Selasa, 10 Agustus 2010

Bahagia saat Buka Puasa di Bulan Ramadhan

Waktu berbuka adalah saat yang penuh bahagia, waktu yang selalu dinanti-nanti oleh orang yang sedang menjalankan ibadah puasa; terutama pada detik-detik menjelang berbuka, menjelang beduk berbunyi, rasanya sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Perasaan gembira dan bahagia memenuhi seluruh rongga, jiwa dan raga, dan ketika waktu berbuka tiba, semakin terasa kegembiraan dan kebahagiaan yang meliputi setiap jiwa. Perasaan itu pula yang digambarkan oleh Rasulullah saw bahwa orang yang berpuasa akan mendapat dua kebahagiaan, seperti sabdanya:
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ
“Orang yang berpuasa itu akan mendapat dua kegembiraan. Yang pertama gembira ketika berbuka, dan yang kedua gembira ketika berjumpa dengan Tuhannya di kemudian hari nanti.” (Bukhari dan Muslim).
Walaupun pada berbuka hanya dengan segelas air putih, akan tetapi terasa begitu nikmat ketika meminumnya. Bahkan lebih nikmat bila dibandingkan dengan meminum segelas kopi susu atau teh manis bagi orang yang tidak puasa. Bagaimanakah caranya agar orang yang berpuasa mendapat dua kebahagiaan sekaligus, seperti yang disebutkan oleh Rasulullah serta mendapatkan nikmat sehat dan bugar setelah puasa? Mari ikuti beberapa tips berikut!!
1. Awali dengan doa
Setidaknya ketika akan berbuka bacalah bismillah. Dan akan lebih bagus lagi, diiringi dengan doa. umpamanya doa sebagai berikut:
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ، ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
“Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, kepada-Mu kami beriman, dan karena rezki-Mu aku berbuka, telah hilang rasa haus dan urat – urat telah basah serta pahala telah ditetapkan, insya Allah”
Para ulama hadits memang memposisikannya sebagai hadits mursal karena Mu’adz bin Zuhrah adalah seorang tabiin bukan seorang sahabat, jadi ada sanadnya yang terputus antara sahabat dan tabiin sehingga haditsnya dikategorikan daif.
Namun ibrah yang ingin kita ambil di sini adalah bahwa hal-hal yang berkaitan dengan fadhail a’mal (keutamaan perbuatan), termasuk di dalamnya masalah doa yang dibolehkan untuk membacanya dengan bahasa apa saja walaupun tidak ma’tsur (sesuai dengan bacaan Rasulullah saw), karena Allah maha mengetahui maksud dan keinginan dari hamba-hamba-Nya pada saat berdoa.
Dan akan bertambah bagus lagi, setelah berbuka, dan setiap selesai makan, membaca doa sebagai berikut:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَجَعَلَنَا مُسْلِمِينَ
“Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan dan minum kepada kami. Dan jadikanlah kami dari golongan orang-orang yang muslim –yang bersyukur-” (Abu Daud)
2. Menyegerakan berbuka
Maksud dari menyegerakan berbuka disini bukan berarti berbuka sebelum waktunya, tetapi ketika tiba waktunya langsung berbuka. Jangan menunda dengan mengerjakan shalat Maghrib terlebih dahulu baru berbuka. Sebab yang demikian itu tidak akan menambah pahala. Berbukalah terlebih dahulu dengan memakan beberapa buah kurma atau seteguk air putih. Dan yang demikian itu yang disebut dengan ta’jil puasa (menyegerakan buka puasa), yang hukumnya adalah sunah.
Menyegerakan berbuka menghasilkan kebaikan. Seperti yang disebutkan dalam hadits nabi saw bahwa beliau bersabda:
لَا يَزَالُ الدِّينُ ظَاهِرًا مَا عَجَّلَ النَّاسُ الْفِطْرَ
“Agama ini akan terus jaya di muka bumi selama manusia menyegerakan berbuka puasa”. (Abu Daud; Isnadnya shahih)
Dan menyegerakan berbuka merupakan perbuatan yang sangat dicintai Allah. Seperti yang disampaikan oleh nabi saw dalam sabdanya:
ثَلاثَةٌ يُحِبُّهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ تَعْجِيلُ الْفِطْرِ وَتَأْخِيرُ السُّحُورِ وَضَرْبُ الْيَدَيْنِ أَحَدِهِمَا بِالأُخْرَى فِي الصَّلاةِ
“Tiga perkara yang sangat dicintai Allah: menyegerakan buka, mengakhirkan sahur, meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat.” (HR Thabrani).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa menyegerakan berbuka puasa yakni membangun perilaku bahkan budaya tepat waktu. Dengan budaya tepat waktu maka akan diperoleh manfaat yang berlipat ketimbang menunda-nunda. Budaya tepat waktu berarti disitu ada kedisiplinan dan komitmen tinggi. Seharusnya makna ini juga dapat kita ambil dari ibadah shalat, mengeluarkan zakat-infak-sedekah, dan pergi haji.
3. Berbuka dengan makanan atau minuman yang manis-manis
Yaitu berbuka dengan ruthab (kurma basah) atau tamar (kurma kering), atau jika tidak ada dengan segelas susu, air putih atau minuman yang manis-manis. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Jabir berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ
“Bahwa Rasulullah saw selalu berbuka dengan beberapa ruthab sebelum melakukan shalat, jika tidak ada ruthab maka dengan beberapa buah tamr, dan jika tidak ada maka dengan beberapa teguk air putih”. (Abu Daud dan Ahmad)
4. Berbuka dengan makanan secukupnya
Rasulullah dalam setiap berbuka atau makan sehari-hari memang tidak pernah terlalu kenyang. Bahkan tidak sampai kenyang. Kurang lebih 2/3 dari perut itu yang diisi, dan 1/3 lagi dikosongkan. Hal ini dijelaskan oleh Rasulullah dalam salah satu haditsnya, bahwa beliau tidak makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Yang lebih penting untuk diperhatikan dalam berpuasa ini bukan sekadar mengosongkan perut, tapi waktu mengisinya kembali yaitu waktu berbuka perlu diperhatikan; yaitu berlebihan atau kekenyangan ketika menyantap makanan setelah puasa. Hal ini sejalan dengan firman Allah:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Dan makan dan minumlah kamu, akan tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebihan.” (Al-A’raf:31)
5. Memberi makan berbuka kepada sesama
Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Bulan di mana amal ibadah dilipatgandakan pahalanya. Sebagaimana sebaik-baik sedekah adalah pada bulan Ramadhan. Seperti yang disabdakan oleh nabi saw:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الصَّوْمِ أَفْضَلُ بَعْدَ رَمَضَانَ فَقَالَ شَعْبَانُ لِتَعْظِيمِ رَمَضَانَ قِيلَ فَأَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ قَالَ صَدَقَةٌ فِي رَمَضَانَ
“Dari Anas berkata; nabi saw ditanya: manakah puasa yang paling utama setelah bulan Ramadhan? Beliau bersabda: puasa bulan Sya’ban untuk memuliakan bulan Ramadhan. Kemudian dikatakan lagi: Manakah sedekah yang paling utama? Beliau bersabda: sedekah pada bulan Ramadhan”. (Tirmidzi).
Di antara sedekah yang dapat mendatangkan pahala besar adalah memberi makan berbuka kepada orang yang berpuasa. Hal ini dijelaskan oleh Nabi saw dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Zaid bin Khalid yang artinya:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
“Barangsiapa yang memberikan makan berbuka kepada orang yang berpuasa, maka baginya pahala sebagaimana yang diperoleh orang yang mengerjakannya dengan tidak dikurangi sedikit pun ganjaran bagi orang yang berpuasa.” (Tirmidzi)

Menggapai Derajad Sidiqin : oleh Riskan Maulana M.Ag

Dari Abdullah bin Mas’ud r.a., dari Nabi Muhammad saw. bahwasanya beliau bersabda. “Sesungguhnya sidiq itu membawa pada kebaikan, dan kebaikan akan menunjukkan pada surga. Dan seseorang beperilaku sidiq, hingga ia dikatakan sebagai seorang yang siddiq. Sementara kedustaan akan membawa pada keburukan, dan keburukan akan mengantarkan pada api neraka. Dan seseorang berperilaku dusta, hingga ia dikatakan sebagai pendusta.” (HR. Bukhari)
Sekilas Tentang Hadits
Hadits ini merupakan hadits shahih yang diriwayatkan oleh seluruh A’immah Ashab Kutub Al-Sittah, kecuali Imam Nasa’i:
  • Imam Bukhari meriwayatkan dari jalur sanad Jarir bin Mansur, dari Abi Wa’il, dari Abdullah bin Mas’ud, dari Rasulullah saw., dalam Shahihnya, Kitab Al-Adab, Bab Qoulullah Ta’ala Ya Ayyuhalladzina Amanu Ittaqullah Wakunu Ma’as Shadiqin, hadits no 6094.
  • Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Al-Birr Was Sillah Wal Adab, Bab Qabhul Kadzib Wa Husnus Shidq Wa Fadhluh, hadits no 2607.
  • Imam Turmudzi dalam Sunannya, Kitab Al-Birr Was Sillah An Rasulillah, Bab Ma Ja’a Fis Sidqi Wal Kadzibi, hadits no. 1971, melalui jalur sanad A’masy, dari Syaqiq bin Salamah, dari Ibnu Mas’ud.
  • Imam Abu Daud dalam Sunannya, Kitab Al-Adab, bab Fi Attasydid Fil Kadzib, hadits no. 4989, melalui jalur sanad Al-A’masy, dari Abi Wa’il dari Ibnu Mas’ud.
  • Imam Ibnu Majah dalam Muqaddimah di Sunannya, Bab Ijtinab Al-Bida’ Wal Jadl, hadits no 46, malalui jalur sanad Abu Ishaq, dari Abu Al-Ahwash, dari Abdullah bin Mas’ud.
  • Imam Ahmad bin Hambal dalam Sunannya, pada Musnad Al-Muktisirn Minas Shahabah dalam Musnad Ibnu Mas’ud, hadits no 3631, 3719, & 4097.
Gambaran Umum Tentang Hadits
Hadits sederhana ini menggambarkan dua hakekat perbedaan yang begitu jauh. Pertama mengenai as-sidq (kejujuran & kebenaran iman), yang digambarkan Rasullah saw. sebagai pintu gerbang kebaikan yang akan mengantarkan seseorang ke surga. Sementara hakekat yang kedua adalah kedustaan (al-kadzb), yang merupakan pintu gerbang keburukan yang akan mengantarkan pelakunya ke dalam neraka.
Rasulullah saw. ketika menggambarkan kedua hal di atas, sekaligus mengaitkan juga dengan mashirah (kesudahan) dua sifat yang berbeda tadi, yaitu surga bagi yang shadiq serta neraka bagi yang kadzib. Faedahnya adalah untuk memberikan tadzkir. Karena secara tabi’at, manusia seringkali menganggap remeh keduanya.
Pengertian As-sidq
Dari segi bahasa, sidiq berasal dari kata shadaqa yang memiliki beberapa arti yang satu sama lain saling melengkapi.
Lawan kata sidiq adalah kadzib (dusta). Di antara arti sidiq adalah: benar, jujur/ dapat dipercaya, ikhlas, tulus, keutamaan, kebaikan, dan kesungguhan. Sidiq di sini lebih dekat dengan sebuah sikap pembenaran terhadap sesuatu yang datang dari Allah dan Rasulullah saw. yang berangkat dari rasa dan naluri keimanan yang mendalam. Contoh, kisah Abu Bakar sebagai penguatnya. Karena beliau dapat membuktikan implementasi keimanannya kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan membenarkan peristiwa Isra’ dan Mi’raj, di waktu tiada orang yang mempercayai Rasulullah saw.
Para ulama memiliki beragam gambaran, diantaranya:
  • Shidiq adalah menyempurnakan amal untuk Allah.
  • Shidiq adalah kesesuaian dzahir (amal) dengan bathin (iman). Karena orang yang dusta adalah mereka yang dzahirnya lebih baik dari bathinnya.
  • Shidiq adalah ungkapan yang haq, kendatipun memiliki resiko yang membayahakan dirinya.
  • Shidiq adalah perkataan yang haq pada orang yang ditakuti dan diharapkan.
Sidiq Merupakan Hakekat Kebaikan
Sidiq merupakan hakekat kebaikan yang memiliki dimensi yang luas, karena mencakup segenap aspek keislaman. Hal ini tergambar jelas dalam firman Allah swt. dalam surat Al-Baqarah: 177.
Dalam ayat ini digambarkan sidiq yang meliputi keimanan, menginfakkan harta yang dicintai, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menepati janji, bersabar dalam kesulitan dst. Oleh karena itulah, dalam ayat lain, Allah memerintahkan kita untuk senantiasa bersama-sama orang yang sidiq: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (sidiq).” (At-Taubah: 119)
Membaca Hadits-hadits Tentang Sidiq
Imam Nawawi dalam Riyadhus Shalihinnya menyebutkan enam hadits dalam bab sidiq. Dari keenam hadits tersebut dapat disimpulkan hal-hal berikut:
  1. “Dari Ibnu Mas’ud ra, Rasulullah SAW.. bersabda; ‘Sesungguhnya sidiq itu menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan membawanya ke dalam surga…’ (Mutafaqun ‘alaih)
  2. Sementara itu lawan dari sidiq, yaitu kadzib merupakan sumber dari keburukan: “Dan sesungguhnya kedustaan itu membawa kepada keburukan, dan keburukan itu membawa kepada api neraka.” (Mutafaqun ‘alaih)
  3. Sidiq merupakan ketenangan. Dari Abu Haura’ As-Sa’dy, aku berkata kepada Hasan bin Ali ra, apa yang kamu hafal dari hadits Rasulullah saw..? Beliau berkata, aku hafal hadits dari Rasulullah saw..: “Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kebenaran membawa pada ketenangan dan dusta itu membawa pada keragu-raguan.” (HR. Tirmidzi)
  4. Sidiq merupakan perintah Rasulullah saw. Hal ini dikatakan oleh Abu Sufyan ketika bertemu dengan raja Hirakleus: “Apa yang dia perintahkan pada kalian?” Abu Sufyan menjawab, “Untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, meninggalkan semua ajaran nenek moyang, mendirikan shalat, bersikap sidiq (jujur/ benar), sopan santun dan menyambung tali persaudaraan.” (Mutafaqun ‘alaih)
  5. Rasulullah saw. mengatakan: “Barangsiapa yang meminta kesyahidan kepada Allah swt. dengan sidiq (sebenar-benarnya), maka Allah akan menempatkannya pada posisi syuhada’, meskipun ia meninggal di atas ranjangnya.” (HR. Muslim)
  6. Sidiq akan mengantarkan seseorang pada keberkahan dari Allah swt. Rasulullah saw. mengemukakan: “Penjual dan pembeli keduanya bebas belum terikat selagi mereka belum berpisah. Maka jika benar dan jelas kedua, diberkahi jual beli itu. Tetapi jika menyembunyikan dan berdusta maka terhapuspah berkah jual beli tersebut.” (Mutafaqun ‘alaih)
Derajat Siddiqin bersama Para Nabi, Syuhada’ dan Shalihin
Selain mendapatkan ampunan dan pahala yang besar, para siddiqin juga akan menempati posisi yang tinggi di sisi Allah kelak di akhirat. Mereka akan disatukan bersama para nabi dan orang-orang yang mati syahid, serta para shalihin. Allah berfirman: “Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (An-Nisa’: 69)
Sidiq Merupakan Sifat Para Nabi
Dalam Al-Qur’an setidaknya Allah menyebutkan tiga nabi yang memiliki sifat siddiq ini. Yang pertama adalah Nabiullah Ibrahim a.s. Allah memujinya karena memiliki sifat ini: “Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al-Kitab (Al-Qur’an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi.” (Maryam: 41)
Kemudian yang kedua adalah Nabiullah Idris a.s. Allah juga memujinya dalam Al-Qur’an karena memiliki sifat sidiq. Allah berfirman: “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi.” (Maryam: 56)
Adapun yang ketiga adalah Nabiullah Yusuf a.s. Beliau membuktikan kebenaran keimanannya kepada Allah dengan menolak ajakan Zulaikha untuk berbuat zina, meskipun disertai dengan ancaman (Yusuf: 51).
Ciri-ciri Orang yang Sidiq
Orang yang sidiq memiliki beberapa ciri, diantara ciri-ciri mereka yang Allah gambarkan dalam al-Qur’an adalah:
1. Teguh dan tegar terhadap apa yang dicita-citakan (diyakininya). Allah swt. mencontohkan dalam Al-Qur’an, orang-orang yang sidiq terhadap apa yang mereka janjikan (bai’atkan) kepada Allah: (Al-Ahzab: 23).
2. Tidak ragu untuk berjihad dengan harta dan jiwa. Allah berfirman dalam Al-Qur’an (Al-Hujuraat: 15).
3. Memiliki keimanan kepada Allah, Rasulullah saw., berinfaq, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menepati janji dan sabar (Al-Baqarah: 177).
4. Memiliki komitmen yang kuat terhadap Islam. Allah mengatakan dalam Al-Qur’an: “Barangsiapa yang berpegang teguh dengan agama Allah, maka sungguh dia telah mendapatkan hidayah menuju jalan yang lurus.” (Ali Imran: 101)
Cara Mencapai Sifat Sidiq
Setelah kita melihat urgensitas sifat sidiq ini, maka setidaknya muncul dalam hati kita keinginan untuk melengkapi diri dengan sifat ini. Karena sifat ini benar-benar merupakan intisari dari kebaikan. Dan sifat ini pulalah yang dimiliki oleh sahabat yang paling dicintai Rasulullah saw., yaitu Abu Bakar Asidiq. Ada beberapa cara yang semoga dapat membantu menumbuhkan sifat ini:
1. Senantiasa memperbaharui keimanan dan keyakinan kita (baca; ketsiqahan) kepada Allah swt. Karena pondasi dari sifat sidiq ini adalah kuatnya keyakinan kepada Allah.
2. Melatih diri untuk bersikap jujur diamana saja dan kapan saja serta kepada siapa saja. Karena kejujuran merupakan karakter mendasar sifat sidiq.
3. Melatih diri untuk senantiasa membenarkan sesuatu yang datang dari Allah (Al-Qur’an dan sunnah) , meskipun hal tersebut terkesan bertentangan dengan rasio. Karena kebenaran mutlak hanyalah milik Allah. Sementara ijtihad manusia masih sangat memungkinkan adanya kesalahan.
4. Senantiasa melatih diri untuk komitmen dengan Islam dalam segala aspeknya; aqidah, ibadah, akhlaq dan syari’ah. Karena salah satu ciri siddiqin adalah memiliki komitmen yang tinggi terhadap Islam: “Barangsiapa yang berpegang teguh dengan agama Allah, maka sungguh dia telah mendapatkan hidayah menuju jalan yang lurus.” (Al-Baqarah: 101)
5. Sering mentadaburi ayat-ayat Allah, hadits-hadits Rasulullah saw. mengenai sifat sidiq. Karena mentadaburi ayat dan hadits juga merupakan cara tersendiri yang sangat membekas dalam jiwa manusia.
6. Senantiasa membuka-buka lembaran-lembaran sejarah kehidupan salafu shalih, terutama pada sikap-sikap mereka yang menunjukkan kesiddiqannya.
7. Memperbanyak dzikir dan amalan-amalan sunnah. Karena dengan hal-hal tersebut akan menjadikan hati tenang dan tentram. Hati yang seperti ini akan mudah dihiasi sifat sidiq.
Yang kita hawatirkan adalah munculnya sifat kadzib, sebagai lawan dari sidiq dalam jiwa kita. Karena tabiat hati, jika tidak dihiasi dengan sifat yang positif, maka ia akan terisi dengan sifat negatifnya. Oleh karena itulah, mari kita menjaga hati dengan menjauhi sifat munafiq dan kedustaan, yang dapat menjauhkan kita dari sifat sidiq.

Rahasia Sakit

Banyak orang tidak merasa nikmatnya kesehatan kecuali setelah sakit. Sementara ketika sehat seringkali seseorang lalai. Lalai akan agungnya Allah yang telah memberikan kesehatan, sehingga selama sehat justru semakin jauh dari Allah. Lalai akan kewajibannya kepada Allah, sehingga selama sehat banyak kewajiban yang diabaikan. Lalai akan dirinya, sehingga selama sehat banyak mengkonsumsi sesuatu yang terlarang dan menyebabkan datangnya penyakit. Satu contoh misalnya rokok. Semua dokter mengatakan bahwa rokok mengandung banyak penyakit. Di semua iklan ditegaskan bahwa rokok akan menyebabkan penyakit kanker dan kemandulan. Namun ternyata banyak orang sehat laki dan perempuan yang secara terang-terangan sengaja merokok. Padahal ketika penyakit menyerangnya ia tahu apa penderitaan yang harus ia rasakan. Inilah makna ungkapan pepatah Arab yang sangat terkenal : ash shihhatu taajun ‘alaa ruusil ashihhaa’ laa yadzuuquhuu illal mardha (kesehatan adalah mahkota di atas kepala orang-orang sehat yang tidak terasa kecuali ketika ia sakit).
Allah swt  sangat sayang kepada makhluk-Nya. Maka seluruh yang Allah berikan untuk makhluk-Nya adalah yang terbaik (ath tahyyibaat).  Dan seluruh yang tidak baik (al khabaaits) Allah haramkan. Allah haramkan khamr karena merusak akal. Dari sini kita tahu betapa Allah mengajarkan agar manusia selalu menjaga akalnya supaya tetap menjadi manusia yang normal. Allah haramkan zina, karena dari perzinaan nasab akan hilang, lebih dari itu perzinaan banyak menyebabkan timbulnya berbagai penyakit tidak hanya penyakit fisik tetapi lebih dari itu penyakit mental. Betapa banyak para pezina menjadi pembunuh. Itulah sebabnya mengapa dalam surah Al Isra’ Allah menggandengkan ayat larangan atas zina dengan ayat mengenai pembunuhan. Lain dari itu Allah haramkan babi sebab tugas babi bukan untuk dimakan, melainkan untuk menyerap bakteri dan kotoran. Itulah sebabnya mengapa babi suka makan yang kotor-kotor.
Namun sayangnya panduan keselamatan yang Allah ajarkan, seringkali diabaikan. Banyak orang tidak suka patuh kepada Allah. Padahal setiap ajaran Allah pasti benar dan pasti mengantarkan kepada kebahagiaan.  Lebih-lebih akhir-akhir ini di saat materialisme menguasai jiwa manusia, iman kepada Allah semakin tipis. Manusia lebih suka bergantung kepada makhluk dari pada kepada Allah. Coba Anda tanya kepada orang-orang terdekat di sekitar Anda, siapakah yang pertama kali mereka ingat ketika sakit. Mereka rata-rata  akan menjawab dokter. Dari sini nampak bahwa dokter seakan penyebab kesembuhan.  Di manakah Allah asy  syaafii dalam jiwa mereka? Apakah sampai sejauh ini manusia merendahkan Allah? Apakah sampai setingkat ini manusia merasa independent dari Allah?
Sungguh tidak mungkin bahagia manusia yang jauh dari Allah. Ingatlah bahwa ternyata sangat banyak contoh-contoh kelemahan manusia. Dan ini terasa ketika seseorang sakit. Satu contoh misalnya, saya ketika ditimpa radang pita suara, saya berkali-kali datang beberapa dokter spesialis THT. Penelitian mereka lakukan. Lalu mereka tentukan obat. Begitu obat saya konsumsi ternyata lambung saya terkena dampak obat tersebut. Seketika saya hentikan obat untuk radang pita suara. Saya segera ke dokter lain untuk mengobati lambung. Setelah lambung saya sembuh saya kembali mengkonsumsi obat untuk radang pita suara. Namun ternyata setelah sekian lama saya konsumsi obat sesuai yang ditentukan dokter, justru suara saya semakin hilang. Akhirnya saya lari ke dokter alternatif, akupunktur, tetapi hasilnya masih tidak ada. Alternatif lain saya datangi ahli refleksiologi, juga tidak ada hasilnya. Terakhir saya datangi dokter herbalist, dan sampai sekarang saya masih mengkonsumsi obat herbal. Namun juga belum nampak hasilnya.
Perhatikan apa yang saya dapatkan dari kenyataan ini adalah bahwa sungguh manusia sangat lemah. Dan penyakit yang Allah berikan tidak lain untuk mengingatkan hakikat kelemahan ini. Bahwa manusia harus selalu bergantung kepada Allah. Bahwa sebaik-baik hamba adalah yang paling banyak bergantung kepada Allah. Datangnya penyakit adalah salah satu tanda supaya seorang hamba semakin memperkokoh ketergantungannya kepada Allah.  Bila ini yang disadari setiap orang yang sakit, sungguh lama kelamaan tidak ada di muka bumi ini orang berani melawan Allah. Karena paling tidak seseorang jika tidak terkena penyakit,  minimal ia akan selalu melihat orang-orang yang sakit. Semuanya mengingatkan akan makna ini. Makna di mana seseorang benar-benar merasa dan yakin bahwa hanya Allahlah Penyembuh. Dokter dan obat yang ditentukan tidak pernah menjamin kesembuhan. Karena itu banyak upaya para dokter yang gagal. Bukankah sudah saatnya manusia selalu belajar dari setiap penyakit yang dirasakan dan yang disaksikan di sekitarnya?  Wallahu a’lam bishshswab.

Jumat, 06 Agustus 2010

Aspek Sosial di Bulan Ramadhan

Oleh DR. Kamaluddin Nurdin Marjuni
Dosen Aqidah Filsafat Universiti Sains Islam Malaysia
Ibadah dalam Islam bukan hanya sekadar melakukan ibadah ritual, melainkan mencakup semua aspek kehidupan manusia. Oleh karena itu, segala bentuk pelayanan sosial dan perbuatan baik juga merupakan ibadah.
Seorang orientalis bernama Ricardo de Monte Croce, pernah mengakui kehebatan sistem pemberlakuan zakat dan sedekah dalam Islam. Ia mengatakan: ”Dalam berkehidupan sosial dengan orang-orang miskin melalui kewajiban zakat, harus diakui bahwa syari’at Islam-lah yang paling pemurah terhadap orang miskin”[1]. Perkataan ini yang membuat penulis tertarik untuk menulis tentang aspek sosial di bulan ramadhan.
Sesuai dengan tema di atas, maka dalam artikel ini penulis akan mencoba memaparkan dan menyajikan aspek sosial dalam Islam khususnya dalam bulan puasa. Dan untuk sistematiknya, dalam makalah ini penulis akan membahas tiga permasalahan di bawah ini:
  • Perhatian Islam terhadap perbaikan sosial.
  • Tanggung jawab muslim terhadap lingkungan sosialnya.
  • Bentuk aktiviti atau kegiatan-kegiatan sosial dalam ibadah Ramadhan.
Perhatian Islam Terhadap Perbaikan Sosial
Bila kita bandingkan agama Islam dengan agama-agama lainnya, baik agama samawi ataupun agama konvensional (Wadh’i), perhatian Islam terhadap perbaikan sosial, belum dapat tersaingi oleh agama lainnya. Karena Allah swt memerintahkan hamba-Nya untuk berkerja dan berusaha demi memenuhi kebutuhan dan keperluan hidupnya.
Sebagaimana firman Allah swt berikut ini:
(فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيراً لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ)
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. Al-Jum’ah: 10.
Ayat di atas memberikan motivasi kepada kaum Muslimin agar senantiasa berusaha dan bekerja di muka bumi ini dalam upaya meningkatkan taraf hidup dan mempertahankan kehidupannya. Sebab Islam tidak menyukai kaum muslimin hidup dalam kondisi kefakiran atau hidup bergantung pada uluran tangan orang lain. Sesuai dengan sabda Rasulullah saw:
(اَلْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى)
“Tangan di atas (pemberi) lebih baik daripada tangan di bawah (penerima)[2].
Di samping itu, kefakiran juga dapat membawa manusia kepada kekufuran. Oleh karena itu, Rasulullah saw telah menegaskan hal itu dengan pasti dalam sabda beliau:
(كَادَ الْفَقْرُ أَنْ يَكُوْنَ كُفْرًا)
“Kefakiran itu dapat membawa kepada kekufuran”[3]
Namun, sangatlah disayangkan jika seorang punjual dan pedagang yang datang ke mesjid pada hari jum’at hanya sekedar datang untuk menjual barang dagangannya tanpa melaksanakan shalat jum’at, yang pada akhirnya keberkahan hidup semakin menjauh darinya.
Sementara ayat di atas memberikan resep keberkahan dan keuntungan, yaitu jika mau jualannya menjadi laris maka perbanyaklah mengingat Allah ketika mengadakan jual beli.
Ulama salaf berpendapat sebagaimana disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat di atas: ”Orang yang melakukan jual beli pada hari jum’at dan ia sempurnakan shalat jum’atnya maka Allah memberkati kehidupannya (melapangkan rezqinya)”.
Oleh karena itu, tidaklah mengherankan kalau secara fenomena sering kita saksikan ada penjual ataupun pedangang di sekeliling mesjid yang sudah bertahun-tahun lamanya berjualan, tapi volume penjualannya tidak ada peningkatan yang bermakna.
Hakikat manusia sebenarnya di alam dunia ini merupakan khalifah Allah swt. Yaitu Allah swt memberikan tugas kepadanya untuk mengembangkan dan memanfaatkan nikmat-Nya yang telah tersedia di alam semesta. Dan semua sarana dan prasarana yang ada di dunia ini adalah milik Allah swt. Materi dan benda yang digunakan oleh manusia dan diproduksi sedemikian rupa, semuanya bersumber dari Allah swt. Oleh karena itu, para ekonom mengatakan:
”Produksi itu sebenarnya bertujuan menciptakan manfaat, bukanlah menciptakan materi. Dengan kata lain, manusia hanya merubah sebuah materi untuk dijadikan benda yang bermanfaat agar dapat memenuhi segala kebutuhan hidupnya”[4].
Sebagai bukti yang kongkrit, asal mula bahan bakar dan benda alam lainnya adalah ciptaan Allah swt Yang Maha Kuasa, manusia tidak mampu untuk menciptakan benda tersebut, melainkan ia hanya menemukan benda tersebut kemudian disusun sedemikian rupa sampai menjadi sebuah produksi.
Namun terkadang nikmat yang didapat itu tidak dimaksimalkan fungsinya, bahkan tidak difungsikan sama sekali, sementara Allah sendiri sangat senang melihat seorang hamba yang mengoptimalkan nikmat yang dianugerahkan Allah kepadanya. Rasulullah saw bersabda :
(إِنَّ اللهَ إِذَا أَنْعَمَ عَلَى عَبْدٍ نِعْمَةً يُحِبُّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ)
“Sesungguhnya Allah swt jika memberikan sebuah nikmat kepada hamba-Nya, maka Ia senang melihat nikmat itu di pergunakanan sebaik-baiknya”. (Hadits Riwayat Tirmizi).
Sebagai contoh, orang yang berilmu tidak mengajarkan ilmunya, sementara ilmu itu adalah pemberian Allah. Begitu juga orang yang mempunyai harta dan mampu membeli sesuatu tapi dia tidak membelinya, bahkan disimpan dan ditumpuk saja harta tersebut tidak dibelikan apa-apa, alias bakhil dan kikir. Dia hanya senang mengumpul dan menghitung hari demi hari duit yang ia peroleh. Dan orang tersebut sebagaimana yang digambarkan oleh al-Qur’an dan diberikan julukan tersendiri sebagai orang yang pengumpat dan pencela:
(وَيْلٌ لّكُلّ هُمَزَةٍ لّمَزَةٍ الّذِى جَمَعَ مَالاً وَعَدّدَهُ يَحْسَبُ أَنّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ كَلاّ لَيُنبَذَنّ فِي الْحُطَمَةِ)
“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta lagi menghitung-hitung, ia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah”. (surah al-Humazah:1-5).
Dengan demikian, dapat dilihat betapa Islam mengajarkan dan mendidik ummat ini untuk mencari rizqi yang bersih dan halal, yang bukan didapat dari hasil korupsi, membuat laporan keuangan yang ditinggikan, atau dengan jalan menipu sana-sini dalam berbisnis.
Dan benarlah apa yang digambaran oleh Rasulullah Saw dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:
(يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ، أَمِنَ الْحَلاَلِ أَمْ مِنَ الْحَرَامِ؟)
“Akan datang suatu zaman, di mana seseorang tidak mempedulikan lagi sumber harta yang didapat, halal atau haram?” (Shahih Bukhari).
Kesemua perilaku ini tidak akan mendatangkan keberkahan sama sekali, bahkan di penghujung hidupnya kebinasaan akan menantinya, baik di dunia ataupun di akhirat.
Tanggung Jawab Muslim Terhadap Lingkungan Sosialnya
Merupakan suatu keadilan Allah, Dia jadikan manusia berbeda-beda. Baik dari segi keinginan, kecenderungan dan kecerdasan. Dengan semua perbedaan tersebut, tentunya mempunyai konsekwensi perbedaan juga dalam hal rizki. Sebagaiman yang diindikasikan oleh firman Allah swt:
(وَاللّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْرِّزْقِ)
“Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebahagian yang lain dalam hal rezki”. An-Nahl: 71.
Ayat di atas menjelaskan bahwa Islam mengakui adanya perbedaan rizki di antara manusia. Kesemuanya itu disebabkan oleh saling berbedanya potensi, kemahiran serta usaha manusia itu sendiri. Seperti etos kerja yang tinggi, skill yang handal, usaha yang kuat. Oleh karena itu, Islam mengakui adanya kepemilikan atau usaha pribadi, dengan catatan hendaknya usaha tersebut diperoleh dan dicapai secara legal (sah). Jika diperoleh dengan cara yang sebaliknya, ilegal (tidak sah), maka Islam tidak pernah mengakui kepemilikan tersebut. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:
(إِنَّ اللهِ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا)
“Sesungguhnya Allah swt bersih, dan tidak menerima sesuatu kecuali bersumber dari hal-hal yang bersih”[5].
Dalam Islam manusia bukanlah pemilik hakiki dan mutlak terhadap hartanya, sehingga dia bebas berbuat apa saja terhadap hartanya, akan tetapi pada hakikatnya Allah-lah yang memiliki harta tersebut. Lalu Allah mewakilkan dan menitipkan penggunaan dan pengembangan harta tersebut kepada hamba-Nya. Seperti terlihat dengan jelas dalam firman Allah swt:
(وَأَنفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُم مُّسْتَخْلَفِينَ فِيهِ فَالَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَأَنفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ)
“Dan nafkahkanlah sebahagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya”[6]. Al-Hadid: 7.
Salah seoran ahli tafsir kenamaan Imam Zamakhsyari, menafsirkan ayat di atas, beliau berkata:
“Harta-harta yang engkau miliki, sebenarnya adalah harta Allah, dan sesungguhnya engkau hanyalah sebagi wakil Allah dalam menggunakan harta tersebut, oleh karena itu nafkahkanlah harta tersebut pada hak-hak Allah”[7].
Dari uraian di atas, dapat dilihat sejauh mana tanggung jawab seorang muslim terhadap lingkungan sosialnya, di mana seorang muslim mempunyai dua kewajiban terhadap orang-orang miskin, yaitu:
Pertama: Apabila ia mampu atau mempunyai harta lebih, maka hendaklah menafkahkan sebagian hartanya atau memberi makan kepada orang miskin.
Kedua: Menganjurkan orang lain untuk memberikan makan terhadap mereka, sebagaimana yang diindikasikan oleh firman Allah swt:
(وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ)
“Dan ia juga tidak mendorong orang lain untuk memberi makan orang miskin”. Al-Haaqqah: 34.
Dengan demikian, seorang muslim diwajibkan memperhatikan lingkungan sosialnya, dengan mengulurkan pertolongan kepada sesamanya terutama orang yang memerlukan pertolongan. Sebab lingkungan muslim adalah lingkungan yang dilandasi oleh persaudaraan, solidaritas, saling kasih mengasihi. Dan tidak membiarkan saudaranya kelaparan sementara ia mampu untuk memberikannya makan, pakaian dan berbagai bentuk pertolongan lainnya.
Bentuk Kegiatan Sosial Dalam Ibadah Ramadhan.
Dalam hubungannya dengan bulan puasa Ramadhan, bentuk-bentuk aktiviti sosial hendaknya digalakkan dan digandakan dari bulan-bulan lainnya. Sebab bulan puasa dalam Islam merupakan bulan kebaikan, rahmat dan pengampunan (maghfirah). Oleh karena itu bulan puasa hendaknya dijadikan sebagai bulan sosial yang bisa menyelesaikan problematika sosial umat Islam terutama pengentasan kemiskinan.
Sudah menjadi naluri seorang muslim, ketika akan memasuki bulan puasa, benih-benih kesosialan akan muncul sendiri dari batin insan mukmin. Perasaan peka ini timbul tanpa diundang ataupun dipaksakan. Oleh karena itu, dalam bulan puasa ini kita akan menyasikan berbagai kegiatan sosial.
Di antara bentuk kegiatan sosial dalam bulan puasa adalah menyediakan buka puasa bersama, menyedekahkan harta, mempererat hubungan silaturrahim antara keluarga dan lain-lain.
Dari kegiatan sosial ini akan kelihatan jelas hakikat puasa bagi seorang muslim. Jika seorang muslim membiasakan diri memberi bantuan pada bulan puasa, maka hendaknya kebiasaan itu dilanjutkan pada bulan-bulan berikutnya. Dengan sikap seperti ini, sudah dapat dipastikan tercipta kebersamaan dan persatuan umat Islam untuk mengentaskan kemiskinan. Hal ini telah diindikasikan oleh sabda Rasulullah saw yang berbunyi:
(مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِي تَوَادّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى شَيْئًا تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهْرِ وَالْحُمَى)
“Kaum Muslimin dalam sikap saling kasih mengasihi, saling sayang menyayangi dan berlemah lembut antara mereka, bagaikan satu tubuh, jika salah satu anggota tubuhnya merasa sakit, maka anggota tubuh yang lainnya ikut juga merasakan sakit”[8]
Dengan demikian, seorang muslim dalam bulan puasa Ramadhan dapat memberikan harapan kehidupan yang optimis pada jiwa saudaranya yang hidup dalam kemiskinan.
Dalam konteks sosial umat islam saat ini, zakat perlu ditingkatkan, sebab zakat merupakan instrumen penting seorang mu’min. Karena zakat itu sendiri berada pada posisi kedua dari rukun Islam. Dan ini menandakan betapa pentingnya peranan zakat dalam Islam. Dan ini terbukti dari beberapa firman Allah swt, manakala perkataan shalat selalu bergandengan dengan perkatan zakat. Sebagai contohnya, di dalam al-Qur’an disebutkan:
(وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَآتُواْ الزَّكَاةَ وَارْكَعُواْ مَعَ الرَّاكِعِينَ)
Yang artinya: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku'.”. Al-Baqarah: 43.
(الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ)
Yang artinya: “(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka”. Al-Baqarah: 3.
(وَقُولُواْ لِلنَّاسِ حُسْناً وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَآتُواْ الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلاَّ قَلِيلاً مِّنكُمْ وَأَنتُم مِّعْرِضُونَ)
Yang artinya: “Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling“. (al-Baqarah: 83).
Dan masih banyak lagi ayat lain seperti: al-Baqarah: 110. an-Nisa’: 77. at-Taubah: 5, 11. al-Hajj: 41, 78. an-Nur: 56. al-Mujadilah: 13. al-Muzammil: 20. al-Anbiya: 73.
Dari sekian ayat di atas, pesan yang dapat ditangkap adalah bahwa zakat merupakan media komunikasi hamba dengan Allah. Di sampng itu zakat merupakan instrumen Allah kepada hambanya untuk memanusiawikan manusia.
Pada permulaan tulisan ini disebutkan bahwa salah seorang tokoh orientalis bernama Ricardo de Monte Croce, mengakui kemapanan dan kemampuan zakat dalam mengentaskan kemiskinan. Dan zakat merupakan bukti bahwa Islam sangat memperhatikan nasib orang miskin. Sebab zakat ini merupakan sarana pemerataan hidup dengan target meminimalkan angka kemiskinan.
Betapa tidak, seorang mukmin tatkala mengingkari kewajiban zakat ini akan digolongkan sebagai orang kafir. Sebab seorang muslim akan diukur nilai ketaatannya dalam mengamalkan Islam dari aspek zakat. Dalam artian, iman seseorang belum mencapai tahap kesempurnaan kalau belum mengeluarkan kewajiban zakatnya.
Kesimpulannya, bulan buasa ini adalah tempat mengasah kepedulian sosial umat Islam. Selama satu bulan menahan lapar dan dahaga dengan tujuan beribadah kepada Allah. Di samping itu, tersirat makna dan i’tibar kepada semua umat islam untuk ikut merasakan kehidupan orang lain yang tidak berkecukupan, sakit, pedih dan berbagai macam kesusahan hudup yang dihadapi oleh orang lain. Dan pada gilirannya, pengamalan zakat ini adalah dari umat untuk umat.
Wallahu A’lam.

Mensya'biyahkan al-Qur'an di bulan Sya'ban

Saat ini kita sudah berada di pekan terakhir bulan Sya'ban 1431 H. Dan sebentar lagi kita akan memasuki bulan suci Ramadhan 1431 H. Mungkin Ramadhan yang akan kita jelang nanti sudah menjadi Ramadhan yang ke sekian kalinya dalam hidup kita. Persiapan demi persiapan pun kita rancang dan program demi program pun kita buat. Semua itu kita lakukan dalam rangka untuk mengoptimalkan bulan suci ini dengan harapan ibadah shaum kali ini lebih baik, diterima oleh Allah dan memberikan atsar (pengaruh) yang awet dan mendalam setelah kita berpisah dengannya.

Namun, di balik rasa harap akan berjumpa Ramadhan nanti, ada beban yang tidak sedikit kita rasakan. Ini terutama ketika kita di bulan Sya'ban ini. Bagi orang muslim, persiapan bulan Ramadhan harus sudah dipikirkan matang-matang sejak bulan Rajab sebagai amal shaleh. Sabda Rasulullah saw yang berbunyi:

اللهم بارك لنا فى رجب وشعبان وبلغنا رمضان

"Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan." (HR. Baihaqi).

Hadits ini secara tersurat menyiratkan tentang tarhib Ramadhan agar kita mempersiapkan segala sesuatunya. Baik itu persiapan fisik, materi, pengetahuan, keluarga dan lain sebagainya. Karena untuk memanen pahala yang sangat besar itu, persiapan demi persiapan harus dipikirkan dengan matang dan jauh-jauh hari. Tidak usahlah kita mengukur diri dengan persiapan para sahabat menyambut bulan suci ini. Untuk urusan tarhib, para sahabat sudah terbiasa mempersiapkan diri jauh-jauh hari 6 bulan sebelum bulan Ramadhan. Subhanallah. Padahal kesibukan mereka sebagai penyebar dinul Islam dan dakwah demikian padat. Namun setidaknya suri tauladan mereka patut kita contoh melalui hadits tarhib di atas.

Ada satu hal yang mengagetkan kita dalam bulan Sya'ban ini. Mungkin hal ini memang sudah lumrah terjadi di setiap tahunnya di negara kita. Momentum menyongsong bulan Ramadhan di bulan Sya'ban ini malah menjadi 'hantu' yang menakutkan sekaligus memprihatinkan. Betapa tidak?!

Belum lagi kita memasuki bulan suci dengan segala keutamaan di dalamnya ini, kebutuhan hidup sudah mengusik kita. Terutama untuk urusan dan kebutuhan rumah tangga. Lihat saja, bagaimana harga-harga kebutuhan pokok sudah mulai merangkak naik. Dan naiknya pun tidak tanggung-tanggung, sampai 100 persen lebih. Begitu pula dengan TDL (Tarif Dasar Listrik) tidak kalah hebat kenaikannya. Dan seabrek harga kebutuhan asasi kita mengalami kenaikan yang nampaknya kurang logis dan tidak patut. Seakan semua kenaikan itu mencekik sebagian besar masyarakat yang berada pada taraf kehidupan ekonomi rendah dan pas-pasan.

Nampaknya, keindahan bulan Ramadhan yang gambarannya sudah ada dipelupuk mata akan tercoreng dengan bayang-bayang kenaikan kebutuhan ekonomi itu. Bayang-bayang yang terus menghantui kocek kebutuhan hidup, khususnya menjelang Ramadhan yang kita rindukan itu.

Yang pasti, Ramadhan akan menyapa kita. Siap ataupun tidak siap. Suka ataupun tidak suka. Karena kita adalah seorang muslim, yang bagi kita tamu agung ini merupakan tamu spesial untuk masa depan hidup kita di sisi Allah swt. Maka apapun yang akan kita hadapi berupa melambungnya kebutuhan pokok untuk memenuhi jahat kita, jangan sampai itu melemahkan semangat kita untuk tetap melakukan amal terbaik sepanjang Sya'ban ini.

Semangat Sya'ban adalah semangat sya'biyah untuk Ramadhan

Sya'ban sebagai bulan sebelum Ramadhan bukan sekedar bulan biasa. Bagi kita yang mengerti ajaran Islam, bulan ini akan menjadi bulan pelatihan yang paling baik menyongsong Ramadhan nanti.

Seperti namanya, selain sebagai nama bulan, Sya'ban juga berasal dari patahan kata sya'bun yang berarti memiliki cabang dan sya'b yang bermakna masyarakat sosial. Dengan kata lain bisa kita tarik hikmah lain, yakni bagaimana dalam bulan Sya'ban ini kita bisa bersosialisasi diri dan berkiprah di tengah-tengah masyarakat. Dalam arti yang luas. Di antaranya:

1. Kita melatih diri melakukan amal yang bersifat individu, seperti mengkondisikan diri melakukan ketaatan yang lebih intensif dan banyak. 

Sebab bisa jadi selama sebelas bulan kemarin kita sudah lupa dan banyak kekurangan di sana-sini. Baik itu ibadah shaum itu sendiri, sedekah, zakat, tilawah al-Qur'an, melatih kesabaran ataupun amal sholeh lainnya. Rasanya sangat wajar apabila kita jauh-jauh hari sudah membiasakan semua kebaikan dan membuat jam terbang melakukan ketaatan yang utama, seperti tilawah al-Qur'an yang sangat diperintahkan oleh baginda Rasulullah saw. Karena bulan Ramadhan ini adalah bulan al-Qur'an. Pada bulan ini Allah menurunkan kitab suci-Nya kepada beliau saw. Wajar saja apabila kita memberikan porsi yang lebih untuk ibadah tilawah al-Qur'an dan memahaminya.

Allah berfirman:

شهر رمضان الذين أنزل فيه القرآن هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان

Artinya: "Bulan Ramadhan adalah (bulan) diturunkannya al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan dari petunjuk dan (sebagai) furqon (yang baik dari yang buruk).."(Qs al-Baqoroh: 185).

2. Melatih diri untuk melakukan amal yang bersifat jama'i atau publik (sosial).

Karena bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa, layak saja apabila kita isi ia dengan berbagai amal yang utama dan memberikan kemaslahatan dan kepentingan yang luas. Terutama amal yang kebaikan dirasakan langsung kepada orang lain.

Dan ini harus dilatih sejak dini dan dimulai dari sekarang. Buang jauh-jauh kita akan memperoleh kebaikan yang berlipat ganda dari bulan suci nanti jika kita tidak peduli dengan sekitar kita. Sebab amal sosial yang kebaikannya merata dan dirasakan khayalak lebih besar pahala di sisi Allah daripada amal individu. Demikian pula dengan keburukan yang dilakukan. Semuanya akan dihitung di sisi Allah swt.

Cukuplah dalam hal ini Rasulullah menjadi suri tauladan kita dalam mengisi bulan Ramadhan. Demikian pula potret amal ibadah para sahabat. Mereka sangat menanti bulan mulia itu dan menangis ketika harus berpisah dengannya.

Bulan Sya'ban untuk mensya'biahkan al-Qur'an

Akan lebih baik lagi jika kita sadar akan peran al-Qur'an dalam bulan Ramadhan nanti. Nah, untuk melatih diri mempersiapkan diri di bulan Sya'ban ini, maka ada baiknya setiap kita, muslim dan muslimah memperhatikan bekal apa yang ia sudah siapkan untuk menjadwalkan diri mengkhatamkan al-Qur'an nanti. Di sebagian masyarakat kita, tarhib Ramadhan dalam bentuk ceramah-ceramah biasanya 'mengkampayekan' upaya pengkajian al-Qur'an dalam bentuk amalan rill, seperti dauroh al-Qur'an (training) mempelajari al-Qur'an dan memahami isinya.

Namanya juga bulan Sya'ban yang berarti sya'biah (atau memasyarakat), maka amatlah pantas apabila kita bisa memulai memasyarakat pembelajaran al-Qur'an di tengah-tengah umat. Malah ibadah yang satu ini begitu mendapat perhatian lebih dari Rasulullah saw dan generasi para sahabatnya. Diriwayatkan dalam siroh, bahwa saat Ramadhan rumah-rumah para sahabat ramai dengan suara lantunan ayat-ayat al-Qur'an setiap saat. Betapa semangat mereka mengkhatamkan terlihat dari rumah-rumah mereka yang sederhana.

Demikian pula dengan kajian-kajian lainnya yang bersifat penambahan pengetahuan tentang Islam dan ajarannya. Kemudahan-kemudahan yang kita rasakan pada bulan Sya'ban saat ini Insya Allah menandakan kesiapan kita menyambut tamu agung itu.

Mari kita budayakan tradisi tilawah al-Qur'an, mengkaji isinya, memahami kandungannya dan mengamalkan ajarannya. Mari kita ganti kegiatan yang bersifat hura-hura dan membuang-buang waktu dengan membaca buku-buku yang berkenaan dengan amaliyah Ramadhan. Mumpung kita masih berada di bulan Sya'ban. Insya Allah, amal ibadah Ramadhan yang akan kita isi tidak sia-sia dan memberikan dampak kebaikan buat diri kita masing-masing, Amiin..

Sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan, Ya Allah..Amiin Ya robbal a'lamin.

Wallahu a'lam bish-showab

(Hidayatullah, Lc al-Hafiz)

Menceritakan Nikmat yang didapat

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu (Muhammad) siarkan“. (Ad-Dhuhaa: 11)
Tahadduts bin ni’mah merupakan istilah yang sudah lazim dipakai untuk menggambarkan kebahagiaan seseorang atas kenikmatan yang diraihnya. Atas anugerah itu ia perlu menceritakan atau menyebut-nyebut dan memberitahukannya kepada orang lain sebagai implementasi rasa syukur yang mendalam. Perintah untuk menceritakan dan menyebut-nyebut kenikmatan pada ayat di atas, pertama kali memang ditujukan khusus untuk Rasulullah saw. Namun, perintah dalam ayat ini tetap berlaku umum berdasarkan kaedah “amrun lir Rasul Amrun li Ummatihi” (perintah yang ditujukan kepada Rasulullah, juga perintah yang berlaku untuk umatnya secara prioritas).
Ibnu Katsir mengemukakan dalam kitab tafsirnya, berdasarkan korelasi ayat per ayat dalam surah Ad-Dhuha, “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberimu petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Oleh karena itu, siarkanlah segala jenis kenikmatan tersebut dengan memujinya, mensyukurinya, menyebutnya, dan menceritakannya sebagai bentuk i’tiraf (pengakuan) atas seluruh nikmat tersebut.”
Para ulama tafsir sepakat bahwa pembicaraan ayat ini dalam konteks mensyukuri nikmat yang lebih tinggi dalam bentuk sikap dan implementasinya. Az-Zamakhsyari, misalnya, memahami tahadduts bin ni’mah dalam arti mensyukuri segala nikmat yang dianugerahkan oleh Allah dan menyiarkannya. Lebih luas lagi Abu Su’ud menyebutkan, tahadduts bin ni’mah berarti mensyukuri nikmat, menyebarkannya, menampakkan nikmat, dan memberitahukannya kepada orang lain.
Dalam konteks itu, Ibnul Qayyim dalam bukunya Madrijus Salikin mengemukakan korelasi makna antara memuji dan menyebut nikmat. Menurut beliau, memuji pemberi nikmat bisa dibagikan dalam dua bentuk: memuji secara umum dan memuji secara khusus. Memuji secara umum adalah dengan memuji sang pemberi nikmat sebagai yang dermawan, baik dan luas pemberiannya. Sedangkan memuji yang bersifat khusus adalah dengan memberitahukan dan menceritakan kenikmatan tersebut. Sehingga tahadduts bin ni’mat merupakan bentuk tertinggi dari memuji Allah Zat Pemberi nikmat.
Berdasarkan makna ayat di atas, mayoritas ulama salaf menganjurkan agar memberitahukan kebaikan yang dilakukan oleh seseorang jika ia mampu menghindarkan diri dari sifat riya’ dan agar bisa dijadikan contoh oleh orang lain. Sehingga secara hukum, tahadduts bin ni’mah dapat dibagi kepada dua kategori: jika terhindar dari fitnah riya’, ujub, dan tidak akan memunculkan kedengkian pada orang lain, maka sangat dianjurkan untuk menyebut dan menceritakan kenikmatan yang diterima oleh seseorang.
Namun, jika dikhawatirkan akan menimbulkan rasa dengki, dan untuk menghindarkan kerusakan akibat kedengkian dan tipu muslihat orang lain, maka menyembunyikan nikmat dalam hal ini bukan termasuk sikap kufur nikmat. Lebih tegas Imam Asy-Syaukani berpendapat bahwa tahadduts bin ni’mah bukan termasuk bagian dari tafaakhur (berbangga-bangga) maupun takabbur yang sangat dibenci oleh Allah swt. seperti dalam firmanNya, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (Luqman: 18)
Tahadduts bin ni’mah dalam konteks yang lebih luas, tidak hanya atas kenikmatan materi yang diterima seseorang. Atas kesungguhan beribadah dan taufiq untuk menjalankan amal shalih juga layak dan tidak ada salahnya untuk diceritakan dan diberitahukan kepada orang lain. Ini sebagai sebuah ungkapan rasa syukur dan agar bisa ditiru serta dijadikan contoh. Namun, tentu kepada mereka yang diharapkan mengikuti kebaikan dan amal shalih tersebut.
Al-Hasan bin Ali mengemukakan pernyataannya tentang hal itu, “Jika engkau mendapatkan kebaikan atau melakukan kebaikan, maka sebutlah dan ceritakanlah di depan saudaramu yang kamu percayai bahwa ia akan mengikuti jejak yang baik tersebut.” Kebiasaan seperti ini pernah dilakukan oleh Abu Firas, Abdullah bin Ghalib, seperti yang dituturkan oleh Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya, “Setiap kali aku bangun pagi, aku biasa menyebut amal yang aku lakukan di malam hari; aku sholat sekian, berdzikir sekian, membaca Al-Qur’an sekian dan sebagainya.” Ketika para sahabatnya mempertanyakan yang dilakukan oleh Abu Firas termasuk dalam kategori riya’, dengan tenang ia menjawab, “Allah memerintahkan dalam ayat-Nya untuk menceritakan kenikmatan, sedangkan kalian melarang untuk menyebut kenikmatan?”
Di sini sangat jelas bahwa tahadduts bin ni’mah merupakan salah satu kendali agar tidak terjerumus ke dalam kelompok yang dikecam oleh Allah karena menyembunyikan nikmat dan mengingkarinya serta tidak mengakui anugerah tersebut berasal dari Allah swt. Allah berfirman, “Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.” (An-Nahl: 83).
Tentang penduduk Negeri Saba’ yang ingkar dan enggan mensyukuri nikmat, Allah menggambarkan akhir kehidupan mereka yang mendapat azab. “Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” (Saba’: 15-17)
Dalam beberapa hadits Rasulullah dinyatakan bahwa Tahadduts dengan kenikmatan yang diraih merupakan salah satu dari impelemtasi syukur seorang hamba kepada Sang Pemberi nikmat, yaitu Allah. Dalam hal ini, At-Tirmidzi menukil sebuah hadits yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa ia berkata, “Barangsiapa yang diberi kebaikan (kenikmatan), hendaklah ia membalasnya; Jika ia tidak punya sesuatu untuk membalasnya, hendaklah ia memuji pemberinya. Karena sesungguhnya apabila ia memuji berarti ia telah mensyukuri dan berterima kasih kepadanya. Akantetapi, jika ia menyembunyikannya, berarti ia telah mengingkari kebaikannya.” Dalam hadits lain dijelaskan masing-masing bentuk implementasi syukur secara lebih terperinci:
عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ :قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ مَنْ لَمْ يَشْكُرْ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرْ الْكَثِيرَ وَمَنْ لَمْ يَشْكُرْ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرْ اللَّهَ التَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللَّهِ شُكْرٌ وَتَرْكُهَا كُفْرٌ وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ
Dari An-Nu’man bin Basyir berkata, “Rasulullah saw. berkhutbah di atas mimbar menyampaikan sabdanya: ‘Barangsiapa tidak mensyukuri yang sedikit, berarti tidak bisa mensyukuri yang banyak. Barangsiapa tidak berterima kasih kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah. Sesungguhnya menyebut-nyebut nikmat Allah adalah bersyukur dan meninggalkannya adalah kufur. Bersatu akan membawa rahmat dan bercerai-berai akan mendatangkan adzab’.” (Musnad Imam Ahmad, no. 17721)
Adalah anugerah Allah jika kita diberi kemampuan dan taufiq untuk senantiasa mensyukuri segala nikmatNya. Al-Hasan Al-Basri pernah berpesan, “Perbanyaklah oleh kalian menyebut-nyebut nikmat, karena sesungguhnya menyebut-nyebutnya sama dengan mensyukurinya.” Memang memperlihatkan kenikmatan merupakan sesuatu yang sangat dipuji oleh Allah karena Allah sangat cinta kepada hambaNya yang diberi nikmat lantas ia menampakkan atau memperlihatkan nikmat tersebut dalam sikap atau penampilan.
Rasulullah pernah menegur seorang sahabat yang berpenampilan jauh dan bertentangan dengan kenikmatan yang diterimanya. Seperti yang dikisahkan oleh Imam Al-Baihaqi bahwa salah seorang sahabat pernah datang menemui Rasulullah saw. dengan berpakaian lusuh dan kumal serta berpenampilan yang membuat sedih orang yang memandangnya. Melihat keadaan demikian, Rasulullah bertanya, “Apakah kamu memiliki harta?” Sahabat tersebut menjawab, “Ya, Alhamdulillah, Allah melimpahkan harta yang cukup kepadaku.” Maka Rasulullah berpesan, “Perlihatkanlah nikmat Allah tersebut dalam penampilanmu.” (Syu’abul Iman, Al-Baihaqi)
Mudah-mudahan kenikmatan yang semakin banyak mengalir mewarnai kehidupan kita, mampu kita jadikan sebagai modal untuk memperkuat dan memperbaiki semangat pengabdian kita kepada Allah dalam bentuk amal sholeh yang diridhoiNya. Tahadduts bin ni’mah yang kita lakukan semata untuk mendapatkan perhatian Allah, bukan perhatian dan pujian dari manusia. Namun begitu, harapan dari tahadduts bin ni’mah tersebut semoga akan bisa membangkitkan semangat orang lain untuk sama-sama menghadirkan kebaikan dan kemaslahatan pada bangsa tercinta ini.

Dr. Attabiq Lutfi, MA

Kamis, 05 Agustus 2010

Mengenal Dr. Sayyid Nuh

Beliau adalah pengarang silsilah buku Afat ala Toriq (halangan di jalan dakwah) dan banyak lagi karangan-karangan lain yang berharga di dalam bidang dakwah. Beliau adalah seorang ulama’ hadis dan aktivis dakwah jemaah Ikhwan Muslimin kelahiran Mesir. Lahir di Mahallah Kubra dari keluarga petani dan menuntut di al-Azhar sehingga ke peringkat PhD.
Ulama’ lulusan Kuliah Usuluddin, Universiti al-Azhar ini mendapat ijazah pertamanya pada tahun 1971. Pada tahun 1973 beliau berjaya meraih kejayaan cemerlang mendapat ijazah Sarjana dengan tesis bertajuk ‘Perkahwinan Rasulullah s.a.w. dengan Zainab binti Jahsy; menolak tohmahan sekitar perkahwinan itu berdasarkan manhaj golongan muhadissin’. Seterusnya berjaya mendapat ijazah Doktor Falsafah dengan tesis bertajuk ‘Al-Hafiz Abu al-Hajjaj Yusof al-Mazzi dan kesungguhannya di dalam penulisan Tahzib al-Kamal’.
Menjadi pensyarah ilmu hadis di Universiti al-Azhar sebelum bertugas sebagai pensyarah pelawat di Universiti Qatar pada 1981-1982. Selepas itu beliau bertugas di Emirate di Universiti Emirate mulai tahun 1982 sehingga 1991. Subjek yang diajarnya pada kali ini adalah tafsir dan hadis. Pada tahun 1991-1993 bertugas di Kuliah Perubatan Dubai. Pada 1993 pula beliau berpindah ke Kuwait, menjadi pensyarah di Kuliah Syariah dan mengajar subjek hadis sebelum menjadi Ketua Jabatan Tafsir dan Hadis di Universiti Kuwait. Menyelia banyak tesis Master dan PhD.
Aktif dengan tugasannya di universiti selain aktif menjadi khatib di masjid-masjid. Aktif juga menyampaikan pengajian bersiri di radio Kuwait bertajuk ‘Usaha ulama’ Islam di dalam bidang hadis’. Selain dari itu beliau adalah salah seorang penulis yang aktif untuk majalah Mujtama’ dan Wa’yu Islami (kedua-dua majalah ini adalah antara majalah yang paling luas pasarannya di negara-negara Arab). Banyak kali dijemput untuk memberikan ucapan dan membentangkan kertas kerja di dalam mu’tamar dan nadwah. Mengajar secara tetap di beberapa buah pertubuhan bukan kerajaan di Kuwait.
Dr. Sayyid Nuh sememangnya seorang penulis yang hebat yang menghasilkan lebih dari 20 buah buku. Di antara buku tulisannya yang menjadi rujukan penting anggota Ikhwan Muslimin adalah silsilah ‘Halangan-halangan di jalan dakwah’, silsilah ‘Petunjuk Nabi di jalan dakwah’, ‘Peribadi muslim di antara sifat fardiah dan sifat jama’ieah’ dan ‘Dakwah fardiah berdasarkan manhaj Islam’.
Pada 30 Julai 2007 yang lepas, Dr. Sayyid Nuh telah meninggalkan kita semua setelah menderita sakit selama beberapa tahun. Pemergian Dr. Sayyid Nuh sama seperti yang digambarkan oleh hadis Rasulullah s.a.w.: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan cara menghilangkannya dari manusia. Sebaliknya Allah mencabut ilmu dengan cara mematikan para ulama’.”
Di akhir hayatnya Allah menguji beliau dengan penderitaan bengkak hati dan kanser. Beliau menceritakan kepada kita kisahnya dengan kata-katanya:
“Pada satu malam daripada malam-malam kesakitan, saya berdoa kepada Allah agar Allah melepaskan saya dari penderitaan ini dan memberikan saya kerehatan tidur. Ketika saya berdoa, tiba-tiba mengantuk menguasai saya. Beberapa orang datang kepada saya. Saya mendengar suara mereka tetapi tidak dapat melihat mereka. Mereka berkata kepada saya: “Tidurlah.” Saya benar-benar tertidur selama setengah jam. Apabila saya bangun kembali, saya berasa seolah-olah saya sudah tidur selama beberapa hari. Ini adalah pemberian Allah dengan keberkatan doa di tengah malam.
Saya berada di ICU selama seminggu. Apa yang menggusarkan saya adalah ‘apa yang akan saya katakan kepada Allah esok. Saya cuai menjaga tubuh badan dan kesihatan sehingga membawa kepada keadaan yang menakutkan ini. Bahkan saya amat takut jika Allah menghukum saya sehingga saya tidak mampu mengucapkan dua kalimah syahadah ketika di ambang maut, lalu saya akan kerugian dunia dan akhirat.
Beberapa kali saya merayu Allah agar mengampunkan saya dan mengakhiri hayat saya dengan iman. Saya memberikan satu janji kepada Allah bahawa jika saya disembuhkan pada kali ini, saya akan menjadikan penjagaan tubuh badan dan kesihatan saya di tempat-tempat utama di samping perkara-perkara lain di dalam hidup saya. Dengan itu saya akan melaksanakan keseimbangan dan penyempurnaan yang diseru oleh syariat.
Saya teringat kembali bahawa saya pernah menyeru manusia betapa perlunya mereka mencurahkan sehabis tenaga untuk memenuhi tuntutan sunnah alam dan jiwa. Allah akan memberikan alam kepada sesiapa yang menuntutnya dengan sungguh-sungguh. Orang bukan Islam telah menuntutnya. Manakala hanya sebahagian kecil sahaja dari orang Islam yang menuntutnya. Allah memberikan dunia kepada orang bukan Islam. Majoriti umat Islam hanya berdiam diri maka Allah tidak memberikan dunia kepada mereka. Mereka bergantung kepada orang bukan Islam di dalam urusan dunia. Allah memberi hidayah kepada sesiapa yang dikehendakiNya dan menyesatkan sesiapa yang dikehendakiNya. KepadaNyalah kembali semua urusan.
Saya mendapatkan rawatan di Pusat Rawatan Hati di Mesir. Ia dipilih kerana pusat itu mempunyai kerjasama dengan doktor-doktor pakar dari Jepun dan Eropah. Sebuah pusat rawatan membina nama dan kedudukannya melebihi pusat rawatan yang lain dengan kerjasama doktor-doktor asing!!! Alangkah ruginya dan alangkah menyayat hati ketika melihat umat pemimpin kemanusiaan sampai di tahap ini, sedangkan doktor-doktor asing itu sebenarnya mempelajari ilmu perubatan dari Andalus.
Adakah Mesir mandul? Adakah negara Arab juga mandul? Adakah seluruh negara Islam mandul dan tidak mampu melahirkan pakar-pakar perubatan gergasi di dalam bidang pembedahan hati? Adakah ini semua berpunca dari kedunguan anak-anak umat ini? Adakah ini berpunca dari kekurangan peralatan dan material untuk melakukan pembedahan? Bayangkan! Ia tidak berpunca dari itu atau ini.
Ianya berpunca dari perpecahan yang menimpa umat pada peringkat antarabangsa dan tempatan, pada peringkat kerajaan dan rakyat. Ditambah dengan kelemahan iman dan penguasaan cinta dunia pada sebahagian besar umat ini. Setiap orang berkata: “Diriku. Diriku.” Ia juga berpunca daripada kelemahan pimpinan dan kesibukan mereka dengan dunia mereka. Dunia melalaikan mereka dari menjaga maslahat umat dan memberikan penghormatan kepada ulama’ serta memberikan galakan kepada mereka.”
Beliau amat mengambil berat isu-isu umat Islam. Di akhir hayatnya di Kuwait, beliau telah memberikan wasiat kepada anak-anaknya dan rakan-rakan dakwah yang menziarahinya di saat-saatu akhir kehidupannya. Topik yang menjadi pilihan beliau untuk diisi di dalam wasiat ini adalah al-Quds menunjukkan betapa isu umat menjadi kerunsingannya sehingga ke saat akhir hayatnya.
“Saya berlindung dengan Allah dari syaitan yang direjam. Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Mengasihani. Segala puji bagi Allah, Tuhan sekelian alam. Saya naik saksi bahawa tiada tuhan melainkan Allah, Penolong orang-orang soleh. Saya naik saksi bahawa Muhammad adalah penghulu para Nabi dan ketua golongan muttaqin. Ya Allah, selawat dan salam dan berkatilah Muhammad, Nabi yang buta huruf, seluruh keluarganya, seluruh sahabatnya, orang-orang yang melalui jalannya dan para pendakwah sehingga ke hari kiamat.
Saya mengalu-alukan salam Islam kepada kamu semua wahai saudara-saudaraku. Ia adalah salam dari Allah. Ia adalah salam yang baik dan diberkati. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Saya menasihatkan diri saya dan diri kamu. Marilah kita memuji Allah atas kemuliaan yang Allah kurniakan kepada kita dan kedudukan yang Allah letakkan kita di atasnya.
Beruntunglah kita kerana Allah menjadikan kita saksi kepada keesaan dan kesempurnaanNya selepas persaksianNya dan persaksian malaikatNya.
“Allah menjadi saksi (kepada sekalian makhlukNya dengan dalil-dalil dan bukti), bahawasanya tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang sentiasa mentadbirkan (seluruh alam) dengan keadilan, dan malaikat-malaikat serta orang-orang yang berilmu (mengakui dan menegaskan juga yang demikian); tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia; Yang Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.” (Aali Imran: 18).
Beruntunglah kita kerana hanya kita sahaja yang diikiraf oelh Allah sebagai golongan yang takutkanNya.
“…sebenarnya yang menaruh bimbang dan takut (melanggar perintah) Allah dari kalangan hamba-hambaNya hanyalah orang-orang yang berilmu. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, lagi Maha Pengampun.” (Fathir: 2 8)
Beruntunglah kita “… Allah meninggikan darjat orang-orang yang beriman di antara kamu, dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan agama (dari kalangan kamu) - beberapa darjat. dan (ingatlah), Allah Maha mendalam pengetahuannya tentang apa yang kamu lakukan.” (Al-Mujadilah: 11)
Ini semua kita perolehi kerana kita menunaikan amanah yang Allah campakkan ke atas kita.
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan dari keterangan-keterangan dan petunjuk hidayah, sesudah Kami menerangkannya kepada manusia di dalam Kitab suci, mereka itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh sekalian makhluk. Kecuali orang-orang yang bertaubat, dan memperbaiki (amal buruk mereka) serta menerangkan (apa yang mereka sembunyikan); maka orang-orang itu, Aku terima taubat mereka, dan Akulah Yang Maha Penerima taubat, lagi Maha Mengasihani.” (Al-Baqarah: 159-160)
Al-Aqsa adalah amanah di atas leher umat ini bermula sejak peristiwa Rasulullah s.a.w. isra’ dan mikraj. Ia adalah amanah yang kita tanggung dan kita masih menanggungnya. Sebarang kecuaian di dalam amanah ini akan membuka pintu kejahatan yang tiada batasnya di dunia. Ada pun di akhirat kita akan ditanya oleh Tuhan, Empunya segala kemuliaan tentang ilmu yang kita ketahui dan kewajipan kita terhadap al-Aqsa.
“Demi Tuhanmu! Kami akan menyoal mereka semuanya (pada hari kiamat kelak) terhadap apa yang mereka ketahui.” (Al-Hijr: 92).
Sabda Rasulullah s.a.w.: “Tidak akan berganjak kedua-dua kaki seorang hamba di hari kiamat sehingga ditanya tentang empat perkara; Tentang umurnya ke mana dihabiskan? Tentang masa mudanya ke mana dihabiskan? Tentang hartanya dari mana hasilnya dan ke mana dibelanjakan? Tentang ilmunya apa yang diamalkan dari ilmu itu.” (Riwayat Tobroni)
Saya berharap agar kamu meletakkan perhitungan terhadap apa yang akan saya katakan. Saya tahu kamu mengetahuinya tetapi saya hanya ingin mengingatkan sahaja.
Saya mengingatkan kamu semua tentang kewajipan menerangkan kepada manusia nilai al-Aqsa, kedudukannya di dalam jiwa umat dan kewajipan umat terhadapnya. Jangan jemu jika kamu terpaksa memberikan ceramah sekali atau dua kali atau tiga kali, khutbah sekali atau dua kali atau tiga kali dan kelas pengajian sekali atau dua kali atau tiga kali. Apa yang penting adalah kamu mesti bersungguh-sungguh menerangkan isu ini sehingga manusia mengetahui nilai al-Aqsa.
Kamu mesti menerangkan kepada manusia bahaya yang menunggu jika kita kehilangan al-Aqsa dan Palestin. Pintu kejahatan akan terbuka. Negara, harta, jiwa dan maruah umat Islam akan dicabuli di hadapan musuh perampas yang tidak akan merahmati sesiapa pun. Umat Islam mesti memahami bahaya tersebut. Selagi mana mereka tidak memahaminya, mereka tidak akan bergerak dan tidak akan bangun menunaikan tanggungjawab mereka.
Perlu disedarkan para pemerintah. Mereka adalah orang-orang yang bertanggungjawab sepenuhnya terhadap diri mereka dan diri anak-anak umat ini dan terhadap bumi yang suci. Tanggungjawab mereka berat di hari kiamat nanti. Mereka perlu bersegera menunaikan tanggungjawab ini. Kita perlu mengingatkan mereka bahawa walau pun mereka berlembut dan berdiplomasi dengan musuh dan mengorbankan agama ini, akhirnya mereka akan dipijak juga oleh kaki musuh. Itu yang akan berlaku selagi mana mereka tidak kembali kepada agama Allah dan tidak berusaha untuk memelihara bumi yang suci ini.
Saudara-saudara kita mesti berkata kepada umat Islam: “Tunjukkan kemarahan anda sekarang.” Jika kemarahan ini tidak ditunjukkan sekarang, bila ianya akan ditunjukkan? Demonstrasi adalah hak yang dibenarkan bagi semua bangsa di dunia. Umat Islam mesti menunjukkan kemarahan mereka. Bukan sekadar emosi yang akan mati selepas sehari dua, tetapi kemarahan yang didasari oleh hujah dan bukti. Kita akan terus teguh begini sehinggalah para pimpinan sedar dan akan bangkitlah orang-orang yang tidur, pemalas dan manusia yang lalai dari kalangan umat ini memainkan peranan mereka. Demi Allah jika kita berterusan menunjukkan pendirian kita dan berdiri teguh, tidak ada jalan lain bagi musuh selain dari mengubah pendirian mereka. Musuh ini tidak akan mampu dikalahkan kecuali dengan kekuatan. Inilah kekuatan yang terbesar. Kekuatan ini melebihi kekuatan peluru berpandu dan bom. Umat mesti berdiri teguh. Musuh akan tahu dengan siapa mereka berhadapan dan berinteraksi jika umat menunjukkan kemarahannya.
Kita juga perlu mengingatkan umat tentang kewajipan mereka memberikan sumbangan kewangan untuk membangunkan kawasan ini dan sebagai duit sara hidup pejuang-pejuang yang mempertahankannya. Di sana terdapat sekelompok manusia yang mana bangun dan tidur mereka tidak ada perkara lain yang mereka fikirkan kecuali untuk mempertahankan al-Aqsa dengan jasad dan ruh mereka. Kepentingan peribadi mereka terabai. Tiada apa yang mereka lakukan untuk anak-anak dan keluarga mereka. Semua ahli keluarga bersabar menanggungnya dan berkorban untuk itu. Mereka memerlukan wang. Kita perlu mengingatkan umat tentang kewajipan mereka untuk memberi sumbangan kewangan. Bahkan sebenarnya ia bukan sumbangan, sebaliknya ia adalah kewajipan kewangan. Sesungguhnya setiap orang Islam wajib mempertahankan agama Allah dengan dua perkara; nyawanya dan hartanya. Jika dia tidak mampu mempertahankan dengan nyawanya, lakukanlah denga hartanya dan gantikanlah bahagian nyawa tersebut dengan sumbangan tambahan harta yang lain. Dengan itu wajib ke atasnya dua bahagian; bahagian harta yang sepatutnya dan bahagian harta yang menggantikan bahagian nyawanya.
Mereka perlu mengingatkan semua orang Islam agar berdoa. Ambillah satu malam dari seminggu. Duduklah dan berdoa kepada Allah. Samada kanak-kanak atau orang tua. Samada orang-orang yang sihat atau orang-orang yang sakit, orang tua dan uzur. Berkumpullah selepas berbuka puasa. Selepas itu mereka solat dan berdoa moga Allah mengeluarkan umat dari bencana ini dan moga musuh Allah yang menyangka bahawa mereka raja dunia dan segala isinya serta lupa kekuatan Allah akan menerima balasannya
“Dan bahawa sesungguhnya, Dialah yang membinasakan kaum Aad yang pertama (kaum Nabi Hud).” (Al-Najm: 50).
Ayat ini menunjukkan adanya kaum Aad kedua, ketiga dan keempat. Allah maha berkuasa atas segala sesuatu.
“Adapun kaum Aad, maka mereka berlaku sombong takbur di muka bumi dengan tiada sebarang alasan yang benar, serta berkata: “Siapakah yang lebih kuat dari kami?” dan (mengapa mereka bersikap demikian?) tidakkah mereka memerhatikan bahawa Allah yang menciptakan mereka (dari tiada kepada ada) adalah lebih besar kekuatanNya dari mereka? dan sememangnya mereka sengaja mengingkari tanda-tanda kekuatan Kami (sedang mereka sedia mengetahuinya).” (Fushilat: 15)
Saya berdoa kepada Allah wahai saudara-saudara sekelian agar kalimat ini memberikan manfaatnya. Moga-moga Allah menerima amalan kita, memaafkan kesalahan dan mengampunkan segala dosa.
Saya sudahi kata-kata ini dan saya memohon ampun dari Allah bagi diri saya dan kamu semua. Selawat dan salam ke atas Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Segala puji bagi Allah. Moga-moga Allah membalas kebaikan kepada kamu semua.”