang harus demikian. Dengan sikap hidup yang siap menerima apa adanya, sambil kita sendiri berusaha berperilaku seperti yang kita anggap paling baik, tentunya sesuai hati nurani paling bersih maka dunia menjadi terang. Kita pun akan hidup seperti gadis pemerah susu yang hidup sederhana di padang pasir yang tandus itu.
Pendek kata, penderitaan bukan hanya berasal dari kemiskinan. Penderitaan ada dalam hati manusia, dalam sikap hidup. Sesungguhnya merasa disingkirkan, tak disenangi lingkungan adalah penderitaan juga. Merasa tertekan, tidak bebas adalah penderitaan. Merasa berbuat salah adalah penderitaan. Menanggung sakit berat adalah penderitaan. Dihina dan direndahkan orang adalah penderitaan. Dan, seribu satu macam sumber penderitaan lain.
Pendek kata, penderitaan bukan hanya berasal dari kemiskinan. Penderitaan ada dalam hati manusia, dalam sikap hidup. Sesungguhnya merasa disingkirkan, tak disenangi lingkungan adalah penderitaan juga. Merasa tertekan, tidak bebas adalah penderitaan. Merasa berbuat salah adalah penderitaan. Menanggung sakit berat adalah penderitaan. Dihina dan direndahkan orang adalah penderitaan. Dan, seribu satu macam sumber penderitaan lain.
Terlalu sempit jika memandang bahwa penderitaan itu adalah gambaran sebuah kemiskinan. Padahal, wilayah penderitaan manusia itu sangat luas, bukan hanya soal kemiskinan atau kepemilikan harta benda. Penderitaan itu tidak pandang bulu. Yang kaya, yang miskin, yang berkuasa, yang terkenal, yang gagah, yang buruk rupa, yang tua, yang muda, semua mengenal penderitaan. Setiap manusia mengenal penderitaan.
Kemiskinan sebagai penderitaan sebenarnya pandangan kapitalistik. Hidup itu untuk memiliki harta benda sebab harta dan kekayaan itu akan menghasilkan kekayaan lagi. Kekayaan, itulah tujuan akhir kapitalisme. Bagi mereka yang masuk ke dalam golongan ini, kekayaan berlimpah adalah kebahagiaannya. Itulah citra kebahagiaan manusia sekarang. Akibatnya, orang mencoba “membeli” kekayaan dengan cara apa pun, hanya agar dikira bahagia. Memang, tampaknya hal yang mengada-ada.
Namun, kondisinya memang nyata. Orang akan merasa bahagia kalau memiliki banyak uang tabungan, deposito berdigit M, usaha di mana-mana, dan terus menghasilkan uang. Akibatnya, muncul kebahagiaan dengan berbagai simbol kekayaan “Rumahnya di daerah mana sih?; Mobilnya merk apa ya? Eh, sepatunya buatan mana? Week end-nya dimana”, atau pertanyaan-pertanyaan lain yang cukup risih didengar oleh mereka yang tidak biasa mendengar. Namun, pertanyaan itu akan menjadi biasa jika mereka yang “the have” melontarkannya. Ironis memang, tetapi itulah manusia dengan sisi kehidupannya.
Kemiskinan hanya salah satu dari sumber penderitaan. Dan, kemiskinan itu relatif lebih mudah menghilangkannya dari daftar sumber penderitaan manusia. Tidak usah heran bila ada sekelompok manusia yang bahagia setelah menjadi miskin. Dalam sejarah, terdapat sejumlah orang yang meninggalkan kekayaan dan sengaja menjadi miskin untuk mencari kebahagiaan hidup. Dengan kemiskinan itu justru hatinya lebih bersih, tak terikat nafsu duniawi. Tinggal melawan nafsu yang mementingkan diri sendiri seperti nafsu untuk dipuja, dikenal, dihormati, disanjung. Lebih dari itu, nafsu badaniah berupa kenikmatan, kemudahan dan kenyamanan hidup.
Sikap Umar yang menangis saat menyaksikan langsung ‘pagelaran takwa’ yang dimainkan secara apik oleh gadis ndeso itu tidaklah berlebihan, karena ternyata di kalangan rakyat jelata yang dipimpinnya ketaqwaan masih mengakar kuat. Di tengah kesulitan hidup tidak lantas pembolehan atas kecurangan, pewajaran atas semua bentuk penipuan. Gadis itu telah mempraktikkan secara nyata bahwa kemiskinan jangan sampai merusak kemuliaan yang telah Allah berikan kepada manusia. Hati yang mulia adalah jawaban dari semua ujian hidup yang dialaminya.
Putih dan bersihnya hati akan mencerminkan perilaku yang benar. Sebaliknya, kotornya hati akan mencerminkan kecenderungan perilaku yang salah. Semuanya terpulang pada insan yang memiliki hati. Apakah mampu membasuh hati untuk kebaikan yang hakiki atau menjerumuskannya ke lembah berbatu cadas untuk menjemput murka Allah dengan kesalahan yang dilakukannya. Wallahu a’lam.
“Mutiara” Di Jagad Raya
dakwatuna.com - “Ashobta Ya Shoohibi Syuraih, ma lii bayyinatun! Sahabatku Syuraih, Anda sungguh benar. Saya tidak mempunyai bukti yang kuat.” Itulah komentar sayyidina Ali saat hakim Syuraih memutuskan perkaranya. Ali tidak angkat bicara lagi. Ia tidak berdaya melawan peraturan dan undang-undang. Ia terima keputusan hakim itu dengan senang hati. Ia menyadari bahwa ia tidak dapat menghadirkan saksi yang mendukung tuntutannya.
Itulah ending perkara hukum yang melibatkan Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan seorang Yahudi. Sang khalifah tidak mampu meyakinkan bahwa baju besi yang dipakai orang Yahudi itu adalah miliknya. Namun si Yahudi itu melihat dengan mata kepala sendiri betapa puasnya Ali bin Abi Thalib terhadap keputusan yang dijatuhkan hakim tersebut. Ia heran mengapa seorang khalifah yang tengah berkuasa mau tunduk terhadap peraturan dan perundang-undangan.
Adegan mengharukan itu justru menjadi berbalik menyadarkan si Yahudi untuk mengakui bahwa baju besinya benar-benar kepunyaan khalifah Ali, yang dipungutnya sewaktu baju besi itu terjatuh dari onta sayyidina Ali saat hendak pergi ke medan Shiffin.
Peristiwa “baju besi” di atas menjadi sangat fenomenal dalam penegakan hukum di jagat raya ini. Dan itu semua tidak lepas dari peran hakim yang luar biasa yaitu keberanian Qadhi Syuraih mengambil keputusan. Dengan kedudukannya sebagai hakim, Syuraih berani mengambil keputusan tegas, berani dan adil. Keputusan yang ia tentukan tidak pandang bulu. Meski yang menjadi terdakwa seorang penguasa, oleh karena bukti menunjukkan ia kalah, maka harus diputuskan salah.
Syuraih direkrut pertama kali menjadi qadhi (hakim) di masa pemerintahan Umar bin Khaththab. Khalifah Umar membaca potensi ‘hakim’ pada diri Syuraih ini melalui interaksi lansung beliau di lapangan. Apa yang dilakukan Umar ternyata sangat efektif. Tidak membutuhkan waktu dan dana yang besar untuk sekadar melakukan serangkaian pekerjaan fit and proper test pejabat barunya. Tidak seperti sekarang, dana milyaran rupiah sudah dikeluarkan namun ternyata pejabat yang telah dinyatakan lulus fit and proper test malah masih terkait sejumlah kasus hukum dirinya. Penunjukan Syuraih al Harits sebagai hakim atas firasyat Umar ini justru melampaui metode fit and proper test itu sendiri.
Perjumpaan Syuraih dengan khalifah Umar bin Khathab terjadi ketika khalifah Umar sedang bertransaksi atas seekor kuda dengan seseorang. Khalifah menentukan persyaratan, bahwa pembayaran akan dilakukan sesuai harga kuda setelah riding test –uji tunggangan. Saat riding test dilakukan beberapa langkah, tiba-tiba kuda itu mati. Maka Umar komplain kepada pemilik kuda, ”Ambillah kembali kudamu.” ”Tidak”, Jawab orang itu menampik. ”Kita bawa perkara ini kepada hakim.” Pinta orang itu. ”Baiklah, kita tanyakan masalah kita kepada Syuraih.” Umar menyanggupi. ”Siapa Syuraih?” Tanya Umar menegaskan. ”Dia berasal dari Yaman”. Jawab orang itu menjelaskan. Maka keduanyapun pergi ke rumah Syuraih, dan menyampaikan perkaranya.
Kedua orang yang berselisih itu adalah seorang penguasa dan yang lain hanyalah rakyat biasa. Keduanya antusias menunggu keputusan Syuraih.
Islam agama keadilan, hukum Islam tidak mengenal kompromi dengan kekuasaan seseorang, meskipun hukum itu berbeda dengan pendapat penguasa. Maka Syuraih memandang khalifah Umar dan berkata :”Wahai Amirul Mukminin, kembalikanlah kuda itu seperti semula, atau belilah dengan uang yang telah kamu sepakati.”
Keputusan yang telah diambil Syuraih jelas memojokkan Umar sebagai kepala negara. Namun Umar tidak marah, bahkan beliau bergembira karena telah menemukan seorang yang tegas dalam menerapkan dasar-dasar hukum Islam seperti yang dikehendaki oleh Allah. Seorang yang jujur memberlakukan hukum, berjalan di atas yang benar, pemberani dan tidak ada yang ditakuti kecuali hanya Allah. Dia tidak peduli apakah yang dihadapinya seorang pejabat, anak mantan kepala negara, keluarga bangsawan, rakyat biasa ataupun pegawai pemerintahan. Sebab beliau senantiasa ingat firman Allah :” Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu penguasa di muka bumi, maka berilah keputusan diantara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.”
Tak heran jika kemudian khalifah Umar berkata pada Syuraih : “Tidak ada hakim yang tegas kecuali kamu. Pergilah ke Kufah, aku telah menunjuk kamu sebagai hakim di sana.”
Pada saat diangkat sebagai hakim, Syuraih bin al-Harits bukanlah seorang yang tidak dikenal oleh masyarakat Madinah atau seorang yang kedudukannya tidak terdeteksi oleh para ulama dari kalangan para pembesar Sahabat dan Tabi’in.
Orang-orang besar dari generasi terdahulu, telah mengetahui kecerdasan dan kecerdikan Syuraih yang sangat tajam, akhlaknya yang mulia dan pengalaman hidupnya yang lama dan mendalam. Dialah orang Yaman dari keturunan Kindah, yang mengalami hidup yang tidak sebentar pada masa Jahiliyah.
Ketika jazirah Arab telah bersinar dengan cahaya hidayah, dan sinar Islam telah menembus bumi Yaman, Syuraih termasuk orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta menyambut dakwah hidayah dan kebenaran. Waktu itu mereka telah mengetahui keutamaannya dan mengakui akhlak dan keistimewaannya.
Mereka sangat menginginkan bahkan mengandai-andaikan Syuraih ditakdirkan untuk hadir di Madinah lebih awal sehingga dapat bertemu Rasulullah saw. Jauh sebelum beliau wafat, dan mentransfer ilmu beliau yang jernih bersih secara langsung, bukan melalui perantara. Agar mendapatkan predikat “sahabat” setelah mengenyam nikmatnya iman. Dengan begitu, dia akan dapat menghimpun segala kebaikan. Akan tetapi dia sudah ditakdirkan untuk tidak bertemu dengan Rasulullah.
Umar al-Faruq radliyallâhu ‘anhu tidaklah tergesa-gesa, ketika menempatkan seorang Tabi’in pada posisi besar di peradilan, sekalipun pada waktu itu langit Islam masih dipenuhi sinar dengan bintang-bintang para sahabat Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam. Namun waktu jualah yang membuktikan kebenaran firasyat Umar dan ketepatan tindakannya dimana Syuraih menjabat sebagai hakim di tengah kaum muslimin sekitar enam puluh tahun berturut-turut tanpa putus.
Pengakuan terhadap kapasitas dan kompetensinya dalam jabatan ini dilakukan secara silih berganti sejak dari pemerintahan Umar, Utsman, Ali hingga Muawiyah radliyallâhu ‘anhum. Begitu pula diakui oleh para khalifah Bani Umayyah pasca Muawiyah, hingga akhirnya pada zaman pemerintahan al-Hajjaj dia meminta dirinya dibebaskan dari jabatan tersebut. Dan pada waktu itu dia telah berumur seratus tujuh tahun, dimana hidupnya diisi dengan segala keagungan dan kebesaran.
Pengakuan terhadap kapasitas dan kompetensinya dalam jabatan ini dilakukan secara silih berganti sejak dari pemerintahan Umar, Utsman, Ali hingga Muawiyah radliyallâhu ‘anhum. Begitu pula diakui oleh para khalifah Bani Umayyah pasca Muawiyah, hingga akhirnya pada zaman pemerintahan al-Hajjaj dia meminta dirinya dibebaskan dari jabatan tersebut. Dan pada waktu itu dia telah berumur seratus tujuh tahun, dimana hidupnya diisi dengan segala keagungan dan kebesaran.
Hakim atau qadhi memang merupakan pekerjaan mulia, tapi barangkali sekaligus ‘menyeramkan’. Apalagi bagi orang yang mengimani adanya Pengadilan Agung di hari Kiamat kelak. Bagaimana tidak ‘menyeramkan’? Ibaratnya ‘nasib’ seseorang tergantung pada palu yang ada di genggaman hakim. Bayangkan jika seorang hakim, karena pengetahuannya yang kurang atau karena ngawurnya, memvonis orang yang tak bersalah dengan hukuman mati, misalnya. Atau karena vonisnya, orang jadi kehilangan haknya. Apa tidak gawat?
“Hakim itu ada tiga golongan; satu di surga dan yang lain di neraka. Yang di surga adalah orang yang mengetahui kebenaran dan memutuskan dengannya. Seorang yang mengetahui kebenaran, tapi sewenang-wenang dalam menghakimi, dia di neraka. Seorang lagi menghakimi orang lain tanpa pengetahuan, ini pun di neraka.” Riwayat Abu Daud hadits ke-3573, at-Tirmizi hadits ke-1322, Ibn Majah hadits ke-2315)
Maka dari hadits yang dinukil di atas, kita dapat petunjuk bahwa seorang hakim tidak boleh bodoh terutama mengenai bidangnya, hukum. Celakalah bila, hanya karena membawa ijazah sarjana hukum dan ‘nasib baik’, seoseorang yang tidak menguasai bidang hukum, tiba-tiba diangkat menjadi hakim semata-mata karena pengetahuannya mengenai seluk-beluk hukum, tanpa memiliki mental seorang hakim: jujur, bersih, adil, berani dan tidak emosional.
Untuk memagari agar orang bodoh tidak menjadi hakim, rasanya lebih mudah ketimbang menjauhkan orang yang berpengetahuan tapi tak bermental hakim dari jabatan hakim. Sebab urusan mental tentu lebih sulit ditangani secara formal birokratif dan administratif. Padahal orang pintar yang mentalnya di ‘bawah standar’ tentunya lebih besar potensinya untuk menimbulkan kerusakan.
Hakim sama dengan lembaga pengadilannya, boleh dikata merupakan semacam symbol keadilan. Wibawanya tegak bersama keadilan yang ditegakkannya. Maka bila seorang hakim atau lembaga pengadilan kok sampai memutuskan keputusan yang tidak adil atau membatalkan keputusannya sendiri yang adil, bukan saja citranya tercoreng; lebih dari itu, orang pun menjadi bingung: kemana hendak mencari keadilan?
Dan tanpa ‘mental hakim yang kuat, rasanya memang sulit membayangkan tegaknya keadilan.
Mudah-mudahan Allah meridhai Umar al-Faruq yang telah menghias wajah peradilan Islam dengan permata yang mulia lagi asli. Mutiara yang putih dan tampak menawan.
Mudah-mudahan Allah meridhai Umar al-Faruq yang telah menghias wajah peradilan Islam dengan permata yang mulia lagi asli. Mutiara yang putih dan tampak menawan.
Beliau telah memberikan lentera terang kepada kaum muslimin yang hingga sekarang mereka masih mengambil sinar kefaqihannya terhadap syariat Allah. Mengambil petunjuk dengan cahaya kefahamannya terhadap Sunnah Rasulullah. Dan berbangga dengannya terhadap umat-umat lain pada hari kiamat. Mudah-mudahan Allah merahmati Syuraih al-Qadhli.
Dia telah menegakkan keadilan di tengah manusia selama enam puluh tahun, keputusan hukumnya selalu akurat, tidak pernah siapapun merasa terdzalimi dengan putusan hukumnya. Tidak pernah melenceng dari kebenaran serta tidak pernah membedakan antara penguasa dan rakyat jelata.
Sejarah Peradilan Islam telah bergelimang cahaya keteladanan Syuraih yang menawan dan kharisma akhlaknya berkibar hingga menundukkan kalangan elit dan awam terhadap syari’at Allah yang ditegakkan Syuraih bahkan penerimaan mereka terhadap hukum-hukum-Nya.
Senin, 24 Januari 2011
21 Kelemahan Gerakan Dakwah Masa Kini
DR. Hisyam At-thalib dalam bukunya "Dalil Attadrib Al-Qiyadi" (The International Institute of Islamic Thought 1995) mengungkapkan 21 kelemahan gerakan dakwah masa ini. Kelemahan-kelemahan tersebut harus diungkap agar para aktivis dakwah dan qiyadahnya menyadarinya dengan hati yang ikhlas dan pikiran yang lapang. 21 kelemahan tersebut adalah hal-hal yang sangat prinsip dan menjadi faktor-faktor kemunduran gerakan Dahwah kalau tidak bisa dikatakan sebagai faktor-faktor kehancurannya.
Melihat dan mengungkap 21 kelemahan tersebut adalah melalui kacamata internal gerakan dakwah itu sendiri dan bukan dari sisi para pengamat dari luar, namun dari pelaku dari dalam gerakan itu sendiri. Diiharapkan, para aktivis gerakan dakwah dan para qiyadahnya menyadari hal-hal tersebut dan pada waktu yang sama siap mengoreksi diri untuk menatap masa depan yang lebih baik dan cerah lagi.
Bagi yang tidak siap melihat kelemahan dalam diri, siapapun dia dan apapun nama gerkannya, bersiap-siaplah menuju kemunduran dan kejumudan. Hanya orang-orang yang berani mengakui kelemahan diri dan kemudian mau merubahnya yang memiliki peluang berkembang dan meraih kesuksesan di masa yang akan datang. Apalagi, masyarakat hari ini sudah mulai cerdas untuk menilai mana yang akan bermanfaat bagi mereka dan mana yang mudharat.
kelemahan pertama (1) : Kegagalan Menerapkan Sistem Syura
Gerakan Dakwah belum mampu menerapkan sistem syura secara utuh dan sempurna. Situasi dan kondisi yang mendominasi berbagai gerakan dakwah adalah sistem "assam'u wat tho'ah" (dengar dan taat). Memang sebagian qiyadah dakwah selalu menyerukan sistem syura. Namun, disayangkan hanya sebatas teori belaka. Pada tataran prakteknya masih jauh panggang dari api. Debat apakah syura itu mengikat atau tidak, khususnya bagi qiyadah juga masih belum tuntas.
Kita butuh kepada sebuah sistem syura yang mengikat, namun terorganisir dengan baik berdasarkan kaedah-kaedah dan dasar-dasar ilmiyah yang mapan. Sebab itu, perlu keterlibatan sebanyak mungkin orang-orang yang credible dan qualified sebagai anggota majelis syura agar kebijakan dan keputusan yang diambil menjadi lebih dekat kepada kebenaran, demikian juga halnya dengan implementasi kebjikan dan keputusan itu.
Sistem syura yang diamanahkan Al-Qur'an itu perlu dipahami secara pasti, bukan dengan konsep yang remang-remang. Kita harus befikir dan bekerja keras untuk memahaminya dengan baik dan maksimal sehingga sampai kepada kesimpulan yang pasti dan yakin, apalagi kita sekarang hidup di zaman yang serba pasti.
Kelemahan ke 2 : Lemahnya Team Work
Tidak diragukan bahwa harokah dakwah telah berhasil melahirkan individu-individu yang istimewa. Namun persoalan berikut yang muncul ialah saat mereka itu diminta beramal dalam satu tim kerja (team work) untuk melakukan suatu program bersama. Berbagai gerakan dakwah masih saja sampai saat ini dipimpin oleh segelintir orang (itu-itu saja) yang seharusnya sudah diagantikan team work secara jama'i (yakni kepemimpinan kolektif atau kepemimpinan yang silih berganti). Tanpa menyadari bahwa hasil amal jama'i itu pasti lebih afdhal dari pada amal fardi (kerja individu). Implikasinya ialah muncul lingkungan yang tidak kondusif/terbelakang. Faktor penyebab utamanya ialah kepemimpinan tunggal dalam semua aspek kehidupan harokah.
Bapak/murabbi/naqib telah menjadi pemimpin mutlak di keluarga (usrah). Kondisi itu juga sama dengan apa yang dialami oleh sekolah-sekolah, lembaga-lembaga pemerintahan, militer dan partai-partai (di negeri Muslim). Sistem seperti ini telah bercokol terhadap semua lembaga/entitas kita, padahal sistem tersebutlah yang menjadi penyebab keterbelakangan kita.
Bapak/murabbi/naqib telah menjadi pemimpin mutlak di keluarga (usrah). Kondisi itu juga sama dengan apa yang dialami oleh sekolah-sekolah, lembaga-lembaga pemerintahan, militer dan partai-partai (di negeri Muslim). Sistem seperti ini telah bercokol terhadap semua lembaga/entitas kita, padahal sistem tersebutlah yang menjadi penyebab keterbelakangan kita.
Kalau saja kita mencermati dunia internasional, kita akan menemukan Eropa dengan spirit jiddiyyah (kesungguhan) dalam beramal terus menerus, adalah yang pertama mengangkat syi'ar (semboyan) kebebasan dalam pengertian modern dan telah mendirikan negara-negara nasionalis. Akan tetapi, Amerika telah melampaui kemajuan Eropa melalui penerapan sistem "asimilasi" yang menyatukan berbagai jenis kebangsaan dan ditata dalam sebuah spirit kesungguhan dan untuk beramal secara serius dan sungguh-sungguh. Sedangkan Jepang telah pula melampaui kemajuan Eropa dan Amerika melaui spirit team work dan loyalitas pada tradisi dan nilai-nilai agama mereka.
Anda harus membayangkan amal Islami itu harus dijalankan bagaikan "foot ball team". Kendati semua pemain terbaik dunia dikumpulkan dalam satu tim sepak bola, namun di antara mereka tidak ada spirit "total foot ball team", pasti tim tersebut kalah menghadapi tim lain yang mungkin di bawah mereka kepandaiannya, namun konsisten dengan spirit foot ball teamnya.
Kelemahan ke 3 : Kegagalan Tarbiyah Kaum Ibu dan Anak-Anak
Kegagalan yang jelas terjadi pada kaum ibu dan anak-anak. Saat kita berhasil mentarbiyah sebahagaian kaum bapak/lelaki, kita gagal di sektor lain (kaum ibu dan anak-anak). Kita belum mampu membentuk pergerakan kaum ibu yang efektif. Kaum ibu di kalangan kita masih belum mampu -kecuali segelintir saja- memenej diri mereka sendiri atau memberi pengaruh kepada wanita-wanita muslimah lainnya. Mayoritas kaum ibu di kalangan kita belum mampu berkomunikasi dengan baik dengam berbagai kalangan wanita lainnya atau berdialog dalam berbagai problematika masyarakat.
Sedangkan di sisi lain, kita melihat kelompok-kelompok nasionalis dan kiri mengeksploitasi kaum wanita semaksimal mungkin untuk mencapai target-target politik mereka. Kita belum mampu memaksimalkan potensi kaum wanita Muslimah yang begitu dahsyat, (khususnya dalam mencetak generasi berkualitas tinggi).
Begitulah mereka -kecuali dalam kondisi yang sangat terbatas- belum efektif dan mampu bersaham banyak dalam gerakan kita.. Padahal kita mengklaim dan bercita-cita bahwa kaum ibu kita mampu mentarbiyah anak-anak kita menjadi para pemimpin dan tokoh masa depan, sedangkan kita belum memberikan perhatian yang penuh dalam melibatkan dan mempersiapkan mereka (sebagi sumber pemimpin masa depan). Masalah ini masih menjadi pemandangan yang paradoks dalam gerakan Islam. Kita sulit memenangkan pertarungan jika 50 % dan mungkin lebih (jumlah kaum ibu) masih terabaikan dan terkucilkan dalam the real battle...
Dalam konteks yang sama, kita belum mencurahkan tenaga kita untuk mepersiapkan anak-anak kita dan mengembangkan potensi diri mereka (agar lebih baik dari kita). Prosentase materi pendidikan Islam khusus anak-anak, misalnya, belum lebih dari 5 % dari yang seharusnya... Kita memprediksi mereka mampu membaca dan memahami buku-buku untuk kaum dewasa.
Begitulah mereka -kecuali dalam kondisi yang sangat terbatas- belum efektif dan mampu bersaham banyak dalam gerakan kita.. Padahal kita mengklaim dan bercita-cita bahwa kaum ibu kita mampu mentarbiyah anak-anak kita menjadi para pemimpin dan tokoh masa depan, sedangkan kita belum memberikan perhatian yang penuh dalam melibatkan dan mempersiapkan mereka (sebagi sumber pemimpin masa depan). Masalah ini masih menjadi pemandangan yang paradoks dalam gerakan Islam. Kita sulit memenangkan pertarungan jika 50 % dan mungkin lebih (jumlah kaum ibu) masih terabaikan dan terkucilkan dalam the real battle...
Dalam konteks yang sama, kita belum mencurahkan tenaga kita untuk mepersiapkan anak-anak kita dan mengembangkan potensi diri mereka (agar lebih baik dari kita). Prosentase materi pendidikan Islam khusus anak-anak, misalnya, belum lebih dari 5 % dari yang seharusnya... Kita memprediksi mereka mampu membaca dan memahami buku-buku untuk kaum dewasa.
Sesungguhnya pendidikan anak sejak balita sampai dewasa harus dirancang khusus dengan apik (tentu dengan mendirikan sekolah-sekolah percontohan dan alternatif). Gerakan dakwah masih banyak kehilangan dalam sektor ini karena mengabaikannya (dan tidak menjadikannya sebagai agenda utama).
(bersambung, insya Alloh)
Kelemahan ke 4 : Munculnya Pemimpin ala 'Syekh'
Seringkali gerakan dakwah melahirkan pemimpin ala/model 'Syekh'. Seakan dia adalah pahlawan malaikat yang legendaris; memiliki kemampuan membuka tabir (ghaib), kekuatan superman, mengetahui segala sesuatu dan menguasai segala sesuatu dan ... (ini dia) memimpin jamaah/organisasi seumur hidup ...
Nasib dan masa depan gerakan dakwah sangat terikat dengan model pemimpin seumur hidup seperti ini ... Sebab itu, tidak mungkin menyingkirkannya dari kursi kepemimpinan ... Semua aktivitas dan tindak tanduknya sangat menentukan warna dan arah organisasi, apapun bentuknya ... Jika keluar negeri, ia tetap mengendalikan organisasinya dari jauh ...
Dalam pertemuan-pertemuan, pemimpin model seperti ini selalu mendominasi jalannya acara. Ia bicara kapan dia mau ... di mana ia mau dan sebanyak apa yang dia mau ... serta judul apa yang dia inginkan ... Padahal dia sama sekali tidak mempersiapkan diri sebelumnya ... Tidak pula menyusun pikiran-pikiran atau catatan-catatannya. Dia memiliki hak untuk menguasai pembicaraan dan semua hadirin harus menampakkan penghormatan padanya dan mendahulukannya dalam segala sesuatu, tanpa peduli atas tuntutan posisi kepemimpinannya yang memerlukan keahlian-keahlian, kemampuan-kemampuan dan spesialisasi.
Problem/hambatan utama yang dihadapi para pemimpin level kedua ialah siapa gerangan yang akan mampu menggantikan 'Syekh' itu? Setiap mereka sudah ditempel dijidatnya sebuah keyakinan bahwa mereka tidak ada apa-apanya di hadapan sang 'Syekh' itu ... Tawadhu' atau 'ketundukan' seperti ini sudah menjadi syarat pembentukan/rekrutmen haraki ... Mayoritas mereka tidak pernah berlatih atas kebebasan berpendapat dan kepemimpinan melalui praktek syura jama'i. Penghormatan yang agung terhadap 'Syekh' tidak memungkinkan mereka untuk menantangnya dan berbeda pendapat dengannya, bahkan hanya sekedar mempertanyakannya ... apalagi membangun pemikiran/pendapat yang berbeda dengannya ...
Terkadang hubungan yang dibangun tercerminkan dalam ungkapan sufi "murid di hadap guru (Syekh)-ya harus seperti mayyit (orang mati) di hadapan orang yang memandikannya". Demikianlah dalam banyak hal keputusan yang sangat diperlukan dari sang 'Syekh' bisa saja berubah menjadi sebuah doa'. Amat sangat disayangkan kondisi seperti ini berulang dan terus menerus terjadi (di banyak kawasan, tanpa terkecuali di Indonesia ), dan bahkan sampai ke tingkat sebahagian mereka menuduh sebagian yang lain dengan perkataan: "Sesuai, nifaq (atau pura-pura) atau berpisah". Kita berlindung pada Allah dari ungkapan demikian. Namum, kita juga menemukan sebagian sifat-sifat itu paling tidak ada pada sebagian besar para pemimpin gerakan dakwah.
Kita sekarang harus mempelajari dengan sungguh-sungguh dan objektif paraktek dan pengalaman dunia internasional moderen di mana untuk masa terbaik (kepemimpinan) yakni antara 4 sampai 6 tahun saja dan mungkin diperpanjang hanya untuk satu kali masa jabatan ... Sebuah kondisi yang memungkinkan untuk memimpin itu paling lama hanya 12 tahun. Ketika masa kepemimpinan selesai, maka mantan para pemimpin itu bisa bersaham positif dan efektif melalui komite khusus/spesialis atau sebagai penasehat bagi pemimpin yang baru disebabkan kehormatannya atau keahliannya atau pengalamannya.
Kelemahan ke 5 : Kehilangan Peran Kelembagaan
Gerakan Islam menyandarkan gerakannya pada kekuatan individu, di mana tugas/peran gerakan diwakilkan kepada mereka. Hal seperti ini mengharuskan ketergantungan fungsi dan tugas lembaga kepada para individu tersebut. Akhirnya terjadi ketidak-stabilan dan banyaknya perubahan tugas / peran dan kekurangan yang luar biasa dalam memenuhi berbagai peran yang diperlukan oleh lembaga.
Beramal/bergerak didasari lembaga amat jarang kita lihat. Ada beberap lembaga, tapi sangat terbatas, yang dibentuk berdasarkan strategi, program kerja dengan spirit team work, serta organisasi yang sehat. Sebab itu, gerakan dakwah belum mampu mengejewantahkan/mewujudkan tujuan-tujuannya melalu lembaga-lembaga (yang sesuai).
Bahkan sebagian lembaga yang ada (termasuk partai politik) malah menjadi sia-sia bagi gerakan dakwah yang seharusnya membantu kemajuan gerakan dakwah, dan (bahkan ada yang menyimpang dan menjadi blunder) bagi gerakan dakwah itu sendiri. Masyarakt menjadi kehilangan harapan terhadap perbaikan kehidupan mereka.
Semua itu, tak lain, peran individu terlalu menonjol dan dominan. Tidak lagi diperankan adanya lembaga. Karena saking kuat pengaruh dan peranan individu. Karena itu, berkurangnya peranan lembaga ini, mendorong terjadi penyimpangan yang sangat fatal.
Kendati beberapa individu gerakan dakwah itu berhasil dalam meuwujudkan proyek-proyek dakwah pribadi mereka, namun mereka gagal menyukseskan berbagai aktivitas yang bersifat jama’i. Sebagaimana gerakan dakwah juga belum mampu sampai saat ini melahirkan solusi yang mendesak terhadap “fiqh muassasat” dengan bahasa dan konsepsi moderen yang dipahami.
Aktivitas dakwah akan selalu terbatas kepada “slogan” sampai lahir di seluruh negeri kita (Islam) lembaga-lembaga dakwah Islam yang bersifat massif yang sukses dengan prosentase 10 lembaga besar di setiap negeri Islam, sebelum kita berhak mengkalim untuk masuk ke dalam percaturan menegakkan lembaga-lembaga yang lebih besar lagi (dalam bentuk negara) dengan sukses.
Kelemahan ke 6 : Mencampuradukkan Antara Ghoyah dan Wasilah
Tidak sedikit dari kalangan gerakan dakwah (bahkan para qiyadahnya) mencampuradukkan antara ghoyah/tujuan dengan wasilah/sarana. Sering sekali kita menyaksikan bahwa kemaslahatan jama'ah menjadi standar kerja dan kesuksesan.
Padahal kita tahu bahwa jamaah itu pada hakikatnya hanya sarana untuk berkhidmat/melayani tujuan perbaikan kondisi masyarakat.
Pencampuradukkan itu telah menyita jamaah untuk sibuk memikirkan dan bekerja untuk kepentingannya melebihi kepentingan masyarakat. Padahal jamaah itu pada awalnya didirikan bertujuan untk memperbaiki dan melayani masyarakat.
Sebuah survey telah membuktikan bahwa mobilisasi waktu, harta dan tenaga anggota jamaah tercurah untuk kepentingan internal sekitar 70 % dan hanya 30 % yang diberikan untuk kemaslahatan masyarakat banyak.
Sedangkan urutan yang benar adalah kebalikannya. (Dalam banyak kasus, potensi masyarakat atau luar jamaahlah yang disedot sebanyak mungkin untk kepentingan elite jama'ah.
Sesungguhnya jama'ah sekarang sudah menjadi partai yang muqaddas (disucikan). Orientasinya persis seperti partai umumnya yang didirikan sejak awal untuk kepentingan diri dan anggotanya.
(Munculnya pemikiran “aljamaah hiyal hizb, wal hizb huwal jamaah”, membuat jamaah semakin hancur). Inilah faktor yang menyebabkan jamaah itu tidak berbeda dengan club olah raga atau organisasi profesi di mana ruang lingkup pelayanannya terbatas pada anggotanya saja.
(Dalam banyak kasus, jamaah lebih buruk lagi di mana anggota/grassroots-nya saja tidak terurus sedangkan elitenya hidup berfoya-foya penuh kemewahan dengan sumber harta yang tidak jelas, dengan alasan menyesuaikan diri dengan kondisi pergaulan. Walaupun ada pelayanan masyarakat dilakukan itupun dengan tujuan mendapatkan pujian atau dukungan suara pemilu).
Sebagaimana yang kita ketahui pada umumnya gambaran sebuah partai itu ialah organisasi yang terdiri dari para anggotanya yang sibuk dengan kepentingan anggotanya saja, tanpa melirik peran utama yang seharusnya dimainkan dalam masyarakan secara keseluruhan.
Sebab itu, mayoritas masyarakat tidak mau peduli atau empati terhadap kezaliman yang menimpa jama'ah/tokohnya. Fenomena ini diiringi pula oleh kehilangan eksistensi kelompok Islam yang mampu menduduki posisi (dalam masyarakat) sebagaimana kelompok sekuler sebagai hasil dari tidak terjalinnya kerjasama antara gerakan dakwah atau jama'ah yang ada.
Sesungguhnya strukturisasi gerakan dakwah terkadang juga menjadi penghambat untuk merealisasikan tujuan-tujuan pokoknya.
Harus ditekankan —tanpa ragu-ragu— keharusan gerakan dakwah mencarikan solusi berbagai persoalan umat secara umum dan menciptakan solusi tersebut merupakan tantangan langsung yang dihadapi gerakan dakwah (masa kini).
Demikian pula, gerakan dakwah berkewajiban untuk memobilisasi seluruh potensi dan kekuatannya untuk memberikan solusi berbagai persoalan (masyarakat) tersebut, agar umat Islam yakin bahwa gerakan dakwah itu adalah benteng yang aman yang memungkinkan mereka besandar/berlindung dan concern betul terhadap semua urusan mereka.
Kelemahan ke 7 : Fanatik Kesukuan dan Nasionalisme
Secara teori, gerakan dakwah meyakini wihdatul ummah (kesatuan umat) dan dakwah internasional. Akan tetapai dalam prakteknya kita belum menemukan implementasi yang memadai terhadap maknanya. Prilaku kita masih diwarnai kecenderungan dan karakter kesukuan dan nasionalisme (kewarganegaraan masing-masing).
Fenomena tersebut nampak dengan jelas saat berbagai pertemuan di mana setiap kita masih tergantung kepada teman se kabilah atau senegaranya. Sedikit sekali interaksi sosial kita dengan mereka yang di luar ikatan kedaerahan dan kenegaraan… Adapun dalam level qiyadah (kepemimpinan) memang sudah ada pertemuan-pertemuan rutin berskala internasional dengan para pemimpin lainnya. Namun, perlu diakui, masih sering tersandung oleh keinginan-keinginan yang didasari lingkup dan tantangan bersifat kewiliyahan dan lokal.
Kendati pertemuan-pertemuan tersebut dianggap merupakan masalah yang asasi untuk saling bertukar informasi, pengalaman, menyusun strategi bersama dan koordinasi kerja serta keyakinan kita bahwa musuh-musuh kita bekerja melawan kita dengan kesatuang langkah, namun harus diakui bahwa kita belum berhasil menghadapi mereka melalui kesantuan langkah pula.
Kita telah tertipu oleh pemeo yang berbunyi : “Penduduk Mekkah lebih tahu tentang jalan-jalannya”. Kondisi sekarang sudah berubah. Kita lupa bahwa orang asing (bukan penduduk asli) yang spesialis dan mengamati serta mempelajari kondisi negeri kita bisa saja ia lebih tahu tentang negeri kita dari apa yang kita ketahui. Sebagaimana juga halnya sangat memungkinkan sebagaian pakar tertentu yang bukan penduduk asli mampu memberikan advis, pengalaman mereka yang akan bermanfaat untuk berbagai aktivitas lokal kita.
Sarana komunikasi internasional sekarang telah menjadikan bumi ini semakin hari semakin kecil dan semakin dekat. Pengertian “small village” benar-benar menjadi kenyataan. Itulah pemahaman internasionalisasi yang digalakkan Islam sejak kemunculannya.
Namun disayangkan, berbagai gerakan dakwah masih saja pandangan terhadap berbagai urusan/masalahnya terbelenggu oleh cara pandang lokal dan nasional setiap negeri sehingga setiap wilayah atau negeri masih terisolasi dari wilayah atau negeri Islam lainnya.
Kelemahan ke 8 : Tidak Memiliki Perencanaan
Kebanyakan harokah/gerakan dakwah dari hari ke hari berjuang sebatas mempertahankan eksistensi diri. Sedikit sekali mendapatkan kesempatan untuk menyusun perencanaan tahunan, lima tahunan dan sepuluh tahunan.
Berbagai aktivitasnya hanya dimenej melalui tantangan terhadap berbagai krisis yang sedang terjadi. (Celakanya lagi) sering kali terjadi aktivitas rutinitas itu berubah menjadi spontanitas (yang kehilangan ruh/spirit, sehinga terlihat dengan nyata sebagai gerakan yang reaktif)…
Tidak memiliki perencanaan kerja yang dirancang sebelum beraktivitas telah menyebabkan ketidak jelasan dalam merumuskan target, distribusi/penempatan SDM yang buruk (bukan berdasarkan the right man on the right place, bahkan dalam banyak kasus didasari like and dislike) telah menyebabkan kekacauan dalam menentukan skala prioritas dan kehilangan menentukan arah yang jelas.
Kita masih belum mampu menjelaskan posisi berdiri kita sekarang di mana dan berapa jarak antara kita dengan target-target yang akan dicapai. Kita juga belum mampu bersandar pada uslub/metode yang sistematis dalam mengevaluasi berbagai aktivitas kita.
Akibatnya, kita berjalan dalam keadaan kondisi yang tidak menyadari tingkat produktivitas kita atau beban-beban yang ditimbulkannya, tanpa peduli terhadap perencanaan yang sehat dan kuat dan keharusan berpindah dari quadrant “bekerja apa yang mungkin” kepada quadrant “bekerja sesuai yang harus dikerjakan”.
Kelemahan Ke 9 : Alternatif Islami
Pada dekade limapuluhan, berbagai gerakan dakwah sibuk membuktikan (kepada masyarakat) kecocokan Islam (dengan kehidupan). Setelah itu mengarah kepada meyakinkan (masyarakat) akan keunggulan Islam terhadap berbagai ideologi lainnya. Namun pergerakannya masih seputar penjelasan global dan belum sampai kepada kematangan aktivitas dan keluar dari tataran teori. Sebagai contoh sederhana, gerakan dakwah belum mampu melahirkan alternatif dalam bidang penyusunan silabus pendidikan tingkat universitas berdasarkan pandangan Islam, padahal kebutuhan kita sangat mendesak dalam semua bidang, khususnya dalam studi bidang sosial.
Untuk mewujudkan alternatif tersebut bukanlah pekerjaan sosial (charity) yang boleh dikerjakan pada waktu-waktu luang/sisa oleh sebagian pribadi yang hanya memiliki semangat. Akan tetapi menjadi kewajiban bagi sebagian ulama yang spesialis dengan full time. Gerakan dakwah sudah saatnya melahirkan beberapa institusi pendidikan/akademis yang berkualitas tinggi untuk melakukan berbagai ijtihad dalam berbagai lapangan.
Pekerjaan tersebut juga tidak mungkin didelegasikan kepada beberapa ulama yang menonjol saja. Harus menjadi konsentrasi/upaya jama’i (team). Pekerjaan spesialisasi, dengan biaya yang memadai dan meletihkan serta memerlukan waktu. Sebuah pekerjaan yang terus menerus di mana tidak cukup dengan bersandar kepada para simpatisan yang respek secara spontan.
Inilah syarat untuk memulai sebuah kebangkitan peradaban raksasa umat ini. Tanpa hal tersebut, maka keunggulan sistem Islam hanya sebatas kepuasan emosional… Kita membutuhkan percontohan Islami (dalam dunia nyata) yang hidup dan memberikan cahaya yang akan menarik Barat dan di Timur ke arah peradaban Islam.
Kegairahan para insinyur, dokter dan ilmuan di bidang ilmu pengetahuan alam (eksakta) lainnya untuk berharokah melebihi ulama ilmu sosial menafsirkan hal tersebut, karena pengetahuan yang bersifat global yang menarik cukup membuat mereka (ilmuan dalam bidang eksakta) puas dan diterima dengan logika dan ketinggian, keluasan dan akhlak Islam. Sementara para Ilmuan sosial yang spesialis itu memerlukan detail untuk sampai kepada kepuasan.
Sebab itu, pola penyampaian Islam secara global (apalagi tidak ada contoh prakteknya), tidak cukup untuk menarik mereka ke pangkuan Islam. Ini bukanlah kondisi normal atau sehat. Kita tidak akan mampu melakukan take off peradaban manusia ini kembali sehingga kita melihat mayoritas pemimpin gerakan dakwah itu dari kalangan para ilmuan sosial yang sangat spesialis…
Kelemahan Ke 10 : Krisis Intelektualitas dan Berfikir
Semua pemikir dan para ahli sepakat adanya kaitan yang kuat antara metode/cara berfikir dengan pola prilaku dan metode/cara menyelesaikan masalah.
Berfikir/intelektulitas yang sehat dan benar adalah landasan utama dalam setiap kebangkitan peradaban. Ini adalah kosa kata pokok yang harus dihidupkan oleh gerakan dakwah.
Kalau kita mencermati realitas masa kini, kita akan menemukan bahwa gerakan dakwah belum mendapat taufik – secara umum – dalam merealisasikan keselarasan dan kesatuan pemikiran di antara anggotanya.
Melihat gerakan dakwah lebih banyak berpegang kepada hal-hal yang bersifat umum/general, maka muncul berbagai perbedaan pemikiran di internal gerakan dakwah dalam hal-hal yang memerlukan rincian.
Sebagaimana gerakan dakwah juga habis kebanyakan potensinya untuk beramal dan lebih concern kepada kerja ketimbang meningkatkan kualitas berfikir dan intelektualitas anggotanya (seperti yang kita rasakan hampir 30 tahun tergabung dalam gerakan dakwah.
Ironisnya, setiap ada usulan yang mengarah kepada peningkatan kualitas berifikir dan intelektualitas internal, selalu kandas dan tidak banyak mendapat dukungan. Akhirnya yang terjadi ialah tradisi taqlid tumbuh dengan subur sehingga gerakan dakwah setiap hari berhasil melahirkan dan mencetak muqallidun/ kaum taqlid).
Bersamaan dengan absennya sikap resmi jamaah gerakan dakwah terhadap persoalan-persoalan utama yang menyangkut masyarakat banyak, (seperti sistem pemerintahan yang zalim, sistem ekonomi ribawi kapitalis yang lalim, persoalan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, dan kebodohan.
Selain itu, adanya dominasi asing terhadap negeri-negeri Islam, kejahatan negara-negara maju, khususnya Amerika Serikat terhadap negara-negara lain dan sebagainya), menyebabkan terbentuk/lahirnya pemikiran-pemikiran para pengikut gerakan dakwah yang saling bertentangan yang sekaligus berperan menambah problem pemikiran yang saling menjauh.
Akan lebih runyam lagi masalahnya jika sikap dan pendapat sebagian partai dan kelompok sekuler dan ideology yang memusuhi Islam menyelusup pula ke dalam benak sebagian anggota/qiyadah gerakan dakwah untuk memenuhi kekosongan pemikiran tersebut (seperti yang terjadi di Indonesia dan beberapa negara lainnya).
Sesungguhnya kita meyakini betul bahwa krisis pemikiran/intelektualitas itu pada dasarnya adalah menyangkut cara turun/menterjemahkan Al-Qur’an dan As-Sunnah ke dalam realitas kehidupan.
Yang demikian itu akan dapat selesai dengan cara penelitian dan ijtihad yang orisinil dalam lapangan ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan/humaniora lainnya.
Untuk itu, Independensi gerakan dakwah merupakan hal mutlak diperlukan dan tidak boleh ada kekuatan manapun, termasuk pemerintahan setempat yang dapat mempengaruhi cara/metode berfikirnya.
Jika gerakan dakwah tersebut benar-benar ingin melakukan perubahan dari jahiliyah kepada Islam. Jika tidak, gerakan dakwah hanya tidak lebih dari sekedar ornament jahiliyah itu sendiri.
Kelemahan Ke 11 : Hilangnya Dialog
Saya melihat gerakan dakwah itu gagal membangun dialog dalam tiga level. Internal (terhadap anggota ditanamkan sam’an wa tho’atan/dengar dan taati, tidak ada peluang untuk dialog, apalagi debat terbuka), dengan sesama jamaah Islam lain dan dengan kelompok-kelompok yang bukan Islam apakah yang berlandaskan agama ataupun sekularisme. Akibat dari kegagalan tersebut lahir pemahaman-pemahaman borjuis (sektarian) di kalangan anggotanya.
Sedangkan efek negatifnya sangat jelas, yaitu teori-teori keislaman senantiasa jauh dari lapangan eksperimental dan realitas kehidupan nyata (seperti ukhuwah, wala’ [loyalitas], baro’ [disloyalitas] dan sebagainya). Akibat lain dari hilangnya dialog tersebut ialah kejumudunan berfikir dan ketidakmampuan memperkaya pemikiran yang diperlukan untuk mematangkan gerakan dakwah itu sendiri.
Salah paham di antara jamaah/gerakan dakwahpun tak terhindarkan yang mengakibatkan hilangnya tsiqah (kepercayaan) dan pada waktu yang sama muncul permusuhan, padahal mereka hidup dalam satu masyarakat.
Di samping itu, gerakan dakwah juga gagal membangun dialog dengan para penguasa setempat yang masih mengaku Islam, kendati terkadang sangat memusuhi dan tidak toleran terhadap Islam. Akhirnya, yang diperlihatkan gerakan dakwah selama ini hanya dua bentuk interaksi saja : perlawanan berdarah-darah seperti yang banyak terjadi di negeri-negeri Arab atau menjilat dan menjual gerakan dakwah itu kepada penguasa, seperti yang terjadi di Indonesia dan sebagainya.
Saatnya dirumuskan bentuk lain yang memungkinkan terjadinya dialog antara gerakan dakwah dengan penguasa/pemerintah yang masih belum menerima Islam sebagai The Way of Life. Potensi itu sangat besar jika saja gerakan dakwah maupun penguasa/pemerintah sama-sama ingin selamat dunia dan akhirat.
Poin lain yang harus dinyatakan dan diperlihatkan serta dibuktikan gerakan dakwah ialah bahwa mereka sama sekali tidak menginginkan kekuasaan apalagi haus kekuasaan. Yang mereka inginkan hanya keselamatan mereka, umat mereka dan negeri mereka di dunia mauapun di akhirat kelak.
Kelemahan Ke 12 : Mengabaikan Media Massa
Sungguh gerakan dakwah telah mengabaikan media komunikasi dengan dunia yang ada di sekitarnya (sehingga terbagun sebuah komunitas yang ekslusif). Sejak awal, gerakan dakwah tidak menggalakkan anggotanya untuk menutupi kelemahan ini sehingga menyebabkan pengaruh gerakan tersebut dalam masyarakat jauh dari apa yang seharusnya.
Dengan demikian, gerakan dakwah membiarkan competitor/pesaingnya (gerakan-gerakan sekularisme, liberalisme dan sebagainya) menguasai media massa sehingga dengan mudah melukiskan gambaran yang rusak dan buruk tentang gerakan dakwah itu. Gerakan dakwah tidak diberi peluang dan kesempatan secara adil untuk membela diri dengan efektif.
Sesungguhnya gerakan dakwah harus mencetak kader-kadernya dengan jumlah yang cukup dalam dunia media massa sehingga mereka menjadi insan media profesional. Di negara-negara yang gerakan dakwah terlibat pemilihan umum sangat diingatkan untuk hal tersebut, apalagi gerakan politiknya belum sampai ke tingkat yang diharapkan. (Malah sebaliknya, jutaan dolar dihabiskan untuk biaya pemilu yang tidak memberikan pendidikan politik yang baik (islami), melainkan belajar politik Micaville).
Adapun dunia penerbitan internal kebanyakannya belum menarik dan bahkan tak jarang pula yang menyebabkan masyarakat lari. Tidak ada yang sabar menelaah produk-produknya kecuali anggota-angota yang punya semangat luar biasa. Adapun pembaca yang bukan kader gerakan dakwah, mereka menjauh dan tidak mau membaca terbitan-terbitannya. Terbatasnya penyebaran terbitan gerakan dakwah tersebut mengisayaratkan hakikat yang sesungguhnya.
(Sangat disayangkan, baik media cetak, maupun elektronik yang berbau Islam, lahir bukan dari tangan-tangan kreatif kader gerakan dakwah, termasuk juga lembaga Islam lainnya seperti ekonomi syari’ah, asuransi syari’ah dan sebagainya. Melainkan lahir dari kalangan Muslim yang tidak terlibat gerakan dakwah. Kader-kader gerakan dakwah baru sampai sebatas tataran teori kendati sudah terlibat gerakan dakwah puluhan tahun dan bahkan umur gerakan dakwah sudah hampir 80 tahun).
Gerakan dakwah juga melupakan pengarahan terhadap sebagian tamatan SLTA nya untuk menekuni berbagai lapangan yang banyak dibutuhkan seperti ilmu sosial, media, informasi dan komunikasi, public services, kepolisian dan hukum. Kehilangan strategi dan perencanaan terhadap berbagai lapangan ini telah melahirkan akibat yang fatal terhadap gerakan dakwah. Gerakan dakwahpun telah membayarnya dengan harga yang mahal.
Kelemahan Ke 13 : Memiliki Sikap Standar Ganda
Standar umum yang berlaku dalam gerakan dakwah – sampai saat ini masih berlaku – ialah bahwa anggota dihisab/dinilai di hadapan qiyadah/pepimpin. Kondisi ini mengharuskan mereka TAAT MUTLAK dalam keadaan suka maupun terpaksa.
Namun, kebutuhan untuk menilai/mengevaluasi para pemimpin gerakan dakwah masih hal yang tabu untuk didiskusikan dan dibahas. Demikian pula halnya terhadap organisasi dan prakteknya, kendati sudah sangat dibutuhkan.
Pada umumnya para pemimpin itu saat memaparkan laporan kerja mereka dan kerja organisasi melakukannya secara umum dan dengan bahasa yng umum pula seperti, “segala sesatu berjalan dengan baik”, “dakwah mengalami kemajuan”, “sesungguhnya masa depan Islam cerah”, “kemenangan sudah dekat”, “mereka melihatnya jauh, namun kami melihatnya dekat”, “kalian (para anggota) harus memperkuat keimanan dan memberikan pengorbanan yang lebih banyak lagi”, dan banyak lagi ungkapan-ungkapan umum lainnya.
(Nah, pertanyaan berikutya adalah : Jika dalam berharokah ada pemimpin yang mau membuat dan memberikan laporan dan pertanggung jawaban terhadap kinerjanya dan kondisi organisasinya secara umum masih dianggap belum cukup dan masih dianggap pemimpin tersebut bermasalah.
Maka bagaimana dengan pemimpin yang sudah memimpin puluhan tahun dan bahkan menginginkannya sampai mati. Namun tidak pernah membuat laporan pertanggung jawaban kinerjanya dan organisasi? Inilah tragedy dan ironi gerakan dakwah masa kini yang paling mengerikan.)
Gerakan dakwah kehilangan dasar-dasar ilmiyah yang dijadikan sandaran untuk mengevalusasi dan menilai para anggotanya… Belum ada statistik atau fakta-fakta yang berdasarkan angka-angka.
Tidak ada pula analisa objektif baik kuantitatif maupun kualitatif, khususnya terkait penjelasan tentang keanggotaan, masalah keuangan, laporan/ survey untuk mengetahui opini umum (yang berkembang dalam internal organisasi), taqwim jama’i (evaluasi jamaah), maupun kualitas kerja organisasi.
Yang terjadi adalah, seringkali sebagian pemimpin itu menolak untuk menjawab suatu pertanyaan dengan alasan keharusan sirriyah (rahasia tanzhim) dan tidak bisa dibuka secara umum (atau dengan bahasa lainnya, ini atau itu adalah urusan qiyadah, cukuplah dia saja yang tahu).
Sesungguhnya gerakan dakwah itu mustahil berada dalam situasi dan kondisi yang sehat bila qiyadah (pemimpin)-nya tidak tunduk pada “evaluasi objektif secara rutin”. Sebab itu, orang-orang yang menantang untuk mejadi pemimpin atau ingin terus menjadi pemimpin perlu dihadapkan kepada tantangan-tantangan yang riil dan harus selalu dituntut untuk meningkatkan kualitas kinerja mereka.
Hal yang sangat krusial lainnya ialah, bawa pertanggung jawaban dan evaluasi keuangan jamaah/gerakan dakwah itu memiliki dimensi akhlak dalam internal gerakan dan dimensi hukum dalam sebuah negara.
Sebab itu, gerakan dakwah harus mengeluarkan laporan dan penjelasan-penjelasan keuangan dan siap dievaluasi dan diaudit yang didasari oleh landasan yang benar dan sehat.
(Sungguh merupakan musibah besar dalam gerakan dakwah bila sistem dan kebijakan keuangan yang diterapkan adalah sistem sentralistik dengan berbagai alasan dan dalil syar’i yang dikemukakan.
Sesungguhnya yang terjadi adalah qiyadahnya tidak pernah siap memberikan laporan keuangan kepada anggota jamaahnya, karena takut diketahui penyimpangan mereka….. Inilah di antara efek negatif double standard /standar ganda yang mereka terapkan). (bersambung)
Kelemahan Ke 14 : Menyusun Skala Prioritas Kerja
Kelemahan lain gerakan dakwah ialah dalam menyusun skala prioritas kerja. Jika kita bertanya pada diri kita : Apakah kita mengerjakan tugas dengan cara yang terbaik, ataukah kita memilih tugas paling urgent untuk dilaksanakan?
Pertanyaan pertama menggambarkan kapabalitas dalam bekerja. Sedangkan pertanyaan kedua adalah mencerminkan pemilihan prioritas kerja yang benar sejak dari awal. Antara keduanya terdapat perbedaan yang besar. Namun, keduanya sama pentingnya.
Boleh jadi seseorang melakukan pekerjaanya dengan sangat profesional, namun apa yang dikerjakannya itu secondary matter (hal yang kedua, tidak yang utama).
Sesungguhnya untuk menyusun skala prioritas kerja adalah hal yang harus didahulukan/dirancang sejak awal, karena tugas dan pekerjaan dakwah itu jauh lebih banyak dari ketersediaan SDM yang kapabel melakukannya. Maka menentukan skala prioritas kerja adalah hal yang amat urgent. Dengan demikian, mobilisasi potensi SDM dan pendanaan akan terarah kepada masalah-masalah yang tepat.
Sesungguhnya kebutuhan terhadap kemampuan menyusun skala prioritas kerja semakin amat terasa bersamaan dengan perjalanan waktu yang semakin cepat dan berbagai peristiwa yang semakin bermunculan. Sebab itu, tidak cukup bila insan dakwah hanya melakukan pekerjaan-pekerjaan yang wajib dan penting. Akan tetapi, terlebih dahulu harus menunaikan yang lebih penting (first think first). (Dan masalah ini hanya akan terlaksana, jika memiliki kemampuan perencanaan yang baik dan matang)
Kelemahan Ke 15 : Jumud Tanzhimi (Kebekuan Organisasi)
Kalau diperhatikan, struktur organisasi gerakan dakwah masih dalam kondisinya yang dulu, kendati harokah/gerakan dakwah sudah mengalami pertumbuhan, berada pada sitauasi dan kondisi yang berbeda, masyarakat yang sudah berubah dan tentu memerlukan evaluasi susunan skala prioritas.
Maka, seharusnyalah setiap bentuk struktur organisasi itu mencerminkan uslub (metode) gerakan yang sebenarnya dalam beraktivitas, agar mampu merealisasikan target-target yang karenanya gerakan dakwah itu didirikan. Bentuk struktur organisasi dakwah juga sepantasnya disesuaikan berdasarkan kebutuhan agar mampu menjawab perkembangan yang dihadapi.
Sesungguhnya struktur manajemen orgaisasi yang keberadaanya sebagai wasilah (sarana) untuk mencapai target tidak pantas di-taqdis (dianggap suci). Menolak perubahannya adalah sebuah kekeliruan. Sebagai kaedah umum, setiap lima tahun harus diadakah evaluasi terhadap struktur organisasi dan manajemen gerakan dakwah.
Kelemahan Ke 16 : Antara Sirriyyah dan Jahriyyah
Betapa banyak waktu yang terbuang untuk mendiskusikan apakah amal/aktivitas gerakan dakwah itu harus sirriyyah (tertutup) atau jahriyyah (terbuka). Nyaris sikap terkait sirriyyah dan jahriyyah itu dimasukkan ke dalam rukun iman. Setiap kelompok membuka lembaran sirah Rasul SAW untuk mencari dukungan atau argumentasi yang mendukung pendapatnya. Padahal, ini murni masalah organisasi. Kedua uslub (metode) itu (sirriyyah dan jahriyyah) merupakan dasar/pokok (dakwah) Islam.
Untuk menentukan metode mana yang digunakan, maka situasi, kondisi dan realitas yang akan menentukannya berdasarkan kemaslahatan gerakan dakwah yang bersifat jangka panjang. Mungkin saja dalam situasi dan kondisi tertentu tidak memungkinkan melakukan pilihan, karena situasi dan kondisi suatu negara yang memaksakan pilihan amal gerakan dakwah.
Yang menjadi catatan penting ialah bahwa amal harokah dakwah (dalam kondisi bagaimanapun) harus terbuka terhadap manusia saat terbukanya peluang beramal secara terbuka. Pada saat itu, beramal sirriyyah bukanlah yang paling afdhal dan yang suci karena kondisinya sudah membolehkan beramal secara terbuka.
Kaedah yang sehat ialah bahwa beramal secara terbuka itu adalah yang utama/dasar dan tidak boleh melakukan amal sirriyyah kecauali jika beramal terbuka sudah tidak memungkinkan. Pada saat itu, menerapkan kaedah 'darurat' diukur berdasarkan kadar/tingkat kedaruratannya. Saat itulah berlaku kaedah ushul "Kemudaratan itu membolehkan yang dilarang".
Langganan:
Postingan (Atom)